Senin, 03/12/2007

Proyek Properti Unggulan Pengembang di 2008

-jktproperty.com
Share on: 1032 Views
Proyek Properti Unggulan Pengembang di 2008

JAKARTA: Meroketnya harga minyak dunia yang menembus angka US$99,29 per barel akhir November lalu tentu akan memukul sektor industri nasional, tak terkecuali sektor properti. Dapat dipastikan kenaikan tersebut akan dirasakan pada harga produk material properti yang memang secara perlahan telah mengalami kenaikan selama kuartal III-2007. Untuk proyek skala kecil, merangkak naiknya harga bahan baku mungkin saja tidak terlalu mengganggu sisi finansial pengembang. Namun tidak demikian halnya dengan proyek properti skala besar. Sebut saja seperti Ciputra World Surabaya, superblok yang tengah dibangun kelompok usaha properti Ciputra melalui PT Win-Win Realty Centre, anak perusahaan PT Ciputra Surya Tbk di Surabaya. Belum lagi proyek ini digarap, investasi pembangunan Ciputra World Surabaya tahap pertama—pembangunan mal dan apartemen—membengkak 3%-4% dari proyeksi awal sebesar Rp845 miliar.

Kenaikan itu disebabkan melonjaknya harga besi dan baja. Nilai investasi itu kemungkinan bisa terus membengkak seiring naiknya bahan bangunan lain seperti semen, pasir, batu bata, dll. Siswanto Widjadja, CEO PT Procon Indah [akhir November lalu Procon Indah berafiliasi dengan Savills], mengatakan konsekuensi logis dari kenaikan harga minyak dunia itu adalah akan tertundanya jadwal penyelesaian beberapa proyek properti akibat melambungnya biaya konstruksi.

Hal ini tentu saja akan mengganggu pasok properti di pasar primer. Meningkatnya nilai investasi proyek properti tentu tidak hanya dialami Grup Ciputra, melainkan semua perusahaan properti yang merencanakan pembangunan proyeknya sejak triwulan III-2007 dan 2008. Namun, bagi sebagian besar pengembang yang sudah paham benar kalkulasi bisnis di sektor ini, pergerakkan harga bahan bangunan tampaknya tidak akan berpengaruh pada kelanjutan proyek mereka di masa mendatang.

Apalagi, menurut Bayu Utomo, Director Capital Markets PT Jones Lang LaSalle, setiap pengembang telah menyiapkan contingency cost dalam proyeknya untuk menutupi membengkaknya nilai investasi sebuah proyek properti akibat faktor-faktor ang tidak bisa diprediksi, seperti halnya kenaikan harga bahan bangunan.

“Kenaikan nilai investasi sebesar 4%-5% saya kira kecil sekali pengaruhnya terhadap kelanjutan sebuah proyek properti. Besarnya contingency cost yang disiapkan pengembang lazimnya 5%-7% dari nilai proyek. Sampai hari ini saya belum mendapat laporan akan ada pengembang yang menunda pembangunan proyeknya akibat kenaikan harga minyak dunia, meski itu harus diakui ada pengaruhnya,” kata Utomo.

Kalau toh dananya memang mepet, solusi yang akan diambil pengembang adalah menaikkan harga propertinya di pasar primer. Penyesuaian harga properti di pasar primer kemungkinan akan terus terjadi di 2008 dan daya serap pasar yang masih cukup menguntungkan membuat pengembang masih tetap berada ‘di atas angin’.

Hal itu berarti, meskipun dibayang-bayangi penundaan proyek properti akibat kenaikan harga bahan bangunan, pada 2008 mendatang, pembangun proyek properti yang dimotori pengembang papan atas akan terus berlanjut. Hampir sebagian besar pengembang menyatakan sikap optimismenya menghadapi 2008.

Optimisme itu juga diungkapkan Kosmian Pudjiadi, Chairman Jakarta Property Club yang juga bos Pudjiadi Prestige Group. Menurut dia, pelaku usaha sektor properti optimistis melihat prospek industri properti 2008. Hanya saja, demikian Pudjiadi, harus ada political will dari pemerintah untuk lebih mendongkrak pergerakkan sektor properti. Misalnya dengan menghapuskan aturan yang membatasi kepemilikan asing atas properti di Indonesia. “Tanpa itu, dalam 1-2 tahun ke depan industri ini akan jalan di tempat.”

