Jumat, 04/10/2019

Rencanakan Spin Off Unit Syariah, BTN Butuh Dana Minimal Rp 4,5 Triliun

-jktproperty.com
Share on: Facebook 437 Views
Rencanakan Spin Off Unit Syariah, BTN Butuh Dana Minimal Rp 4,5 Triliun
Foto: Ist
SPIN-OFF UUS BTN: PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) mengaku tengah serius untuk merealisasikan pemisahan UUS menjadi BUS pada tahun 2020. Hal ini terkait kebijakan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah mewajibkan bank umum nasional yang memiliki Unit Usaha Syariah (UUS) untuk melakukan aksi korporasi, pemisahan (spin off) UUS menjadi Bank Umum Syariah (BUS) atau entitas yang berdiri sendiri.

YOGYAKARTA, jktproperty.com – PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) mengaku tengah serius untuk merealisasikan pemisahan UUS menjadi BUS pada tahun 2020. Hal ini terkait kebijakan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah mewajibkan bank umum nasional yang memiliki Unit Usaha Syariah (UUS) untuk melakukan aksi korporasi, pemisahan (spin off) UUS menjadi Bank Umum Syariah (BUS) atau entitas yang berdiri sendiri.

Batas waktu atau tenggat yang diberikan OJK selambatnya tahun 2023. Sebelumnya, bank juga wajib menyampaikan rencana spin off UUS pada tahun 2020. Kebijakan ini tentu menjadi perhatian perbankan, khususnya bank yang belum menggelar aksi korporasi tersebut, bila tidak ingin UUS mereka dicabut izinnya.

“Selain memenuhi ketentuan regulator, aksi korporasi itu dilakukan dalam rangka memacu pertumbuhan bisnis syariah BTN. Kami optimistis langkah strategis ini sangat tepat dan akan terealisasi pada tahun 2020,” kata Direktur Konsumer BTN, Budi Satria dalam acara Media Gathering 2019 di Yogyakarta, Jumat (4/10/2019).

Disampaikan Budi, Unit Usaha Syariah BTN memiliki prospek yang baik, karena fokus bisnisnya adalah pembiayaan perumahan yang permintaannya terus meningkat. Ini tercermin dari kinerja UUS BTN per Juni 2019 yang mencatat pembiayaan sebesar Rp 23,16 triliun atau tumbuh 16,54% secara year on year (YoY).

Begitu pula dengan dana pihak ketiga (DPK) yang tercatat tumbuh 18,5% menjadi Rp 23,03%. Adapun total asetnya mencapai Rp 29,17 triliun atau menunjukan pertumbuhan sebesar 19,67%.

Terkait langkah merealisasikan aksi korporasi tersebut Direktur BTN, Nixon L Napitupulu mengatakan, saat ini pihaknya tengah melakukan kajian untuk memilih sejumlah opsi dalam merealisasikan spin off.

“Untuk membentuk BUS, BTN butuh modal tambahan sebesar Rp 4,5 triliun hingga Rp 5 triliun. Angka tadi merupakan persayaratan bila BTN ingin memiliki 100% BUS tersebut dengan posisi capital adequacy ratio (CAR) minimal 15%,” urai Nixon.

Nixon mengatakan, sejumlah opsi yang bisa dilakukan dalam rangka merealisasikan spin off tersebut diantaranya menyiapkan seluruh modal senilai Rp 4,5 triliun tadi, atau menggendeng investor strategis dengan konsekwensi berbagi kepemilikan.

Bila opsi kedua yang dipilih, Nixon memastikan BTN harus menjadi pemegang saham mayoritas pada BUS. Komposisinya bisa 65% BTN dan 35% buat partner strategis tadi. Bisa juga komposisi saham yang dikempit BTN lebih besar lagi.

Langkah ini bisa juga ditempuh dengan mengakuisisi BUS yang eksisting. Diakui Nixon pihkanya sudah melakukan penjajakan akusisi pada dua bank syariah, namun keduanya belum memenuhi persyaratan yang diharapkan BTN.

“Jadi kekurangan UUS BTN kan terkait pengumpulan funding, nah kita cari bank syariah yang memiliki keunggulan disisi itu, agar bisa saling melengkapi,” katanya.

Selain dua opsi tadi, BTN juga membuka kemungkinan penggabungan (merger) dengan BUS bank BUMN lain. Menurutnya beberapa bank sudah melakukan pembicaraan untuk memilih opsi ketiga tadi.

“Kalau kita pilih merger dengan unit syariah bank lain, positifnya banyak, pertama modal yang haus disiapkan tidak sebesar angka Rp 4,5 triliun tadi (tergantung berapa saham yang dikehendaki), Kedua rata-rata teknologinya sudah jalan, jadi tidak perlu capex besar, selain itu jaringan bisnisnya sudah luas sehingga juga tidak perlu capex yang besar lagi,” ujarnya.

Kendati mempertimbangkan sejumlah opsi, BTN menurut Nixon juga tengah menunggu kepastian atas kebijakan lanjutan terkait bank syariah. Karena saat ini terdapat dua wacana yang berkembang, yaitu ada kemungkinan pemerintah akan melakukan konsolidasi bank – bank bank syariah milik pemerintah menjadi hanya dua bank BUMN saja.

Kemudian wacana terkait spin off UUS itu sendiri, sambil memperluat fokus bisnis bank setelah spin off. “Untuk BTN Syariah sendiri nantinya tetap akan fokus pada pembiayaan perumahan,” imbuhnya. Tapi kembali lagi untuk konsolidasi bank syariah BUMN hingga kini belum terdapat pengumuman resmi dari pemerintah selaku pemegang saham.

Menanggapi aksi korporasi pemisahan UUS menjadi BUS BTN, Ketua Umum Asosiasi Analis Efek Indonesia, Haryajid Ramelan berpendapat, langkah ini sangat positif apalagi dikaitkan dengan potensi permintaan perumahan.

Haryajid berharap aksi korporasi ini nantinya berlanjut dengan membawa BUS BTN ke lantai bursa pada tahun 2021 atau 2022. “Dampak positif spin off ini cukup banyak, terutama dalam rangka mengummpulkan funding, BUS bisa melakukan IPO dan juga menerbitkan sukuk korporasi,” ujarnya. (EKA)