Senin, 21/03/2011

Pukulan Telak bagi Properti Jepang

-jktproperty.com
Share on: 414 Views
Pukulan Telak bagi Properti Jepang

JAKARTA: Gempa dasyat berkekuatan 9 skala Richter yang disertai gelombang tsunami yang menerjang pantai timur laut Jepang dan memakan korban jiwa sekitar 18.000 orang pada 11 Maret lalu sungguh memporak-porandakan perekonomian Jepang. Dari sisi kerugian, Bank Dunia memperkiraan jumlahnya mencapai US$235 miliar. Lantas, bagaimana prospek industri properti Jepang pasca gempa dan tsunami?

Jepang diperkirakan butuh waktu lima tahun untuk memulihkan kembali ekonominya dari kehancuran setelah tragedi gempa bumi dan tsunami 11 Maret lalu. Bencana alam itu membuat Jepang menderita kerugian hingga US$235 miliar. Penilaian itu diumumkan oleh Bank Dunia, akhir Maret lalu. Menurut Bank Dunia, tragedi 11 Maret kemungkinan akan mengurangi pertumbuhan ekonomi Jepang tahun ini sebesar 0,5 basis poin. Bencana itu telah menewaskan lebih dari 18.000 jiwa dan menghancurkan banyak kota di kawasan timur laut Jepang Sementara CNNMoney memprediksi kerugian akibat bencana tersebut bisa mencapai US$100 miliar atau sekitar Rp900 triliun, termasuk US$20 miliar kerusakan perumahan dan US$40 miliar kerusakan infrastruktur seperti jalan, rel, dan fasilitas pelabuhan. Bahkan ada yang memprediksi angka kerugian itu akan terus naik dan bisa mencapai Rp1.500 triliun.

Bank sentral Jepang mengumumkan rencana menyuntikkan dana segar 15 triliun yen atau sekitar Rp1.670 triliun ke sistem keuangan untuk meyakinkan investor global dan stabilisasi pasar keuangan. Bank of Japan juga telah mengalokasikan 5 triliun yen atau sekitar Rp556 triliun untuk pembelian aset berisiko. Pembelian ini untuk meningkatkan kepercayaan pasar saat terguncang bencana. Namun, pasar Jepang tetap menurun tajam.

Senin, atau tiga hari setelah bencana tersebut Indeks Nikkei 225 turun lebih dari 6,2 persen. Penurunan tersebut, terbesar sejak Desember 2008, saat krisis keuangan Asia terjadi. Gempa dasyat dan tsunami di Jepang datang saat perekonomian Jepang rapuh. Perekonomian Jepang merosot menjadi terbesar ketiga di dunia setelah China pada 2010.

China mengambil alih posisi Jepang sebagai negara terkaya kedua di dunia setelah Tokyo mengumumkan angka ekonomi mereka sebesar US$5,474 triliun di akhir tahun 2010, sementara China mendekati US$5,8 triliun di periode yang sama. Tahun lalu ekonomi Jepang terpukul akibat menurunnya angka ekspor dan permintaan konsumer, sementara China menikmati ledakan manufaktur. Dengan angka pertumbuhan seperti saat sini, pengamat menilai China sepertinya juga akan mengambil alih AS sebagai negara terkaya di dunia dalam satu dekade.

Pada kuartal IV 2010 pertumbuhan ekonomi Jepang turun tipis 0,3% menjadi 1,1% karena turunnya pembelian produk otomotif. Walaupun diperkirakan turun sekitar 0,5% tetapi masih lebih rendah dari pertumbuhan AS sebesar 3,2% pada kuartal yang sama. Bisnis Jepang yang sebagian besar ekspor juga tengah dilanda krisis keuangan. Mata uang yen terus menguat, sehingga keuntungan perusahaan-perusahaan dalam negeri terus merosot. Pembangunan kembali dari gempa juga akan menambah beban utang Jepang. Lembaga pemeringkat, Standard & Poor’s, menurunkan peringkat kredit jangka panjang Jepang di bulan Januari, menyusul besarnya defisit fiskal negara tersebut. Standard & Poor’s telah memangkas peringkat Jepang satu notch dari “AA” menjadi “AA-“. Lembaga pemeringkat internasional itu mulai mengkhawatirkan tingkat utang Jepang yang mencapai 200% dari PDB yang merupakan tertinggi dibandingkan negara maju lainnya.

Jepang diprediksi akan mengalami guncangan ekonomi secara temporer, sebelum akhirnya bisa menggeliat lagi setelah rekonstruksi. Namun biaya untuk rekonstruksi wilayah Jepang itu akan memperburuk posisi utang Jepang yang kini sudah tinggi. Kondisi perekonomian Jepang saat ini dinilai lebih buruk ketimbang tahun 1995, ketika terjadi gempa di Kobe. Akibat gempa di Kobe 16 tahun silam itu, perekonomian Jepang sempat menyusut hingga 2% sebelum akhirnya membaik. Namun perekonomian Jepang saat ini lebih lemah karena besarnya utang yang mencapai 2 kali lipat dari PDB negara tersebut yang sebesar US$5 triliun.

Di sektor properti kerugian yang ditaksir industri ini untuk residensial dan komersial bisa mencapai lebih dari US$35 miliar. New York City-based SNL Financial memperkirakan banyak perusahaan AS yang menanamkan investasinya di Jepang akan terpukul akibat gempa dan tsunami dasyat tersebut, mereka a.l. adalah Starwood Hotels & Resort Worldwide, ProLogis, Simon Property Group dan AMB Property. Industri properti Jepang selama ini memang sangat menarik bagi investor asal AS. Belum diketahui secara pasti mengenai berapa persen penurunan yang akan terjadi di pasar properti Jepang.

Namun yang jelas, seperti dilaporkan IPD (Investment Property Databank) pada Februari lalu, Japanese commercial real estate markets has fallen by almost 20% over the two and a half years to the end of the third quarter 2010, the latest data shows. Datangnya bencana alam di Jepang ini tentu akan membuat industri properti Jepang memerlukan waktu relatif lebih lama untuk segera pulih. Apalagi dengan adanya ancaman yang datang dari beberapa reaktor nuklir yang dikabarkan bocor.

Tentunya semua itu akan membawa dampak kurang menguntungkan terhadap masa depan industri properti Jepang, dimana investor baik lokal maupun dari luar negeri akan berpikir ulang terhadap rencana investasinya di negeri ini. (JR)