Senin, 04/04/2011

Sektor Perhotelan di Indonesia Makin Bersinar

-jktproperty.com
Share on: 801 Views
Sektor Perhotelan di Indonesia Makin Bersinar

JAKARTA: Dalam beberapa tahun ke belakang, sektor perhotelan di Indonesia terlihat terus tumbuh dan diperkirakan akan semakin bersinar seiring dengan meningkatnya target kunjungan wisatawan asing. Tahun ini pemerintah menargetkan wisatawan asing yang berkunjung ke Indonesia mencapai 7,7 juta orang. Sejumlah pengamat memperkirakan dalam periode 2011 hingga 2015 bakal banyak wisatawan asing yang datang ke Asia Pasifik.

Sebagai negara yang direkomendasikan untuk dikunjungi adalah Indonesia. Berdasarkan survei Pacific Asia Travel Association (PATA) Asia Pasifik, semestinya Indonesia membangun kolaborasi bersama negara satu kawasan. Selain berkompetisi, Indonesia juga harus berinovasi.

Aulia Poon, managing director Tourism Intelligence International pernah mengatakan yang terpenting adalah melakukan kolaborasi tanpa mengesampingkan kompetisi dalam membangun pariwisata. Kolaborasi yang dimaksud adalah mengenai kerja sama untuk kemenangan bersama dalam menjual pariwisata sebagai suatu pengalaman. Kolaborasi juga bukan hanya di sektor publik tapi juga komunitas. “Indonesia harus membangun kesan, membangun tujuan pariwisata, dan juga membangun produk,” katanya.

Dia menambahkan, Indonesia sangat dimungkinkan untuk bergabung dengan Singapura dan Brunei Darussalam guna bekerja secara sistematis membangun industri pariwisata dengan mengeksplorasi bersama apa yang dimiliki setiap negara dengan elemen yang berbeda. Sedangkan Kaye Chon dari Hongkong Polytechnic University menuturkan, para pengusaha di Indonesia harus menawarkan sesuatu yang berbeda (think outside the box) dengan menawarkan hal-hal yang baru dan berbeda Selain itu, Indonesia harus membuat dan membangun industri baru yang diminati oleh wisawatan. “Inovasi adalah kunci untuk meningkatkan jumlah wisatawan,” kata dia.

Besarnya potensi pariwisata di Indonesia direspon pengembang untuk membangun hotel di banyak daerah di Indonesia. PT Perdana Gapuraprima Tbk (Gapuraprima Group) misalnya, belum lama ini me-launch proyek kondominium hotel (kondotel) pertamanya di Bali, The Sun Heritage, dengan investasi mencapai tak kurangd ari Rp135 miliar. Ditargetkan akan beroperasi pada 2012, kondotel yang berlokadi di Sunset Road ini nantinya akan dioperasikan Best Western Indonesia. “Konstruksi diharapkan rampung Desember 2011 sehingga pengoperasian mulai 2012,” ujar bos Perdana Gapuraprima Rudi Margono.

Menurut dia, potensi bisnis properti, khususnya perhotelan, di Bali masih cerah, menyusul peningkatan turis mancanegara ataupun domestik berkunjung ke Pulau Dewata. Sejumlah penginapan, baik vila maupun hotel, di Bali selalu dipenuhi tamu.

“Ini proyek pertama perseroan di Bali. Ada beberapa proyek yang diluncurkan di Bali. Tetapi, kami masih mencari lokasi yang cocok,” papar dia. The Sun Heritage Bali ini terdiri atas dua menara setinggi lima lantai dengan total 300 kamar. “Sekitar 50% dari unit tersebut akan dijual ke masyarakat dan sebagian disewakan,” tambah Rudi. Untuk proyek The Sun Heritage, Gapuraprima Group menggandeng Sun Motor Group, dealer otomotif terbesar di Indonesia yang didirikan pengusaha otomotif Sundoro Hosea.

Sun Motor Group terbilang cukup ekspansif dalam ekspansi di sektor properti, terutama perhotelan. Pemilik grup usaha ini Imelda Sundoro misalnya, baru-baru ini mengatakan perusahaan baru saja mengakuisisi dua perumahan di Yogyakarta dan sedang membangun sedikitnya lima hotel baru di sejumlah kota. Di Solo, Jawa Tengah, Sun Motor Group memiliki hotel-hotel Novotel dan Ibis yang dikelola jaringan Accor, dan Best Western yang dkelola jaringan Best Western.

Perusahaan ini juga pemegang saham superblok Solo Paragon di mana di dalamnya terdapat apartemen, kondotel, pusat perbelanjaan, yang seluruhnya beroperasi tahun 2012 ini. Di Semarang, Jawa Tengah, perusahaan ini juga memiliki Novotel Semarang dan Formule-1 yang dibangun di Jalan Pierre Tendean. Sedangkan di Jogja, Jawa Tengah, memiliki Hotel Phoenix (dulu Grand Mercure) yang juga dikelola Accor. Di Jogja, hotel bintang dua Formule-1 sedang dibangun di Jalan Solo, sebelah bioskop 21. Di Jakarta, grup usaha ini memiliki Hotel Formule-1 di Jalan Daan Mogot.

Sebelumnya Bakrieland Development (Bakrie Grioup) juga telah masuk lebih dulu ke Kuta, Bali, dengan proyek yang jauh lebih besar, yaitu Pullman Bali Legian Nirwana, yang sudah beroperasi dan dikelola Accor International. Proyek itu dibangun di area seluas 2,4 hektare dengan bangunan terdiri dari lima sayap berbentuk oval yang memuat 360 unit. Bukan hanya investor lokal, asingpun banyak yang masuk dengan strategi mengandeng investor lokal untuk menggarap proyek kondotel di Bali. Pelaku investor kondotel di Bali memanfaatkan prospek pariwisata Bali yang sudah mendunia yang mendorong banyak orang kaya lokal dan asing berminat membeli kondotel sejenis itu.

