Selasa, 07/06/2011

Tarif Sewa Mal Berpotensi Naik Kuartal II-2011

-jktproperty.com
Share on: 479 Views
Tarif Sewa Mal Berpotensi Naik Kuartal II-2011

JAKARTA: Harga sewa pusat perbelanjaan pada kuartal II 2011 diprediksi kembali terkoreksi. Potensi kenaikan tarif sewa untuk perpanjangan ruang ritel diperkirakan sekitar 6%-7%. Kondisi itu dipengaruhi minimnya pasokan ruang ritel baru dan banyaknya event yang berlangsung sepanjang kuartal ini.

“Festival Jakarta Great Sale digelar mulai 17 Juni-17 Juli 2011. Itu akan menyedot kunjungan yang tinggi ke pusat perbelanjaan, sehingga pengelola berpotensi mengoreksi tarif sewa di kuartal II-2011,” kata A. Stefanus Ridwan, Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia Tingkat kunjungan yang tinggi ke pusat belanja akan berlanjut karena mulai masuk masa peak season yaitu liburan sekolah, puasa dan Hari Raya Idul Fitri, yang disusul Natal dan tahun baru.

Menurut Stefanus tarif sewa diprediksi akan kembali stagnan pada awal 2012, terutama karena banyak mal baru yang mulai beroperasi Kenaikan tarif sewa setiap tahun terjadi, baik akibat siklus natural maupun kenaikan biaya operasional seperti melonjaknya harga bahan bakar minyak atau tarif dasar listrik. Biaya energi memberikan dampak terbesar bagi komponen biaya operasional pengelola mal.

Berdasarkan data Procon, pada kuartal I 2011 hanya ada beberapa pusat ritel di kawasan CBD Jakarta yang menaikkan harga sewanya sekitar 10% dalam dolar AS kepada penyewa baru. Selain menyesuaikan dengan penguatan nilai tukar rupiah, kenaikan tarif sewa disebabkan adanya renovasi bangunan mal. Rata-rata harga sewa pusat ritel di Jakarta mengalami sedikit peningkatan sekitar 4,4% dibandingkan kuartal IV 2010.

Herully Suherman, Head of Research Procon, menjelaskan ada indikasi kenaikan tarif sewa pusat belanja di kuartal II 2011 karena tidak adanya pasokan baru di kuartal I. Padahal, permintaan meningkat yang terlihat dari tingkat penyerapan pada kuartal I yang mencapai 107.000 m2 atau naik 18,9% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Selain tidak berimbangnya antara pasokan dan permintaan ruang ritel, langkah renovasi yang dilakukan beberapa pusat belanja juga telah menyebabkan kenaikan harga sewa dan biaya pemeliharaan (service charge). Beberapa pusat ritel berusia tua mulai mempertimbangkan untuk meng-up grade kualitas bangunan, lift, eskalator, pencahayaan dan interior. Pusat belanja yang melakukan renovasi antara lain Kalibata Plaza, Lokasari Plaza, dan Plaza Kramat Jati Indah.

Sementara Soany Gunawan, Senior Manager Cushman & Wakefield Indonesia, mengungkapkan pada kuartal I 2011 ada sedikit perubahan pada harga sewa dasar dan service charge terutama karena aktivitas renovasi dan perubahan nilai tukar yang disepakati. Pengembang dan pengelola pusat perbelanjaan sewa sejak kuartal pertama pun mulai mengantisipasi penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

Beberapa pengelola mal yang memakai mata uang dolar AS untuk pembayaran sewa memilih cara aman dengan menerapkan patokan nilai tukar bagi kontrak sewa baru guna mengantisipasi fluktuasi rupiah. Patokan kurs rupiah yang ditentukan berkisar antara Rp 7.250 hingga Rp 9.000 per dolar AS. Jika rupiah terus menguat, dia memprediksi ada potensi tarif sewa akan kembali terkoreksi. (JR)