Selasa, 05/04/2011

Rumah Supermurah bagi Orang Miskin

-jktproperty.com
Share on: 658 Views
Rumah Supermurah bagi Orang Miskin

JAKARTA: Di balik bangkitnya pasar properti Asia yang ditandai dengan dibukukannya transaksi properti yang mencapai US$63 miliar pada 2011, pemerintah di negara-negara Asia tampaknya tetap peduli terhadap pemenuhan kebutuhan rakyatnya akan rumah murah, terutama rumah untuk masyarakat miskin dengan harga murah.

Bulan lalu Presiden Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono mengisyaratkan bahwa pemerintah akan membangun banyak rumah murah seharga Rp20 juta-Rp25 juta dengan ukuran 36 m2. Bahkan untuk tunawisma yang biasa tinggal di kolong jembatan, pemerintah Indonesia akan membangun rumah super murah dengan harga Rp5 juta-Rp10 juta per unit dengan skema kredit lunak.

Yudhoyono mengatakan, rumah sangat sederhana yang dijanjikan pemerintah merupakan jalan yang baik daripada membiarkan masih adanya masyarakat yang tinggal di bawah jembatan atau tempat lain yang tak layak. “Kita mulai dengan program rumah sangat murah. Untuk rakyat yang berkategori sangat miskin atau miskin. Harga dalam bayangan kita itu Rp5 juta sampai Rp10 juta karena sangat murah,” katanya. Selain itu, untuk petani penggarap dan nelayan serta buruh kelas bawah yang berpenghasilan rendah, pemerintah juga menjanjikan rumah murah seharga Rp20 juta hingga Rp25 juta. Dalam konsep rumah murah ini, pemerintah akan membantu sebagian dana pembelian rumah tersebut.

Pemerintah menargetkan rumah murah ini bisa mencapai jutaan unit dalam waktu 5-10 tahun ke depan. Saat ini, Kementerian Perumahan Rakyat juga tengah menyiapkan konsep rumah super murah seharga Rp9 juta untuk tipe 36 dan Rp5 juta untuk tipe 21. Menteri Perumahan Rakyat Suharso Monoarfa mengatakan inspirasi rumah supermurah itu muncul saat mengunjungi India dimana pemerintahnya bisa mengembangkan rumah supermurah dengan US$300. Wacana pemerintah membangun rumah supermurah itu langsung ditanggapi pengembang yang menilai harga semurah itu hanya bisa dilakukan dengan tidak menghitung biaya atas tanas yang memang sangat tinggi. Apalagi dibangun di perkotaan. “Kalau tidak menghitung harga tanahnya dan hanya fisik bangunannya saja, mungkin bisa, itupun dengan ukuran yang kecil,” ujar Ketua Umum Real Estate Indonesia Setyo Maharso.

Dia menilai, sah-sah saja bila pemerintah punya wacana membangun rumah supermurah. Selama ini, kata dia, pemerintah melalui Kementerian Perumahan Rakyat, fokus membangun rumah sederhana dengan ukuran 36 m2 seharga Rp60 juta-Rp80 juta per unit. Sedangkan untuk rumah dengan harga Rp5 juta-Rp10 juta, bisa dibuat asalkan pemerintah menyediakan tanahnya. “Bangunannya pun paling hanya berukuran 3 x 3 m2 atau 3 x 5 m2, dengan catatan bahan bangunannya dikombinasikan dengan unsur bambu atau seng sebagai atapnya,” katanya. Memang, dengan bujet minim tersebut banyak orang menyangsikan rumah tersebut bakal tidak layak huni.

Menurut Direktur Utama Perumnas (BUMN perumahan) Himawan Arief Sugoto, meski harganya murah, rumah supermurah itu dijamin tetap layak huni. Rumah itu tetap berdinding dan diplester, namun atapnya bukan genteng melainkan seng atau asbes. “Bangunannya tipe modelnya low house, ada plester, ada plafon, atap rumah pakai seng atau asbes, dinding semua full, ini benar-benar rumah layak. Hanya lantainya floor, kamar mandi pun ada, dengan tipe 36 yang layak itu kan per jiwa 9 meter persegi dikali 4 jadi 36,” jelas Himawan. Perumnas merupakan BUMN yang akan ditugaskan untuk membangun 100.000 unit rumah super murah ini.

