Rabu, 14/01/2015

Surabaya Jadi Tujuan Ekspansi Properti Ritel Setelah Jakarta

-jktproperty.com
Share on: 1001 Views
Surabaya Jadi Tujuan Ekspansi Properti Ritel Setelah Jakarta
Foto: Surabaya Town Square
SURABAYA PROSPEKTIF: Pasar ritel Surabaya dilirik pengembang. Secara tahunan pasar ritel Surabaya menunjukkan kinerja positif. Secara tahunan, tingkat hunian naik menjadi 87% tahun 2014. Sementara tahun 2013 hanya 83%. Tarif sewa juga kami prediksi akan mengalami kenaikan seiring meningkatnya tingkat okupansi.

JAKARTA, jktproperty.com –  Associate Director Research Colliers International Indonesia Ferry Salanto mengungkapkan moratorium pembangunan pusat perbelanjaaan yang diberlakukan Pemprov DKI Jakarta telah membuka peluang bagi pengembang untuk membangun di kawasan pinggiran, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi serta kota lainnya, terutama Surabaya, Jawa Timur.

“Bahkan saat ini Surabaya  menjadi tujuan ekspansi kedua para peritel setelah Jakarta. Mereka mulai membawa brand internasional macam Stradivarius, Zara, New Look, dan Victoria Secret. Meski bukan brand premium, setidaknya Surabaya dilirik peritel karena menawarkan peluang menjanjikan,” ujarnya saat menyampaikan “Jakarta and Surabaya Property Market Report” di Jakarta, kemarin.

Menurut dia, secara tahunan pasar ritel Surabaya menunjukkan kinerja positif. Secara tahunan, tingkat hunian naik menjadi 87% tahun 2014. Sementara tahun 2013 hanya 83%. Tarif sewa juga kami prediksi akan mengalami kenaikan seiring meningkatnya tingkat okupansi.

Berdasarkan catatan yang ada, sebenarnya tak hanya Surabaya yang berpeluang dijadikan destinasi ekspansi peritel. Secara umum potensi bisnis ritel di Jawa Timur memang cukup besar, meski tidak semua kota/kabupaten menerima pembangunan ritel modern di daerahnya.

Ketua Sementara DPD Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Jawa Timur Abraham Ibnu sebelumnya mengungkapkan Jawa Timur yang memiliki 38 kota/kabupaten memiliki potensinya yang cukup besar pada perkembangan bisnis ritel. Apalagi ditunjang dengan pertumbuhan ekonomi dan perkembangan lifestyle.

“Namun dari 38 kota/kabupaten itu tidak semuanya menerima pembangunan ritel modern karena mereka belum memiliki Peraturan Daerah terkait ritel modern. Tapi saya kira, potensi pengembangan kelas minimarket atau hypermaket itu besar,” katanya beberapa waktu lalu.

Dia menuturkan beberapa pengusaha ritel saat ini memfokuskan pengembangan pasar modern ke daerah yang memiliki potensi dalam rencana ekspansi usaha mereka. “Di beberapa daerah mereka sudah mulai masuk dan bangun, seperti di Sidoarjo, Tuban, Kediri, Gresik, Jember, Probolinggo. Daerah memang harus menyiapkan Perdanya itu tadi sehingga mereka bisa membangun di lokasi tersebut dan ada payung hukumnya.

Dia juga mengakui sebagai pintu untuk pasar Indonesia Timur, banyak pemain ritel yang beramai-ramai mencari daerah yang masih kosong untuk berekspansi. (GUN)