Berikut proyek-proyek properti yang akan mulai dikerjakan pengembang pada 2008 mendatang.

Agung Podomoro Group

Dilakukannya pemancangan tiang pertama Central Park pada pertengahan September 2007 ini semakin meneguhkan kedigdayaan Agung Podomoro Group di pasar properti nasional, terutama di pasar apartemen. Central Park yang dibangun PT Tiara Metropolitan Jaya merupakan salah satu proyek properti yang akan diunggulkan kelompok usaha ini selama 2008. Proyek seluas 9 hektar di kawasan Tanjung Duren, Jakarta Barat yang nilai investasinya diperkirakan mencapai Rp2,5 triliun merupakan bagian dari megaproyek properti Podomoro City seluas 22 hektar.

Central Park yang akan menjadi flagship project Agung Podomoro Group memiliki total luas bangunan 65.000 m² yang terdiri atas satu menara gedung perkantoran 36 lantai dengan luas nett saleable area 68.500 m², hotel bintang empat 12 lantai dengan luas area gross 31.000 m² dan jumlah kamar 420 unit, tiga menara apartemen dengan jumlah unit mencapai 1.100 unit dan luas nett saleable area 85.000 m² serta mal dengan luas nett leaseable area mencapai 110.000 m².

Central Park merupakan bagian dari superblok Podomoro City yang luasnya mencapai 22 hektar. Saat ini bangunan yang telah berdiri dan sedang dibangun di Podomoro City antara lain apartemen Mediterania Garden Residences I dan II, serta apartemen Royal Mediterania Garden Residences. Total unit apartemen yang dibangun di Mediterania Garden Residences I sebanyak 2.734 unit, sedangkan di Mediterania Garden Residences II sebanyak 3.087 unit.

Sementara di Royal Mediterania Garden Residences dibangun 3.096 unit apartemen. Total penghuni yang telah mendiami unit hunian di Podomoro City ditaksir mencapai 10.000 orang. Hingga saat ini selain sejumlah proyek yang ada di Podomoro City, Agung Podomoro Group telah membangun 38 proyek yang terdiri atas landed house (13 proyek), apartemen (13), shopping center (2), dan mixused (9).

Beberapa proyek yang dikembangkan grup usaha ini adalah Gading Mediterania Residences, The Jakarta Residences, Mediterania Boulevard Residences, Thamrin Residences, Mediterania Gajah Mada Residences, Sudirman Park, dan Mediterania Lagoon Residences.

Kelompok usaha properti ini juga menggarap sejumlah proyek lain seperti Permata Hijau Residences, Mediterania Marina Residences, The Pakubuwono Residences, Mediterania Palace Residences, apartemen The Peak, dan Apartemen Menteng Eksekutif. Kemudian, Jakarta City Center, Senayan City, CBD Pluit, Seasons City, Braga City Walk, The Plaza Semanggi, Mangga Dua Square, Kelapa Gading Square, Lindeteves Trade Center, Blok M Square, Perumahan Sunter Podomoro, Bukit Golf Mediterania, Bukit Mediterania Samarinda, Telaga Gading Serpong, dan Sunter Mediterania. Selain Podomoro City, pada 2008 Agung Podomoro juga akan mengembangkan superblok Kuningan City, meski magnitudenya tidak sedasyat Podomoro City.

Di luar Jakarta, Agung Podomoro Group mulai membidik Samarinda, Kalimantan Timur, dengan merencanakan pembangunan 40 hektar proyek landed house. Rencana ini mengantisipasi rencana pemerintah daerah yang akan membangunan bandar udara di Samarinda.

Artha Graha Group

Melalui PT Danayasa Arthatama Tbk tahun depan grup usaha ini akan berkonsentrasi pada pembangunan Menara 18, gedung perkantoran 5 tower di lot 18 Sudirman Central Business District (SCBD). Masing-masing tower terdiri dari 5.000-6.000 m2 ruang perkantoran. Artinya, Menara 18 akan mensuplai 25.000 m2-30.000 m2 ruang perkantoran strata-title. Sebanyak 70% atau 17.500 m2-22.500 m2 space office di Menara 18 akan ditawarkan kepada umum, sedangkan sisanya sebanyak 30% kemungkinan besar akan di-hold pihak pengembang.

