Selasa, 13/10/2015

Sinar Mas Land Akuisisi Gedung Perkantoran di London Rp5,5 Triliun

-jktproperty.com
Share on: 1381 Views
Sinar Mas Land Akuisisi Gedung Perkantoran di London Rp5,5 Triliun
Foto: Istimewa

JAKARTA, jktproperty – Pengembang Sinar Mas Land belum lama ini mengakuisisi Alphabeta Building, sebuah gedung perkantoran di kawasan Shoreditch, London, Inggris, senilai Rp5,5 triliun. Gedung ini berlokasi di tengah fasilitas modern dan lengkap ditunjang dengan akses yang sangat baik dan akan menjadi tonggak pencapaian akuisisi aset tunggal terbesar dalam sejarah grup Sinar Mas Land.

Executive Director Sinar Mas Land Ferdinand Sadeli mengatakan langkah akusisi gedung ini diharapkan dapat semakin memantapkan portofolio properti Sinar Mas Land sekaligus memantapkan posisi perusahaan sebagai salah satu usaha properti terdepan di London. Langkah ini juga kian mempertegas diversifikasi portofolio investasi Sinar Mas Land.

“Alphabeta Building merupakan gedung iconic yang merupakan gedung perkantoran yang telah diperbaharui secara menyeluruh. Bangunan ini juga menjadi yang pertama berkonsep cycle-in di Inggris Raya karena memiliki jalur khusus pintu masuk yang memungkinkan pengendara sepeda bisa langsung masuk ke dalam gedung dari jalan raya,” ujarnya.

Alphabeta Building memiliki leasable area sekitar 25.000 m2 yang terdiri dari sembilan lantai dengan spesifikasi grade A. Setiap ruangannya dirancang berkualitas dari lower ground hingga lantai teratas. Basement-nya menyediakan 210 lot untuk parkir sepeda. Terlebih gedung ini berlokasi di persimpangan bundaran Silicon Shoreditch dan City of London yang membuat Gedung AB seakan-akan menjadi jantung yang memberikan energi bagi kawasan Shoreditch.

Sebelah selatan gedung ini terdapat Finsbury Square yang menghubungkan Alphabeta Building ke kawasan CBD keuangan London. Sisi utaranya terdapat Worship Street yang tengah berkembang pesat dan dinamis yang saat ini dipenuhi beragam toko, restoran, industri kreatif, dan perkantoran. Alphabeta Building menawarkan ruang beradaptasi yang dirancang khusus untuk pemberdayaan tenaga kerja demi menikmati beragam proses kreatif.

“Pasca akuisisi ini kami langsung mendapatkan penyewa jangka panjang dari perusahaan terkemuka dengan transaksi lebih dari US$1 miliar. Kami sendiri menganggap pasar properti komersial di London masih sangat prospektif dan masih terus mencari peluang investasi di kota ini dan kota lainnya di Eropa. Ini kami lakukan untuk memperoleh apresiasi modal jangka panjang bagi perusahaan,” tandasnya.

London hingga kini tercatat sebagai kota termahal di dunia. Tahun lalu riset konsultan properti global Savills terbaru mengungkapkan posisi Hong Kong sebagai kota termahal di dunia dalam lima tahun terakhir ini diambil alih oleh London.

Berdasarkan riset Live/Work Index yang dilakukan Savills, per Juni 2014, perusahaan internasional yang menempatkan seorang karyawannya di London harus menyiapkan sedikitnya US$120.568 atau sekira Rp1,443 miliar per tahun untuk biaya hidup di kota ini. Sedangkan di Hong Kong, demikian Savills, biaya hidup per karyawan per tahun US$115,717.

Sebelumnya Hong Kong selama lima tahun berturut-turut menempati urutan pertama sebagai kota dengan biaya hidup termahal bagi seorang karyawan. Sedangkan pada 2008 lalu, London berada di urutan kelima. Riset Savills tersebut membandingkan kombinasi tarif sewa residensial dan ruang perkantoran 12 kota di dunia yang mengalami fluktuasi. (LEO)