Senin, 01/12/2014

Rumah Rp500 Juta-Rp1,5 Miliar Paling Dilirik Konsumen

-jktproperty.com
Share on: 728 Views
Rumah Rp500 Juta-Rp1,5 Miliar Paling Dilirik Konsumen
Foto: Ilustrasi.
MINAT KONSUMEN: Rumah dengan harga Rp500 juta-Rp1,5 miliar pasarnya sangat besar dan demand tinggi karena cicilan kreditnya paling Rp12 juta-Rp15 juta per bulan. Untuk suami istri yang gaji gabungannya Rp30 juta-Rp35 juta per bulan, mereka masih punya kemampuan mencicil.

JAKARTA, jktproperty.com – Rumah dengan range harga jual Rp500 juta-Rp1,5 miliar paling banyak dilirik konsumen perumahan di Indonesia. Masyarakat menilai kisaran harga tersebut masih membuat mereka ‘bernafas’ dengan kewajiban cicilan setiap bulannya.

Menurut┬áCFA Trimegah Securities Sebastian Tobing dalam diskusi “The Future of Real Estate In The Emerging Markets” yang diselenggarakan pekan lalu di Jakarta, harga properti sejak dua tahun terakhir mengalami peningkatan signifikan dan rumah dengan harga di bawah Rp2 miliar per unit menjadi incaran konsumen.

“Rumah dengan harga Rp500 juta-Rp1,5 miliar pasarnya sangat besar dan demand tinggi karena cicilan kreditnya paling Rp12 juta-Rp15 juta per bulan. Untuk suami istri yang gaji gabungannya Rp30 juta-Rp35 juta per bulan, mereka masih punya kemampuan mencicil,” katanya.

Lebih lanjut dia mengatakan rumah atau hunian yang dibanderol seharga Rp3 miliar ke atas sepi permintaan. Sebab pembeli rumah itu harus merogoh uang pembayaran rumah lebih besar sekira Rp40 juta per bulan. “Kalau mau beli rumah itu dengan cicilan sebesar Rp40 juta per bulan, tentu gaji kita harus Rp80 juta per bulan. Besar sekali. Sedangkan untuk harga Rp 2,5 miliar, cicilannya Rp20 juta per bulan. Ini memberatkan juga,” kata dia.

Namun, lanjut dia, rumah yang dibanderol di bawah Rp 500 juta pun belum tentu laris manis seperti kacang goreng. “Bahkan kami melihat pasar rumah seharga itu saat ini mengalami kesulitan dan peminatnya sangat terbatas.”

Sementara itu Konsultan Trimegah Securities Tim Alamsyah pada kesempatan yang sama mengungkapkan, maraknya pembangunan pabrik otomotif di kawasan industri Jababeka mendorong permintaan rumah semakin besar. Dalam pandangannya, Jakarta Timur dan Bekasi masih banyak memiliki potensi untuk dikembangkan. Manager perusahaan otomotif harus tinggal di wilayah dekat dengan Jababeka. “Apalagi ekspatriat yang membutuhkan hunian berfasilitas menengah ke atas, jadi Bekasi kena imbasnya dari sana,” katanya.

Dia mengatakan pembangunan infrastruktur dapat mendongkrak perekonomian di suatu daerah. Dengan begitu, pendapatan warga setempat terdorong naik. Contohnya, kata dia, daerah Serpong, Tangerang. Pada akhir 1990-an, perumahan yang dibangun di kawasan tersebut hanya untuk menengah ke bawah. Namun seiring berjalannya waktu di era 2008-2010, lokasi ini tak lagi untuk kalangan menengah bawah, melainkan kalangan elite. (PIT)