Rabu, 11/05/2016

Savills: Prospek Pertumbuhan Properti di Indonesia Masih Menarik

-jktproperty.com
Share on: 2901 Views
Savills: Prospek Pertumbuhan Properti di Indonesia Masih Menarik
Foto:Ilustrasi
PASAR PROPERTI: Pasar properti Indonesia khususnya Jakarta masih memiliki prospek pertumbuhan yang menarik di berbagai sektor. Hal ini terus menarik minat, tidak hanya pengembang dan investor lokal, namun juga investor dari berbagai negara asing yang melihat potensi permintaan produk properti khususnya yang menyasar kelas menengah dan atas di Ibukota.

JAKARTA, jktproperty.com – Perkembangan ekonomi global masih membayang-bayangi pertumbuhan ekonomi di kawasan Asia Pasifik, tak terkecuali Indonesia. Antisipasi akan membaiknya pertumbuhan bisnis selepas tahun pemilu 2014, ternyata masih belum sepenuhnya tercapai. Sepanjang tahun tahun 2015, pertumbuhan PDB hanya mencapai 4.8%, akan tetapi tren perbaikan ekonomi mulai terlihat menguat memasuki paruh kedua tahun lalu.

Walaupun kondisi ekonomi masih belum stabil, seperti terlihat dari rilis PDB di triwulan I 2016, akan tetapi optimisme akan pertumbuhan ekonomi yang lebih baik semakin bertambah. Seiring target pertumbuhan PDB tahun ini sebesar 5.3%, sektor properti khususnya di Jakarta juga diperkirakan akan meningkat secara perlahan mulai tahun ini. Demikian rangkuman pemaparan hasil survey dan analisis pasar properti Jakarta yang disampaikan oleh konsultan properti internasional, Savills yang berkantor pusat di London (UK), Rabu (11/5).

Jeffrey Hong, yang menjabat sebagai Presiden Direktur di konsultan Savills Indonesia tersebut mengatakan bahwa pasar properti Indonesia khususnya Jakarta masih memiliki prospek pertumbuhan yang menarik di berbagai sektor. Hal ini terus menarik minat, tidak hanya pengembang dan investor lokal, namun juga investor dari berbagai negara asing yang melihat potensi permintaan produk properti khususnya yang menyasar kelas menengah dan atas di Ibukota.

Menurutnya, walaupun pada tahun lalu pertumbuhan ekonomi melambat, pasar properti di Jakarta masih dipandang sebagai salah satu tujuan investasi yang paling menarik di kawasan Asia. “Hal ini ditopang oleh berbagai hal antara lain potensi pembeli dan investor dalam negeri yang masih memiliki daya beli relatif kuat, kebijakan pemerintah yang positif untuk mendorong sektor bisnis dan konsumen, harga dan biaya yang relatif masih lebih murah dibanding di negara lain dan pembangunan infrastruktur yang pesat dan berpeluang mendorong pertumbuhan investasi properti dalam negeri,” kata Jeffrey.

Ritel Pertama Bangkit

Terkait pasar pusat perbelanjaan di Jakarta, Rosaline Lie, Direktur untuk Departemen Ritel di konsultan Savills mengatakan bahwa walaupun hasil survey di awal tahun 2016 menunjukan tingkat permintaan masih relatif terbatas, namun secara keseluruhan pasar ritel masih terbilang stabil.

Lebih lanjut lagi, Rosaline mengatakan bahwa pasar ritel bahkan berpeluang menjadi sektor properti yang pertama bangkit dari kondisi perlambatan yang terjadi dalam beberapa tahun belakangan ini. Faktor yang bisa menjadi pendorong peningkatan pasar ritel, kata dia adalah kondisi pertumbuhan pasok yang relatif minim (akibat pembatasan pembangunan pusat perbelanjaan baru di wilayah DKI Jakarta), sehingga kompetisi yang ada tidak seketat dibanding sektor lainnya.

Faktor lain adalah daya beli masyarakat Jakarta yang terbilang masih cukup tinggi dan juga tren gaya hidup yang semakin mendorong tingkat pengeluaran dan konsumsi yang cukup signifikan walaupun dalam kondisi ekonomi seperti sekarang ini. Hal-hal tersebut bisa memicu tingkat permintaan ritel secara melonjak sekiranya terjadi perbaikan ekonomi yang signifikan dalam waktu dekat, seperti yang dialami pada selepas periode krisis akhir tahun 1990-an.

Terkait dengan perkembangan sektor properti lainnya, Anton Sitorus, kepala riset dan konsultasi di Savills Indonesia mengatakan bahwa pasar properti di Jakarta diperkirakan akan mencatat pertumbuhan yang lebih tinggi dibanding tahun lalu. Tingkat penyerapan dan penjualan di proyek-proyek eksisting maupun yang sedang dibangun diharapkan mulai mengalami kenaikan yang signfikan di semester kedua. Pembangunan infrastruktur yang mendorong investasi dan distribusi ekonomi serta ditopang tren menurunnya suku bunga diharapkan menjadi faktor positif penggerak pertumbuhan pasar tahun ini dan kedepan, demikian kata Anton. (PIT)