Tuntasnya pembangunan Menara 18 maka seluruh lot yang ada di SCBD telah terisi semua. Konsentrasi pembangunan proyek properti kemungkinan besar akan diarahkan ke luar Jakarta. Melalui Artha Graha Network, kelompok usaha ini menjadi inisiator pembangunan Jembatan Selat Sunda (Sunda Strait Bridge) yang nilai investasinya ditaksir mencapai US$10 miliar atau sekitar Rp92 triliun.

Bakrie Group

Tahun depan konsentrasi Bakrie Group yang hingga Juni tahun ini memiliki aset Rp5,29 triliun tampak akan diarahkan pada proyek superblok Rasuna Epicentrum seluas 44,7 hektar di kawasan central business district (CBD), selain tentunya beberapa proyek resort di Bali seperti Bali Nirwana Resort dan Legian Nirwana Suite.

Melalui PT Bakrieland Development Tbk, Bakrie Group terlihat akan antusias menggarap pasar properti di Bali. Selain Legian Nirwana Suite, sedikitnya dua proyek kondominium hotel (kondotel) akan digarap kelompok usaha ini di Bali. Sedangkan untuk Rasuna Epicentrum, batal pindahnya Bursa Efek Jakarta dari kawasan Sudirman ke Kuningan tampaknya tidak akan membuat Bakrie Group kewalahan menggaet anchor tenant untuk proyek properti perkantorannya mengingat tren permintaan ruang perkantoran di kawasan CBD selama kuartal III-2007 mengalami peningkatan. Hanya saja yang perlu diwaspadai dalam 2-3 tahun ke depan adalah akan beroperasinya superblok Ciputra Group, Pakuwon Group, dan superblok yang dikembangkan Agung Podomoro Group di kawasan ini.

Ciputra Group

Setelah melakukan konsolidasi keuangan dalam 2-3 tahun belakangan ini, di akhir 2007 Ciputra Group terlihat serius dengan dua megaproyeknya, yakni Ciputra World di Jakarta dan Ciputra World Surabaya dengan total nilai proyek ditaksir mencapai Rp7 triliun. Ciputra World Jakarta yang akan dibangun PT Ciputra Adigraha—perusahaan patungan yang sahamnya dimiliki PT Ciputra Development Tbk, Peninsula Group asal Hong Kong dan Natsteel Corporation Singapura—menempati lahan seluas 12 hektar di Jl. Prof. Dr. Satrio (kawasan Casablanca, Kuningan) sebenarnya merupakan proyek lama Ciputra Group. Proyek ini pada 1996 diberi nama Grand Mall Ciputra.

Namun karena 1997 terjadi krisis ekonomi yang menyeret Ciputra Group pada problem finansial yang sangat berat (utang dalam US dolar PT Ciputra Development Tbk saat itu mendekati US$122 juta), baru tahun ini atau satu dekade kemudian proyek tersebut diteruskan dan namanya diubah menjadi Ciputra World. Pembangunan superblok Ciputra World yang dijadwalkan rampung 2010 terbagi dalam dua tahap. Pada tahap pertama akan dibangun mal lima lantai seluas 100.000 m2 dan dijadwalkan selesai 2009.

Sedangkan tahap kedua yang dijadwalkan selesai 2010 PT Ciputra Adigraha akan membangun 400 unit apartemen, 300 kamar hotel bintang lima, dan gedung perkantoran seluas 40.000 m2. Pihak pengembang optimistis dengan relatif rendahnya inflasi, penurunan BI rate yang memicu turunnya suku bunga kredit properti dan tren pertumbuhan ekonomi nasional yang moderat, proyek Ciputra World dapat diterima pasar.

Memang, salah satu selling point proyek-proyek properti Ciputra Group adalah merek Ciputra itu sendiri. Kepercayaan konsumen terhadap brand ini mungkin masih akan mampu mengerek angka penjualan Ciputra Group dalam 1-2 tahun ke depan. Tapi, siapa pun pengembangnya, siapa pun nama besar di belakang proyek tersebut, hukum supply dan demand tidak bisa dikesampingkan begitu saja dalam pasar properti.

Untuk ruang ritel misalnya, dengan suplai baru 100.000 m2, Ciputra Group harus bersaing ketat dengan mal yang sudah existing di sekitar kawasan ini, yakni Mal Ambassador dan Plaza Semanggi. Belum lagi pasok ruang ritel sebesar 70.000 m2 yang akan disumbangkan Kota Kasablanka [Pakuwon Group] yang pembangunannya hampir bersamaan dengan Ciputra World plus Kuningan City yang tengah dipersiapkan Agung Podomoro Group.