Rencananya, Perumnas akan mendapatkan dana public service obligation (PSO) sebesar kurang lebih Rp500 miliar untuk mengemban tugas ini. Himawan mengungkapkan, pemerintah akan membangun rumah super murah ini di beberapa wilayah di Jawa dan luar Jawa. Namun untuk Bali dan Jakarta, belum diputuskan apakah akan dibangun rumah murah mengingat harga tanahnya yang mahal. “Di Jawa juga ada, di Jawa Timur ada sekitar Malang, kita coba juga di sekitar Jawa Barat di Maja, kemungkinan juga di sekitar Jawa Tengah dan Yogyakarta, luar Jawa juga banyak. Yang masih belum terindentifikasi adalah Bali dan DKI, karena harga tanahnya sudah tinggi,” ujarnya.

Himawan mengungkapkan, untuk pembangunan 100.000 unit rumah itu kebutuhan tanahnya bisa mencapai 1 juta hektar. “Kalau setiap satu hektar itu bisa dibangun ada 80 rumah karena yang dipakai itu 60% sisanya kan untuk infrastruktur. Berarti kalau butuh 40.000 rumah saja itu membutuhkan 500.000 hektar, itu yang harus dicarikan. Kebutuhannya diharapkan ada 1 juta hektar untuk membangun 100.000 rumah,” katanya.

Indonesia Terlambat

Pengembangan rumah sangat murah di berbagai belahan dunia sudah lama dilakukan oleh negara-negara seperti India, China, dan Vietnam. Sementara Indonesia dinilai terlambat mengembangkan rumah supermurah. Presiden Federasi Real Estat Internasional (FIABCI) Asia Pasifik Teguh Satria mengatakan, negara-negara di dunia mengembangkan perumahan sangat murah dengan skala dan konsep yang berbeda.

“Di seluruh dunia, seperti di China, India, Vietnam yang pernah saya lihat. Di China sebagian besar high rise building, paling kecil dengan ukuran 60 m2,” katanya. Menurutnya hingga kini China termasuk negara yang banyak mengembangkan rumah apartemen sangat sederhana karena penduduknya banyak sekali. Sementara pemerintah India, meskipun berpenduduk besar justru lebih memilih rumah landed house.

“India murah, rakyatnya banyak sekali dengan dibuat landed house, kalau China justru membangun rumah murah ke atas, bangunan vertikal,” katanya. Sementara itu pemerintah China diketahui mempersiapkan dana sekitar US$200 miliar (1,3 triliun yuan) atau sekitar Rp1.800 triliun untuk membangun dan merenovasi 10 juta unit apartemen yang diperuntukkan bagi masyarakat miskin.

Kebijakan itu dibuat untuk merespons kekhawatiran publik tentang melonjaknya harga harga properti di China. Pemerintah China pun berpikir keras untuk tetap bisa memberikan rumah bagi masyarakat miskin. Menurut Wakil Menteri Perumahan dan Pembangunan Pedesaan China, Qi Ji, dana hingga US$200 miliar itu akan digunakan untuk merenovasi ataupun membangun 10 juta unit apartemen bagi masyarakat berpendapatan rendah selama 2011 ini. Semua level pemerintahan akan menyediakan dana lebih dari 500 miliar yuan dari total investasi, dan sisanya akan dikumpulkan dari berbagai perusahaan dan keluarga yang akan mendapatkan keuntungan dari program tersebut.

Pemerintah selanjutnya akan membuat kebijakan yang mendukung seperti pinjaman, subsidi ataupun insentif pajak guna mendukung konstruksi apartemen-apartemen murah tersebut. “Dengan saluran pembiayaan terkini dan dukungan kebijakan-kebijakan baru, saya yakin ini secara penuh dapat berjalan sehingga kita dapat mewujuadkan tugas membangun 10 juta apartemen untuk masyarakat berpenghasilan rendah,” ujar Qi.

Media-media milik negara sebelumnya melaporkan pemerintah tidak bisa memenuhi target untuk membangun 5,8 juta rumah murah pada tahun lalu. Harga properti yang melonjak dan tingginya inflasi telah menjadi kekhawatiran masyarakat dan para pemimpin di China. Mereka khawatir jika inflasi dan harga-harga properti tak dikendalikan, maka bisa memicu gejolak sosial. Kalau di China rakyatnya berlomba-lomba menempatu apartemen murah yang dibangun pemerintah, di Indonesia justru sebaliknya. Pemerintah sebelumnya memang sudah mencanangkan pembangunan apartemen murah untuk masyarakat berpenghasilan rendah dalam program pembangunan 1.000 tower rumah susun sederhana. Namun nyatanya, sebanyak 74 tower dari 78 tower yang sudah dibangun ditelantarkan dan tidak berpenghuni. (JR)