Kamis, 01/11/2007

Setiap Malam 16.000 Kamar Hotel di Jakarta Melompong

-jktproperty.com
Share on: 548 Views
Setiap Malam 16.000 Kamar Hotel di Jakarta Melompong

JAKARTA: Selama 2007 ini pasar perhotelan, khususnya hotel bintang 5 dan bintang 4, belum menunjukkan kinerja yang menggembirakan. Bahkan, dengan beroperasinya beberapa proyek apartemen servis baru sejak 2004 lalu, hotel bintang 5 dan 4 justru mengalami tekanan cukup berarti. Sebaliknya, hotel bintang 3 mampu mengerek okupansi lebih tinggi mengingat room rate yang ditawarkan jauh lebih rendah dibandingkan hotel bintang di atasnya. Di sisi lain hotel bintang branded, baik butik maupun non-butik, dipastikan akan memperoleh okupansi yang cukup tinggi seiring dengan brand minded para business travelers. Tidak bisa dipungkiri bahwa pasok apartemen sewa di Jakarta atau apartemen strata-title yang disewakan pemiliknya dengan harga sewa kompetitif sangat mempengaruhi okupansi hotel bintang 5 dan 4 yang rata-rata per tahun hanya berada di kisaran 50%-55%.

Mengacu pada data yang dikeluarkan Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), triwulan I-2007 tingkat hunian hotel di Indonesia rata-rata 45%. Dengan asumsi jumlah kamar hotel bintang dan non bintang di DKI Jakarta sebanyak 40.000, maka setiap malamnya 16.000 kamar hotel di Jakarta kosong melompong alias tak bertamu. Kenyataan itu membuat sebagian besar hotel bintang 5 dan 4 menurunkan room rate mereka dari yang tadinya US$100-US$140 menjadi US$60-US$70 atau sekelas dengan hotel bintang 3 yang memiliki okupansi di atas 75%.

Jika tarif hotel bintang 5 dan 4 terus-menerus drop, bisa dipastikan average room rate yang rendah akan mengancam kelangsungan hidup hotel berbintang. Pahitnya bisnis perhotelan di Jakarta juga dialami hoteliers di kota-kota besar lainnya di Indonesia. Di Bali misalnya, para pemilik dan pengelola hotel berbintang mengeluhkan terjadinya penurunan okupansi akibat menjamurnya pembangunan vila yang disewakan pemiliknya. Tapi berbeda dengan persaingan antara hotel dan apartemen sewa di Jakarta, harga sewa vila-vila di Bali jauh lebih tinggi dibandingkan hotel berbintang.

Belum lama ini muncul sinyalemen baru yang lebih menguatkan ketidakberuntungan pasar hotel berbintang. Kabarnya sebanyak 20 hotel berbintang 5 dan 4 di Jakarta mendapat ‘tekanan’ dari perusahaan multinasional. Karena okupansi hotel berbintang yang melorot, perusahaan multinasional yang acapkali memanfaatkan fasilitas hotel untuk bisnisnya mempunyai posisi tawar yang tinggi dibandingkan hoteliers.

Tentunya, terutama posisi tawar dalam menentukan sewa kamar hotel. Satu hal yang harus dicermati adalah akibat yang ditimbulkan dari jatuhnya tarif kamar hotel bintang 5 dan 4, yakni soal pelayanan sesuai dengan kelas bintangnya. Praktis, servis yang diberikan kepada tamu menurun kualitasnya akibat pengelola hotel harus memotong biaya pos-pos tertentu.

Meski demikian hotel bintang branded tetap mampu mengerek angka okupansi di atas rata-rata okupansi hotel berbintang lainnya. Keadaan dimana okupansi hotel mengalami penurunan drastis tentu tidak bisa dibiarkan begitu saja. Upaya riil yang mampu mendongkrak okupansi hotel berbintang mutlak dilakukan PHRI dengan stakeholder lainnya seperti pemerintah provinsi maupun Association of The Indonesia Tours and Travel (Asita) perlu dilakukan tanpa perlu harus menunggu pasar bertambah parah.

Kampanye-kampanye pariwisata yang positif mesti mulai dikembangkan saat ini dan bukan malah membatasi wisatawan atau business travelers asing yang mau masuk ke Indonesia seperti desakan Asita kepada pemerintah belum lama ini yang meminta pemerintah melarang maskapai penerbangan dari Uni Eropa singgah di bandara negeri ini. (DHP)