Bila tenant mix dan diferensiasi produk tidak berjalan dengan baik, bisa dipastikan ritel di kawasan ini akan mengalami over-supply. Sedangkan di Surabaya, Ciputra Group punya obesesi menjadikan Ciputra World Surabaya sebagai proyek mixed use properti terbaik. Di proyek seluas 7,7 hektar yang berlokasi di Jl. Mayjen Sungkono ini Ciputra Group akan membangun enam tower apartemen yang terdiri dari 1.500 unit, satu menara perkantoran, satu menara hotel berbintang, dan satu pusat perbelanjaan seluas 150.000 m2.

Belum lagi megaproyek ini dibangun, pihak Ciputra Group mengungkapkan beberapa peritel besar telah menyatakan komitmennya untuk masuk di pusat perbelanjaan Ciputra World Surabaya. Bahkan, pihak pengembang mengklaim 50% areal ritelnya atau sekitar 75.000 m2 akan terisi. Tak heran bila perseroan mengestimasikan recurring income dari pusat perbelanjaan akan mencapai Rp150 miliar per tahun dan pendapatan itu bisa direalisasikan pada pertengahan 2009. Itu belum termasuk pendapatan dari hotel, ruang perkantoran, atau apartemen sewa. Untuk ritel, Ciputra World Surabaya tampaknya bisa bernafas lega.

Setidaknya dengan mengantongi komitmen dari peritel besar dan ekspektasi bahwa 50% ruang ritelnya pasti akan terisi saat mal dioperasikan, kemungkinan besar Ciputra Group bisa menuai sukses. Tapi yang sedikit mengkhawatirkan adalah 1.500 unit apartemen yang akan disuplai kelompok usaha ini dalam kurun waktu dua tahun ke depan.

Dengan harga di kisaran Rp1 miliar per unit, rasanya sulit memetik sukses pada penjualan apartemen strata-title, mengingat pasar apartemen Surabaya masih didominasi apartemen dengan harga di bawah Rp1 miliar per unit.

Bahkan apartemen dengan harga di bawah Rp500 juta punya pangsa paling besar di kota ini. Akan halnya apartemen sewa, faktanya selama ini di pasar tengah terjadi kompetisi yang sengit antara hotel berbintang dan apartemen sewa (serviced apartment).

Duta Anggada

Setelah sukses memasarkan CityLofts Sudirman, apartemen dengan konsep small office home office (SOHO), kondominium Cik Ditiro, dan perumahan mewah Pulomas Residence, Duta Anggada Group selama 2008 akan berkonsentrasi dalam memasarkan sebuah proyek prestisius The St. Regis Hotel & Residences, CityLofts Gajah Mada, dan beberapa proyek lainnya.

Akhir November lalu, pihak pengembang telah melakukan soft opening CityLofts Sudirman yang okupansinya telah mencapai 97%. Dibandingkan dengan proyek properti lainnya, The St. Regis Hotel & Residences yang direncanakan akan beroperasi pada 2011 tampaknya akan menjadi fokus perhatian grup properti ini. Terdiri dari 176 kamar hotel dan 284 unit kondominium, proyek ini nantinya akan menjadi salah satu landmark di Jl. Jend. Sudirman, Jakarta. Meskipun pasar kondominium kelas atas, terutama untuk yang branded diprediksi masih tetap akan laku keras di pasar primer, Duta Anggada yang ber-partner dengan Starwood Hotels & Resorts Worldwide Inc., terlihat sangat hati-hati dalam hal menentukan timing pembangunan The St. Regis Hotel & Residences.

Gapura Prima Group

Selama dua dekade Gapura Prima Group telah membangun lebih dari 30 proyek properti a.l. pusat perbelanjaan (Bekasi Trade Center, Bandung Trade Center, Solo Grand Mall, Serpong Town Square, The Bellezza Shopping Arcade, dan Pusat Grosir Solo); hotel (Aston Serpong Town Square, The Bellezza Permata Hijau, dan Majesty Service Apartment); apartemen (Majesty Apartment Bandung, The Bellagio Residence, The Bellagio Mansion, Serpong Town Square Residence, Setiabudi Apartment Bandung, dan Ciumbeleuit Apartment Bandung); perumahan (Anyer Palazo, Gardenville Setiabudi, City Square, Taman Rafflesia, Bukit Cimanggu City, Depok Maharaja, dan Kayuputih Indah); dan perkantoran Gapura Office Tower. Selain itu, konsentrasi Gapura Prima Group tahun depan juga akan dicurahkan pada proyek Kebagusan City, apartemen 40 tower yang diperuntukkan bagi kelas menengah bawah dengan nilai investasi Rp950 miliar dan dijadwalkan selesai pembangunannya pada 2016.

