Rabu, 21/03/2012

Tony Eddy: Hotel di Bali Masih Prospektif

-jktproperty.com
Share on: 811 Views
Tony Eddy: Hotel di Bali Masih Prospektif

JAKARTA: Penelitian yang dilakukan Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata bersama dengan Universitas Udayana terhadap ketersediaan kamar hotel, villa dan pondok wisata di Bali pada 2010 lalu, Bali sebenarnya telah mengalami over-supply. Tahun itu saja Bali sudah kelebihan 9.800 kamar hotel/penginapan.

Dengan 55.000 kamar hotel di Bali pada 2010, menurut penelitian itu, sebenarnya Bali tidak memerlukan lagi tambahan kamar hotel hingga 2015 mendatang.Tapi kenyataannya hingga kini banyak pengembang yang kesengsem menanamkan investasinya di Bali dengan membangun hotel atau yang sekarang lagi tren adalah kondominium hotel (kondotel).

 

Bagi Tony Eddy, chairman Tony Eddy & Associates (TEA), ke depan Bali tetap memiliki prospek cerah untuk pasar perhotelan. “Saya kira yang over-supply itu adalah hotel-hotel lama yang sekarang ini sulit memposisikan diri. Bangunannya juga sudah jelek dan untuk harga pengelolanya sulit mau menetapkan tarif di level yang mana. Sebagian hotel-hotel itu adalah milik BUMN,” katanya.

Dia mengatakan untuk hotel yang berkelas atau branded hotel pasarnya masih cukup baik. “Buktinya pada week day maupun weekend hotel-hotel berbintang di Bali selalu penuh oleh wisatawan asing dan domestik. Buktinya saat high season kita juga masih kesulitan mencari hotel di Bali,” tuturnya.

Pernyataan Tony tentang hotel-hotel tua itu senada dengan apa yang diungkapkan Menteri BUMN Dahlan Iskan bahwa bisnis hotel BUMN belum bisa bersaing dengan pihak swasta. Misalnya di Bali, hotel BUMN berpredikat paling buruk dan bahkan ada juga yang mau ambruk. “Hotel-hotel BUMN kita yang ada di Bali semuanya sudah berpredikat yang paling buruk. Inna Kuta Hotel sudah menjadi yang terjelek di kawasan pantai Kuta. Inna Sanur (Bali Beach) sudah menjadi yang terjelek di kawasan pantai Sanur. Inna Nusa Dua (Putri Bali) sudah pasti menjadi yang terjelek di kawasan Nusa Dua yang gemerlapan itu. Bukan hanya yang terjelek, tapi juga sudah mau ambruk,” ujar Dahlan.

Padahal, lanjut Dahlan, dulu hotel-hotel BUMN tersebut merupakan hotel terbaik di kelasnya. Namun kini hotel-hotel BUMN menjadi lambang kemunduran, keruwetan, dan bahkan kekumuhan. Dikatakan Dahlan, pernah ada upaya untuk bangkit. Direksi kelompok hotel BUMN (Grup PT Hotel Indonesia Natour) pernah diperbaharui. Bahkan tidak tanggung-tanggung. Jajaran direksinya diambilkan dari para profesional dari luar BUMN. “Dengan semangat profesionalisme, grup ini ingin mulai merombak dua hotelnya di Padang dan di Kuta. Tapi dua-duanya mengalami kesulitan. Yang di Padang over investasi. Yang di Kuta sudah enam bulan mengalami slow down,” kata Dahlan.

Mengenai hal itu Tony berpendapat sebaiknya memang hotel-hotel milik BUMN tersebut ditata ulang, bisa juga dilakukan renovasi besar-besaran, agar mampu bersaing dengan hotel-hotel yang baru. “Sebab dari sisi lokasi semua hotel-hotel milik BUMN ini berada di lokasi yang sangat strategis dan kalau ditata ulang bisa memberikan benefit bagi BUMN bersangkutan,” kata Tony. (DHP)