Minggu, 02/12/2007

Selamatkan Bumi dan Uang dengan Green Building

-jktproperty.com
Share on: 477 Views
Selamatkan Bumi dan Uang dengan Green Building

JAKARTA: Trevor Pearcey House Canberra, Australia. Inilah salah satu gedung perkantoran yang menjadi karya mutakhir sekaligus milestone kebanggaan para pebisnis property di Australia. Betapa tidak, gedung yang semula ruang perkantoran biasa yang boros energi, setelah direnovasi berubah menjadi tempat kerja yang nyaman dan ramah lingkungan yang kini dikenal dengan istilah green building.

Green building adalah praktik peningkatan efisiensi gedung dalam hal penggunaan energi, air dan material. Juga untuk meminimalisasi dampak gedung terhadap kesehatan manusia dan lingkungan melalui pengawasan yang lebih baik, desain, konstruksi, operasional termasuk pemeliharaannya secara keseluruhan.

Adalah Australian Ethical Investment Ltd, sang pemilik gedung yang rela merogoh koceknya sampai lebih dari US$1,7 juta demi renovasi yang dicanangkan. Berat, memang, ditinjau dari segi investasi yang harus dikeluarkan sebagaimana diakui trio arsiteknya yakni Collard Clarke Jackson, Kevin Miller dan Katy Mutton. Namun balasan yang didapat pun setimpal. Lihat saja, setelah tuntas masa rehab, gedung ini mampu menekan jumlah produksi carbondioksida sampai 75%.

Total penggunaan air turun hingga 75% dan 80% dari material yang digunakan adalah bahan daur ulang. Fantastik bukan? Maka tak heran The Green Building Council of Australia (GBCA) memberikan penghargaan tertinggi yakni 6 Green Star Award untuk gedung ini. Apa gerangan yang menyebabkan mereka mau melakukan dan membayar harga setinggi itu? Ya, karena saat ini bumi terasa semakin panas, iklim berubah drastis, perubahan musim tak bisa diprediksi.

Ini semua antara lain karena industri yang tak memperhatikan keseimbangan alam. Dan industri properti yang merupakan salah satu motor penggerak ekonomi setiap negara, tentu memiliki kontribusi akan perubahan iklim tersebut. Berbagai studi menunjukkan gedung komersial termasuk perkantoran adalah sektor yang sangat boros dalam hal penggunaan energi yakni mencapai 50% kebutuhan energi sebuah negara. Kebutuhan air pun bisa menyedot sepertiganya.

Ironisnya, pada saat yang sama sektor ini merupakan penyumbang emisi CO2 terbesar. Dalam The Live Earth, Global Warming Survival Handbook, disebutkan betapa signifikannya bila setiap membangun gedung juga sekaligus membuat atap hijau yakni yang ditanami pepohonan. ”Kalau saja kita menanam satu juta atap hijau, kita dapat mengurangi 595.000 ton CO2 per tahun.” Atap hijau memang pernah menjadi tren gedung ramah lingkungan sejak 1990-an.

Namun waktu itu, konsep tersebut masih sebatas arsitektur bangunan saja. Sementara sekarang green building merupakan konsep yang mengintegrasikan unsur mulai dari desain, material bangunan, pemanfaatan mesin/alat berteknologi canggih sampai pada sistem pengendalian dan perawatan bangunan. Pengembangan konsep inilah, yang melahirkan konsep zero energy building (ZEB), yaitu gedung yang keperluan energi untuk operasionalnya dipasok sepenuhnya oleh gedung itu sendiri setelah periode tertentu. Di kawasan Asia, tercatat dua negara telah memulai pembangunan ZEB yakni di China (Pearl River Tower) dan Singapura (BCA Academy Building).

Konsep green building kini sudah merebak di berbagai negara. Ini dibuktikan dengan dibentuknya standar efisiensi green bulding di wilayah masing-masing. Amerika Serikat, Kanada dan India misalnya, membentuk lembaga sertifikasi green building yang disebut Leadership in Energy and Environmental Design (LEED). United Kingdom, sementara itu, memperkenalkan Code for Sustainable Homes dan Green Globe.

Negara-negara lain seperti Switzerland menerapkan standardisasi gedung ramah lingkungan dengan Minergie. Jerman dan Austria memberlakukan Passivhaus. Di Perancis ada Haute Qualité Environnementale. Taiwan pun tak mau ketinggalan dengan segera menerapkan EEWH.. Hal yang tak kalah menariknya adalah inisiatif Climate Change Capital, fund manager dan penasehat untuk pemanasan global berbasis di London.

Seperti dilaporkan Bloomberg, lembaga yang memutar dana sekitar US$1,6 miliar ini, akan mulai mendanai gedung-gedung yang menerapkan konsep green building. Pertemuan para investor akan dilakukan pada kuartal pertama 2008. Alhasil, kini green building bukan lagi tren melainkan sebuah keharusan demi pembangunan berkelanjutan sekaligus meningkatkan kualitas hidup manusia. Konferensi PBB untuk perubahan iklim (UN Climate Change) yang dilaksanakan di Bali 3-14 Desember 2007 ini juga antara lain bertujuan menyukseskan Kyoto Protocol tentang perubahan iklim dan apa saja yang bisa dilakukan guna mengantisipasi dampak negatif yang mungkin timbul.

Cepat atau lambat preferensi terhadap gedung ramah lingkungan ini juga akan merambah ke pasar properti di Indonesia. Mengutip studi yang dilakukan Jones Lang Lassale terhadap perusahaan-perusahaan pengguna gedung perkantoran di kawasan Asia Pasifik, diperoleh data adanya peningkatan yang signifikan atas jumlah perusahaan yang bersedia membayar sewa lebih mahal (premium) untuk gedung yang menerapkan sistem ramah lingkungan.

Kalau pada 2005 hanya 11% dari responden yang menyatakan bersedia membayar premium rental, maka pada 2007 ini jumlahnya meningkat menjadi 64%. Dengan adanya kecenderungan tersebut, bisa dipastikan bahwa preferensi pasar di kawasan ini termasuk Indonesia untuk masa yang akan datang akan berubah. Permintaan dari corporate occupiers akan menjadi pendorong bagi developer dan investor untuk segera mengadopsi konsep ramah lingkungan dan menerapkannya dalam sistem operasional gedungnya.

Pada akhirnya, persoalan green building kini bukan hanya tuntutan pasar, karena ternyata alam pun menuntut keseimbangan yang seharusnya masuk dalam kalkulasi bisnis. Mari sedikit berhitung. Andaikan untuk mendesain green building atau renovasinya dibutuhkan dana ekstra sekitar 5-7% dari total budget. Sepertinya berat di awal.

Namun apabila biaya tahunan penggunaan energi bisa turun 20%, biaya penggunaan air turun 20%, produksi air kotor turun sampai 38% dan sisa konstruksi yang tidak terpakai turun sampai 22%, berarti pembekakan biaya di awal menjadi sangat kecil maknanya. Sudah begitu, sebagian besar konsumen terutama perusahaan multinasional berani membayar lebih mahal untuk gedung ramah lingkungan. Bukankah ini sebuah keuntungan jangka panjang yang sangat layak? (Safaruddin Husada)