Pembangunan Kebagusan City—proyek kerjasama Gapura Prima Group dengan Pemprov DKI Jakarta—terbagi dalam tiga tahap. Tahap pertama pengembang akan membangun 15 tower senilai Rp350 miliar yang dimulai pada kuartal I-2008 dan dijadwalkan selesai 2011. Tahap kedua akan dibangun 15 tower dengan nilai investasi yang sama dengan tahap pertama dengan masa pembangunan 2011-2014. Kemudian pada tahap tiga, pengembang akan membangun 10 tower senilai Rp250 miliar dengan periode pembangunan 2014-2016.

Selama 2008 kelompok usaha properti yang dinahkodai Rudy Margono ini akan berkonsentrasi pada penyelesaian proyek-proyek yang sudah existing dan penjualan unit-unit apartemennya. Namun yang menarik dari Gapura Prima Group adalah ancang-ancang mereka membangun proyek besar pada 2008. Beberapa proyek tersebut masing-masing Bellezza City Batam.

Proyek seluas 25 hektar ini merupakan proyek mixed use property yang terdiri dari 30 blok apartemen, 4 office tower dan sebuah megamal. Selain itu, di Jakarta kelompok usaha properti ini juga akan membangun Bellezza Plaza seluas 50.000 m2 di kawasan Gatot Subroto, Bellezza Resort di kawasan Ancol seluas 1,9 hektar, Belezza Town Tendean seluas 40.000 m2, dan Hipmi Tower, juga di kawasan Gatot Subroto seluas 5 hektar. Hingga saat ini pihak Gapura Prima Group belum bisa memastikan kapan proyek-proyek barunya akan mulai digarap.

Menurut Rudy Margono, bos Gapura Prima Group yang juga presiden direktur PT Perdana Gapuraprima Tbk, kelompok usaha ini merencanakan initial public offering beberapa anak perusahaan di 2008. Selain rencana menerbitkan REIT di Singapura dengan menggandeng Amanah Raya Berhad yang hingga kini masih dalam proses.

JSI Group

Sukses memasarkan apartemen Setiabudi Residences di kawasan Setiabudi, Kuningan, Jakarta Selatan, Jakarta Setiabudi International melalui PT Copylas Indonesia—perusahaan patungan antara JSI dan Itochu Corporation, Jepang—sepanjang 2008 akan memfokuskan diri pada proyek perumahan Puri Botanical Residence di kawasan Joglo, Jakarta Barat. Konsep perumahan hasil kerjasama dengan pihak Kebun Raya Bogor ini memang baru, yakni dengan mengetengahkan taman botanik seluas 1,2 km yang di dalamnya terdapat 12.000 spesies tumbuhan.

Dengan mengantongi lahan 150 hektar, dalam beberapa tahun ke depan praktis JSI Group akan mengkonsentrasikan diri pada penjualan unit-unit rumah di proyek ini dan diharapkan mampu men-drive keuntungan perusahaan yang membukukan kerugian lebih dari Rp24 miliar per Juni 2007 lalu.

Lippo Group

Di dalam negeri tahun depan Lippo Group masih akan berkonsentrasi di proyek City of Tomorow Surabaya dan Kemang Village Jakarta. Di proyek City of Tomorow, pihak Lippo Group pada 15 Desember 2007 akan mengoperasikan mal empat lantai seluas 42.000 m2. Sedangkan untuk kondominium sebanyak 246 unit yang mulai dipasarkan pada kuartal I-2006 hingga kini belum terjual habis, baru terjual 70% dengan range harga Rp600 juta hingga Rp1,8 miliar per unit.

Pemantauan di pasar memperlihatkna memperlihatkan bahwa apartemen yang paling diminati orang Surabaya adalah apartemen di kisaran harga Rp500 juta ke bawah atau Rp500 juta-Rp1 miliar per unit. Artinya, untuk mencapai angka penjualan 100% Lippo harus mengeluarkan strategi jitunya, mengingat serbuan kondominium baru yang ditawarkan dengan pola pre-sales pada 2008 di Surabaya sangat melimpah. Satu kunci kekuatan Lippo Group adalah ketepatan waktu dalam menyelesaikan pembangunan proyek-proyek propertinya.

