Sabtu, 30/11/2013

Sinarmas Land dan Kepedulian pada Kelas Bawah

-jktproperty.com
Share on: 1056 Views
Sinarmas Land dan Kepedulian pada Kelas Bawah

JAKARTA, jktproperty.com – Building for a Better Future atau “membangun untuk masa depan yang lebih baik” merupakan tagline yang dikedepankan Sinarmas Land sebagai pemain bisnis properti kelas kakap di Indonesia. Di jagad Asia, tahun ini, Sinarmas Land juga didapuk menjadi pengembang terbaik di Asia Tenggara versi South East Asia Property Awards untuk kategori Best Green Development pada proyek BSD Green Office Park. Imperium bisnis properti dengan nilai aset Rp34,4 triliun ini juga masuk dalam jajaran Asia’s 200 Best Under a Billion versi majalah Forbes.

Bahkan belum lama berselang, Sinarmas Land juga memperoleh penghargaan prestisius Asean Best Partice Competition for Energy Efficient Buildings untuk proyek Sinarmas Land Plaza dalam forum ASEAN Energi Award 2013 yang diselenggarakan ASEAN Centre for Energy di Bali, Oktober silam. Masih banyak prestasi lainnya yang telah diraih pengembang yang telah lebih empat dekade ‘membangun negeri’ ini.

Hingga kini, Sinarmas Land telah memiliki lebih dari 50 portofolio proyek properti di seluruh Indonesia dengan land banking mencapai tak kurang dari 10.000 hektar. Proyek-proyek tersebut mencakup kota mandiri, perumahan, industri dan komersial, pusat perdagangan, hotel, resor dan perhotelan (lihat tabel).

Kalau kita perhatikan sebagian besar proyek properti Sinarmas Land, khususnya perumahan, memang menyasar kalangan menengah atas. Padahal, persoalan perumahan di Indonesia saat ini adalah adanya backlog yang menurut hitungan Kementerian Perumahan Rakyat (Kemenpera) tahun ini mencapai 15 juta unit. Sementara perhitungan Indonesia Property Watch jumlah backlog perumahan tahun ini lebih fantastis, yakni mencapai 21,7 juta unit.

Bila mengacu pada standar kesejahteraan universal bahwa kebutuhan primer manusia yang harus dicukupi adalah sandang, pangan dan papan, maka sejatinya dalam hal perumahan, kesejahteraan masyarakat Indonesia semakin tahun menjadi semakin jauh dari harapan. Padahal di sisi lain, pembangunan perumahan mewah terlihat semakin menggeliat, bahkan hingga ke daerah-daerah yang dulu tak dilirik pengembang.

Tendensi bisnis macam itu tak salah, memang. Apalagi proporsi kelas menengah di Indonesia makin tahun makin melonjak. Kalau 2010 proporsi kelas menengah hanya 36% [jumlah penduduk 237 juta jiwa], tahun ini meningkat menjadi 56,5% [jumlah penduduk diperkirakan akan mencapai 250 juta jiwa]. Peningkatan jumlah kelas menengah di Indonesia itu tentu merupakan market yang sangat menggiurkan bagi pengembang.

Menjadi pertanyaan sekarang adalah: di manakah posisi pengembang papan atas—seperti halnya Sinarmas Land—dan apa peran yang telah dan dapat mereka mainkan di masa mendatang untuk membangun masa depan yang lebih baik sesuai dengan corporate tagline-nya?

Ada semacam stigma yang melingkupi pengembang-pengembang papan atas bahwa mereka dinilai tidak punya kepedulian pada kalangan menengah bawah. Mereka hanya membangun rumah mewah, perkantoran prestisius atau mal nan wah tanpa peduli pada kelas bawah yang sangat membutuhkan rumah tinggal, walau hanya sepetak.

Stigma itu belum lama ini dibantah langsung oleh Ketua Umum DPP Real Estate Indonesia Setyo Maharso yang mengatakan pengembang properti bukanlah dinas sosial dan tidak bisa dipaksa membangun hunian murah bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) atau kelas bawah. Untuk membangun hunian murah (rumah tapak atau rusun), kata Setyo, pengembang besar terkendala tingginya harga tanah dan itu dimungkinkan bila pemerintah daerah bisa menyediakan tanah.

Artinya, persoalan pemenuhan kebutuhan perumahan nasional sebenarnya bukan ada di tangan pengembang, melainkan pemerintah pusat dan daerah. Artinya, selama ini pengembang tak bisa berbuat banyak lantaran tak ada support dari pemerintah khususnya dalam hal penyediaan lahan. Akibatnya kepedulian pengembang terhadap masyarakat kelas bawah terbatas pada program corporate social responsibility (CSR). Sinarmas Land misalnya, awal tahun ini bersama Kemenpera dan pemerintah daerah setempat melakukan program bedah rumah dalam CSR untuk mengurangi permukiman kumuh di Provinsi Banten. Provinsi ini memang menargetkan bebas kawasan kumuh pada 2015.

Kenyataan bahwa pengembang papan atas tak bisa berbuat banyak sebagai wujud kepeduliannya terhadap kalangan bawah, bukan hanya dihadapi Sinarmas Land, tetapi juga pengembang papan atas lainnya. Mereka tak mungkin mengubah bisnis propertinya dari ‘entitas bisnis’ menjadi entitas dengan fungsi sosial. Ini yang harusnya dipahami semua pihak dan tak hanya menuding bahwa pengembang, utamanya pengembang skala besar, tak punya kepedulian terhadap kalangan bawah.

Saya yakin bila pemerintah di pusat dan daerah mau menyediakan lahan untuk permukiman masyarakat kelas bawah, meski margin keuntungannya tak terlampau besar, pengembang papan atas sekelas Sinarmas Land mau membangun. Sebab, membangun negeri ini bukan melulu untuk kalangan atas, justru kalangan bawah-lah yang seharusnya menjadi prioritas.

Kita tentu sama-sama sepakat bila “membangun untuk masa depan yang lebih baik” atau Building for a Better Future seperti tagline Sinarmas Land bukan keinginan dari segelintir masyarakat kelas atas, melainkan juga masyarakat kelas menengah dan bahkan kelas bawah. Justru kelas menengah dan bawah inilah yang selalu ‘bermimpi’ punya kehidupan yang lebih baik. Building for a Better Future tak berarti tak peduli pada masyarakat kelas bawah bukan?

Di masa mendatang Sinarmas Land diharapkan bisa memberikan konstribusi yang lebih berarti pada pemenuhan kebutuhan papan masyarakat kelas bawah. Sebab hal itulah yang akan membedakan Sinarmas Land dengan pengembang papan atas lainnya di Indonesia. Deddy H. Pakpahan