Di sisi lain, kondotel itu juga punya prospek bagus untuk disewakan kepada pelancong di Bali yang jumlahnya mencapai jutaan orang per tahunnya, sehingga membutuhkan fasilitas akomodasi yang sangat banyak. “Pullman Bali Legian Nirwana akan melengkapi potensi wisata dan bisnis di area Kuta, Bali. Selain itu, pembukaan Pullman Bali Legian Nirwana ini turut menandai resminya pengoperasian manajemen hotel oleh Accor International,” ujar Marudi Surachman, Direktur Utama PT Bakrie Hotel & Resort.

Sementara itu awal Maret ini PT Metropolitan Horison Development (Hotel Horison Group) akan menambah 8-10 hotel baru di sejumlah provinsi pada tahun ini sebagai salah satu langkah pengembangan pasar hotel tersebut di Tanah Air. Nanda Widya, Direktur Utama PT Metropolitan Land, mengatakan beberapa wilayah yang sedang dibidik antara lain Surabaya, Medan, dan Papua. Kelompok usaha ini telah memiliki tujuh jaringan hotel di Jakarta, Bekasi, Bandung, Makassar, Semarang, Palembang, dan Pekanbaru.

Menurut dia, beberapa hotel yang siap dioperasikan adalah @Home di Tambun, Bekasi, Hotel Horison Papua. Hotel Horison Group optimistis bisa terus menambah propertinya setiap tahun. Pada tahun depan, perusahaan ini menargetkan menambah 25 hotel, sehingga mencapai 50 hotel pada 2015-2016. Menurut Nanda, hotel yang masuk dalam jaringan Horison Grup membidik segmen bawah, menengah dan atas. Hotel bintang tiga dan empat menggunakan nama Horison, sedangkan yang berbiaya murah (budget hotel) menggunakan tiga nama yakni Aziza Hotel, @Home, dan Red Dot Hotel.

Dia mengungkapkan bisnis hotel yang potensial saat ini adalah budget hotel dengan investasi Rp30-50 miliar dengan masa tenggang kembali modal lebih cepat dibandingkan hotel bintang tiga atau empat. “Biaya operasional budget hotel lebih rendah sehingga BEP-nya lebih cepat lima hingga tujuh tahun daripada hotel bintang tiga atau bintang empat yang biasanya lebih dari 10 tahun,” tuturnya.

Kenaikan tarif sewa Mengenai tarif sewa kamar hotel, para pengelola hotel pada tahun 2011 akan menaikkan tarif kamar hotel terutama di wilayah Jakarta, Surabaya dan Bali. Kenaikan tarif kamar ini merupakan implikasi kenaikan tarif listrik dan kenaikan upah minimum (UMR) para pekerja hotel di 2011. Division Manager Research Colliers International Ferry Salanto mengatakan kenaikan tarif hotel terjadi dalam besaran kurang lebih 10%.

Para pengelola diperkirakan akan menaikan tarif kamar hotel mulai April 2011. “Kenaikan average room rate (ARR) di 2011 karena operation cost naik, beberapa hotel akan menaikan ARR, dengan pertimbangan tarif listrik, upah pekerja,” katanya. Berdasarkan data Colliers International rata-rata tarif hotel di Jakarta antara lain, untuk hotel bintang 3 sebesar Rp335.554 dari kuartal sebelumnya Rp320.054. Hotel Bintang 4 sebesar Rp478.431 sementara kuartal sebelumnya Rp455.745. Sementara itu, hotel bintang 5 di Jakarta rata-rata memiliki tarif Rp855.526 sementara kuartal sebelumnya Rp806.613. Untuk hotel bintang 5 yang termasuk bertarif mahal diantaranya hotel bertarif di atas Rp 1juta yaitu Kempinski, Ritz Carlton (SCBD) dan Grand Hyatt.

Meskipun ada kenaikan tarif, ia memperkirakan tingkat hunian hotel (okupansi) masih ada kecenderungan naik di tahun ini. Beberapa faktor yang bisa mendorongkrak okupansi antaralain perhelatan SEA Games, acara pertemuan ASEAN, termasuk acara-acara internasional lainnya dan permintaan dari domestik. Ia juga mengatakan permintaan masih sangat bagus khususnya untuk hotel bintang 4 karena hotel kelas ini memberikan fasilitas lebih baik dari bintang 3 namun memiliki tarif dibawah bintang 5. Dikatakannya perkembangan hotel di Jakarta, akan semakin diramaikan dengan berdirinya hotel-hotel baru di Jakarta selama periode 1-2 tahun ke depan. (JR)

Berikuti ini beberapa hotel baru yang akan beroperasi di Jakarta:

– Hotel Bintang 3: All Seasons Hotel beroperasi tahun 2012 lokasi di Jl. KH Zainul Arifin.

– Hotel Bintang 4: Best Western Mangga Dua akan beroperasi di 2011 lokasi Mangga Dua, Aston Menteng berlokasi di Menteng akan beroperasi di 2012, Hotel Emporium Pluit beroperasi di 2012 lokasi Pluit.

– Hotel Bintang 5: Pullman Hotel beroperasi di 2011 lokasi Jl S. Parman, The Aryaduta Regency beroperasi 2012 lokasi Kemang, Raffles beroperasi 2012 lokasi Jl. Satrio, St. Regis Hotel & Residence beroperasi di 2012 lokasi Gatot Subroto dan Hotel Gandaria City beroperasi 2012 lokasi Gandaria Kebayoran Lama.