Untuk kondominium misalnya, jadwal penyelesaian proyek di awal kuartal II-2008 agaknya bisa menjadi pemicu yang mampu menarik konsumen untuk memilih produk properti yang dibangun Lippo Group. Berbeda dengan kondisi Surabaya, bendera Lippo Group tampaknya akan berkibar di proyek Kemang Village, sebuah proyek mixed use properti prestisius di kawasan Kemang, Jakarta Selatan. Di kuartal awal 2007 kelompok usaha ini me-launch proyek properti superblok prestisius Kemang Village.

Di atas lahan seluas 12,5 hektar ini akan dibangun kondominium, hotel bintang lima, rumah sakit, sekolah nasional plus, dan pusat perbelanjaan kelas dunia dengan investasi US$880 juta atau hampir Rp8 triliun. Tidak tanggung-tanggung. Di superblok yang dilengkapi dengan helipad untuk memudahkan penghuninya menuju bandara Soekarno-Hatta dan keperluan bisnisnya ini, Lippo membangun 7 tower apartemen dengan total unit mencapai 1.500. Pada tahap pertama dibangun 3 tower, yakni The Ritz, The Cosmopolitan, dan The Empire yang dijual dengan harga Rp800 juta-Rp2,3 miliar per unit Sejak Juli 2007 total unit yang telah dipasarkan mencapai 700 dan 70% di antaranya sudah terjual. Mulai tahun depan pihak Lippo akan membangun 3 tower lainnya. Dengan total unit kondominium sebanyak 1.500 kontribusi grup usaha ini terhadap pasar kondominium di Jakarta sangat besar.

Pakuwon Group

Sukses dengan Pakuwon City dan superblok dalam skala kecil di kawasan Tunjungan, Surabaya, Pakuwon Group di 2008 tampak akan menggeber penjualan unit-unit properti strata-title di Gandaria City dan Kota Kasablanka, keduanya berada di Jakarta. Boleh dibilang Kota Kasablanka dan Gandaria City merupakan masterpiece Pakuwon Group di Jakarta. Gandaria City dibangun di atas lahan seluas 8,5 hektar di kawasan Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, superblok ini terdiri dari bangunan mal (Gandaria Main Street), apartemen (Gandaria Heights), office park (Gandaria 8), dan hotel berbintang lima.

Seperti pengalaman sebelumnya ketika banyak pengembang menyerbu kawasan timur Surabaya dan Pakuwon Group malah merambah bagian barat, strategi ini juga dilakukan pada proyek Gandaria City. Tak banyak pengembang Jakarta yang menggarap kawasan Kebayoran Lama, apalagi menyasarnya sebagai lokasi proyek superblok.

Tapi tidak demikian halnya dengan Pakuwon Group yang malah mengklaim kawasan Gandaria sebagai ‘jantung’ Jakarta Selatan. Untuk apartemen dan mal, dengan diferensiasi produk, Pakuwon Group kemungkinan bisa sukses memasarkan produknya. Tapi untuk ruang perkantoran, kecenderungan yang sekarang terjadi adalah meningkatnya permintaan ruang perkantoran di kawasan primer atau central business district Jakarta. Bahkan, 70% dari future supply kuartal IV-2007, sudah terserap pasar (pre-commitment).

Mengenai Kota Kasablanka yang akan memasok ruang ritel seluas 70.000 m2, Pakuwon Group tampaknya bisa menuai sukses sepanjang konsep malnya berbeda dengan mal yang sudah ada, mengingat di sepanjang koridor Jl. Prof. Dr. Satrio (Casablanca) hanya ada satu mal, yakni Mal Ambasador yang okupansinya terhitung sangat tinggi. Sekitar 3-4 tahun lalu mal ini terhitung sepi pengunjung. Tapi mulai 2005 lalu mal ini sudah mulai ramai dikunjungi orang seiring dengan demand properti ritel yang memang potensial di kawasan ini. Kunci persaingan dengan mal yang telah existing dan mal baru di superblok Ciputra World Jakarta adalah tenant mix dan tampaknya untuk urusan itu keandalan Pakuwon Group tak perlu diragukan lagi. (Deddy H. Pakpahan)