Jumat, 27/02/2015

Selama 2014 BTN Catat Recovery Asset Sebesar 33,33%

-jktproperty.com
Share on: 914 Views
Selama 2014 BTN Catat <em>Recovery Asset</em> Sebesar 33,33%
Foto: Ilustrasi
KINERJA BANK BTN: Perbaikan kualitas kredit Bank BTN dengan membaiknya NPL sepanjang tiga tahun terakhir dipicu oleh kenaikan recovery asset perseroan. Tahun 2014 Bank BTN berhasil membukukan recovery asset sebesar Rp1,3 triliun. Perseroan telah melakukan berbagai upaya strategis dalam memperbaiki kualitas kredit.

JAKARTA, jktproperty.com – PT Bank Tabungan Negara  (Persero) Tbk.  (IDX: BBTN) membukukan kredit dan pembiayaan sebesar Rp116 triliun sepanjang 2014 atau tumbuh 15,38% dari Rp100,46 triliun pada 2013. Perseroan berhasil meningkatkan fungsi intermediasi di tengah dinamika perlambatan ekonomi global maupun nasional. Secara paralel, Bank BTN juga mampu menekan non performing loan (NPL) selama tiga tahun berturut-turut dengan tren menurun.

“NPL Bank BTN tercatat tahun 2012, 2013 dan 2014 masing-masing sebesar 4,09%, 4,05% dan 4,01%. Ini menunjukkan  langkah perbaikan kualitas kredit yang dilakukan perseroan berjalan efektif,” kata Dirut Bank BTN Maryono saat menyampaikan paparan kinerja perseroan per 31 Desember 2014 di Jakarta, tadi malam.

Menurut dia, sejalan dengan pertumbuhan dan peningkatan kualitas kredit, peningkatan bisnis perseroan dapat dilihat dari meningkatnya dana pihak ketiga (DPK) perseroan yang mencapai Rp106,5 riliun pada 2014, tumbuh 10,67% dari periode sebelumnya sebesar Rp96,21 triliun dengan laba bersih mencapai Rp1,1 triliun.

Sementara  total Asset perseroan tumbuh sebesar 10,22% dari Rp131,70 triliun pada tahun sebelumnya menjadi  Rp144,57 triliun pada akhir 2014. Pertumbuhan Asset  ini membuat Bank BTN naik ke peringkat sembilan diantara 10 besar bank nasional berdasarkan besaran Asset. “Ini  merupakan prestasi bagi manajemen Bank BTN sebagai bank yang fokus ke segmen kredit pembiayaan perumahan,” tegas  Maryono.

Recovery Asset

Perbaikan kualitas kredit Bank BTN dengan membaiknya NPL sepanjang tiga tahun terakhir dipicu oleh kenaikan recovery asset perseroan. Tahun 2014 Bank BTN berhasil membukukan recovery asset sebesar Rp1,3 triliun. Perseroan telah melakukan berbagai upaya strategis dalam memperbaiki kualitas kredit a.l. penerapan early warning system bagi kredit lancar, membentuk 2 unit kerja, yaitu Consumer Collection & Remedial Division (CCRD) dan Asset Management Division (AMD) yang bertugas khusus untuk menangani NP, melakukan restrukturisasi kredit terhadap kreditur-kreditur yang memenuhi syarat untuk di restrukturisasi dan melakukan lelang/penjualan asset dengan menggandeng balai lelang serta menggelar pameran-pameran rumah bekas sekaligus membuka kesempatan MBR untuk memiliki rumah.

“Dengan upaya strategis yang kami lakukan tahun 2014, kami optimis kinerja perseroan tahun 2015 akan lebih baik. Bahkan kami optimis akan dapat menekan angka NPL dibawah 3% pada akhir tahun 2015,” kata Maryono.

Penetrasi pasar KPR

Bank BTN mempunyai komitmen untuk meningkatkan penetrasi pembiayaan perumahan kelas menengah atas non subsidi, yang saat ini telah mencapai 57% dari total KPR yang disalurkan perseroan. Salah satu upaya meningkatkan porsi tersebut, perseroan telah menjadi official bank pada Indonesia Property Expo 2015 pertengahan Februari 2015, dengan potensi penambahan  kredit baru realisasi selama pameran tersebut  lebih dari  Rp1,4 triliun.

Selain itu, Bank BTN juga meluncurkan portal online yang dapat digunakan konsumen untuk membeli rumah baru atau rumah second sekaligus mengajukan KPR. Informasi lengkap seputar kepemilikan rumah dapat diakses melalui portal tersebut.  Pengembang pun juga dapat memanfaatkan portal ini sebagai media promosi atau bahkan investasi dengan cara membeli rumah-rumah second untuk dibangun kembali dengan fasilitas kredit dari Bank BTN.

Pertumbuhan kredit Bank BTN tahun 2014 yang sebesar 15% berada di atas rata-rata industri, Melalui sejumlah program yang sudah dilakukan perseroan, manajemn Bank BTN optimistis pertumbuhan bisnis perseroan tahun 2015 akan jauh lebih baik dari tahun lalu. Pertumbuhan kredit Bank BTN diproyeksi mampu mencapai 19%, diatas pertumbuhan kredit industri yang diproyeksi OJK mencapai 15%.

Untuk mendukung pertumbuhan kredit tersebut dibutuhkan likuiditas yang kuat. Manajemen tengah menjajaki peningkatan funding selain bersumber dari obligasi dan DPK. Salah satunya melalui sumber dana strategis seperti Bank Dunia dan lembaga keuangan internasional lainnya. “Kami sedang menjajagi upaya untuk mendapatkan pinjaman bilateral guna memperkuat struktur pendanaan Bank BTN,” tutur Maryono.

Hingga kini Bank BTN masih menjadi pemimpin pasar pembiayaan perumahan di Indonesia dengan penguasaan pangsa pasar total KPR sebesar 27%. Sedangkan untuk segmen KPR subsidi, peran Bank BTN sangat dominan dengan menguasai pangsa pasar lebih dari 95% dari total penyaluran FLPP tahun 2011, 2012 dan 2013.

Total KPR yang sudah disalurkan Bank BTN sejak 1976 sd 2014 berjumlah sekitar Rp130 triliun yang telah dimanfaatkan oleh lebih dari  3,5 juta masyarakat Indonesia.  Sementara khusus untuk program FLPP, sejak program ini dijalankan tahun 2010 sd 2014 telah direalisasikan rumah lebih dari 368.000 unit dengan total kredit mencapai lebih dari Rp25 triliun. “Khusus FLPP tahun 2014 kami melampaui target pemerintah  58.000 unit dan terealisasi 93.000 unit dengan jumlah kredit lebih dari Rp7,9 triliun,” tandasnya.

Komposisi saham Bank BTN saat ini mayoritas masih dimiliki oleh Pemerintah. Saham pernerintah masih mendominasi dengan kepemilikan 60,13%. Sementara sisanya 39,87% dimiliki oleh umum dengan komposisi 48,70% dimiliki oleh masyarakat dalam negeri dan 51,30% dimiliki oleh asing. (DHP)