Rabu, 19/11/2014

Water Park, Siasat Jitu Pengembang Dongkrak Recurring Income

-jktproperty.com
Share on: Facebook 3227 Views
Water Park, Siasat Jitu Pengembang Dongkrak <em>Recurring Income</em>
Foto: Ilustrasi Waterboom Bali
WATER PARK: Pengembang melihat water park sebagai alternatif pendapatan berulang (recurring income) yang potensial bagi perusahaan. Namun, membangun water park jangan hanya sekadar latah, tapi harus dilakukan profesional.

TAK SEDIKIT pengembang di Indonesia, terutama pengembang skala township alias kota mandiri yang membangun water park atau theme park di lokasi proyek huniannya. Sebut saja BSD City (Sinarmas Land Group), Ciputra Group, Bakrieland Group atau Lippo Cikarang (Lippo Group) yang bisa disebut sebagai pengembang kota mandiri yang memelopori water park di Indonesia.

Pekan lalu  Sinarmas Land kembali me-launch water park-nya di Grand Wisata Bekasi seluas 7,5 hektar yang diberi nama Go! Wet Water Park. Bukan hanya didominasi pengembang skala kakap, pengembang di level menengah seperti ISPI Group pun juga gencar membangun water park. Di Cikarang ISPI membangun Matador, water park yang berlokasi di samping Hotel Whiz Prime, di kawasan Cifest Walk Cikarang.

Ada satu hal membanggakan, dimana pertengahan tahun ini TripAdvisor memberikan penghargaan “Travelers’ Choice” untuk 10 water park terbaik di Asia. Hebatnya, tiga water park yang ada di Indonesia masuk dalam 10 daftar water park terbaik di Asia, yakni Waterboom Bali di Kuta, Waterboom PIK Jakarta dan Circus Waterpark Kuta.

Aksi pengembang membangun water park bukan latah semata. Saya bahkan mau menyebutnya sebagai sebuah siasat jitu untuk mendongkrak pendapatan berulang (recurring income). Bagaimana tidak? Data yang diperoleh dari satu pengembang mengungkapkan pengoperasian water park-nya menghasilkan Rp20 miliar-Rp25 miliar per tahun. Persentase dari total pendapatan perusahaan memang relatif kecil alias tak sampai 5%. Namun jumlah itu cukup signifikan untuk membantu operasional roda perusahaan agar terus berputar.

Bisnis water park sendiri muncul seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk dan minimnya sarana hiburan dan rekreasi untuk keluarga yang dikelola secara profesional. Artinya, meskipun fokus target market sebuah water park di kawasan hunian adalah penduduk di kawasan hunian tersebut, pengembang perlu memiliki strategi perencanaan yang jelas untuk water park yang akan dibangunnya. Sebab kalau banyak pengembang membangun water park, persaingan akan kian ketat dan tak menutup kemungkinan penduduk di kawasan permukiman A akan mendatangi water park di kawasan permukiman B lantaran water park di kawasan permukiman A tidak dikelola secara baik.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan adalah visi dalam membangun water park. Apakah pengembang hanya sekadar ‘latah’ mengikuti kisah sukses pengembang lain yang lebih dulu membangun water park? Atau adanya kesadaran yang tinggi bahwa penduduk di permukiman yang dibangunnya memerlukan sarana rekreasi yang dikelola secara profesional? Bila hanya sekadar latah, sebaiknya urungkan membangun water park karena investasi sebuah water park dengan kualitas baik pastinya lumayan mahal.

Sebagai gambaran untuk water park dengan luas di bawah 2 hektar (skala kecil), investasi diperkirakan mencapai minimal Rp8,5 miliar-Rp12,5 miliar. Untuk ukuran mediaum, 2-3 hektar, biaya investasinya diperkirakan Rp15 miliar-Rp35 miliar sedangkan untuk ukuran besar di atas 3 hektar, investasinya diperkirakan di atas Rp35 miliar tergantung dari wahana rekreasi yang akan disajikan untuk pengunjung.

Pengembang yang punya visi membangun water park, apalagi mereka yang memiliki lahan di atas 3 hektar, tentu akan memperhitungkan kemungkinan mengembangkan area water park-nya, karena ini memang bisnis yang sangat menggiurkan. Mereka juga memiliki konsep masterplan yang jelas yang memberikan acuan dalam pelaksanaan pembangunan konstruksi.

Biasanya untuk proyek rekreasi taman air ini ada tiga tahapan pengembangan, yakni konstruksi jangka pendek (5 tahun), konstruksi jangka menengah (10-15 tahun) dan konstruksi jangka panjang (di atas 20 tahun). Pengembang juga perlu memiliki acuan yang tertuang dalam tahap tahap-tahap pembangunan sebuah water park. Dengan konsep yang jelas, maka pengembang tak perlu repotmemikirkan lagi konsep konsep atau tema wahana yang akan ditambah di masa mendatang. Masterplan yang ada juga membuat pembangunan water park tidak tumpang tindih atau bongkar pasang konstruksinya yang sangat mengganggu kenyamanan pengunjung. Paling tidak hal itu bisa diminimalisir.

Keuntungan lain dari memiliki desain masterplan adalah memberikan nuansa dan wahana baru kepada pengunjung sehingga mereka tidak bosan untuk kembali berekreasi di water park yang dibangun. Pengembang bisa saja mengatur ritme pembangunan 2-3 tahun dengan menghadirkan wahana baru. Ini kalau memang pengembang yang membangun water park di kawasan huniannya memiliki visi ke depan, membangun water park dengan kualitas yang baik sehingga mampu mendongkrak recurring income bagi perusahaan dan tak sekadar latah-latahan. Deddy H. Pakpahan