Senin, 24/12/2012

Prospek Bisnis Perhotelan di Indonesia Tetap Cemerlang di 2013

-jktproperty.com
Share on: 913 Views
Prospek Bisnis Perhotelan di Indonesia Tetap Cemerlang di 2013

Catatan Bisnis Perhotelan 2012 dan Prediksi 2013

jktproperty.com | TripAdvisor, situs perjalanan terbesar di dunia, akhir Juli 2012 dalam TripAdvisor Index yang merupakan survei mengenai perhotelan terbesar di Indonesia, menempatkan prospek industri hotel di Indonesia di posisi teratas dalam hal prospek dan profitabilitas. Posisi Indonesia itu mengungguli Brasil yang berada di posisi kedua, Rusia di posisi ketiga, Amerika Serikat pada posisi keempat dan India di posisi kelima.

Survei yang dilakukan TripAdvisor bukanlah sembarang survei. Hal ini mengingat institusi tersebut dalam surveinya melibatkan 25.000 responden dari pengusaha hotel di seluruh dunia, dimana 399 responden di antaranya berasal dari Indonesia. Dari hasil survei terdapat beberapa temuan penting mengenai tren industri perhotelan saat ini. Salah satu hasil utama hasil survei tersebut menyatakan, Indonesia berada di posisi pertama di dunia untuk hotel-hotel yang memiliki prospek bisnis terbaik, dan [bisnis perhotelan] benar-benar atau sangat menguntungkan pada 2012.

TripAdvisor Industry Index menegaskan iklim ekonomi saat ini, karena hotel-hotel di Asia Pasifik, Amerika Utara dan Amerika Latin memiliki kemungkinan dua kali lipat untuk mendapatkan keuntungan dalam enam bulan terakhir dibandingkan hotel-hotel di kawasan EMEA (Eropa, Timur Tengah dan Afrika). Memang harus diakui bahwa Indonesia yang memiliki lebih dari 17.100 pulau—6.000 pulau di antaranya sudah berpenghuni—memiliki kekayaan budaya yang luar biasa dengan 300 suku dan etnis serta 742 bahasa dan dialek di dalamnya. Ini adalah potensi Indonesia yang bisa dikembangkan dalam konsep pengembangan industri pariwisata nasional.

Kita sama-sama sepakat bahwa kekayaan budaya Indonesia bisa dijadikan daya tarik pariwisata dan pariwisata ini erat kaitannya dengan industri perhotelan. Artinya, selama swasta dan pemerintah bisa bekerjasama dalam mengemas promosi pariwisata Indonesia, maka prospek perhotelan di Indonesia akan terus cemerlang.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) jumlah wisatawan asing yang berkunjung ke Indonesia sepanjang 2011 mencapai 7,65 juta orang atau naik 9,24% dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 7 juta orang. Dengan kata lain target kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia telah melampaui target. Karena sebelumnya, Kementerian Pariwisata optimistis bahwa jumlah kunjungan wisatawan asing di tahun 2011 dapat melampaui target 7,5 juta orang. Sementara Bali masih menjadi destinasi favorit wisatawan asing. Dari segi nominal, jumlah devisa pariwisata yang diterima pada 2011 mencapai US$8,6 miliar. Jumlah ini meningkat sebesar 13,16% dibandingkan devisa 2010 yang mencapai US$7,6 miliar. Adapun pemerintah menargetkan jumlah wisatawan mancanegara mampu mencapai 8 juta orang tahun ini.

Ekspansi ke Indonesia

Dengan terus meningkatnya angka kunjungan wisatawan mancangera ke Indonesia, bisnis perhotelan dipastikan akan terus tumbuh. Kondisi ini dipastikan akan terus berlanjut pada 2013 hingga 2015. Menurut survei Cushman & Wakefield Indonesia, hingga 2015 di Jakarta saja akan ada 4.000 kamar hotel baru. Bahkan menurut laporan Reuters, beberapa perusahaan jasa perhotelan internasional saat ini tengah mempersiapkan rencana jangka menengah untuk melakukan ekspansi ke Indonesia selain ke India.

Beberapa di antara perusahaan jasa perhotelan itu adalah InterContinental Hotels Group, perusahaan jasa perhotelan terbesar di dunia yang berencana menyiapkan 35 hotel di India dan 7 di Indonesia. Kemudian Accor, perusahaan jasa perhotelan di Eropa, juga merencanakan menyiapkan 25 hotel skala menengah di Indonesia hingga 2015 dan membuka 14 hotel lainnya di India. Accor juga akan mengembangkan rantai pemasukkannya dengan menambah jaringan hotel Formule 1 menjadi 11 hotel di India pada akhir 2013. Sementara di Indonesia, Accor telah membuka Formule 1 pada April 2011 di Jakarta.

Marriott tak mau ketinggalan. Jaringan hotel internasional ini berencana mengembangkan 75 hotel di India hingga dalam kurun waktu 10 tahun mendatang. Hyatt juga telah memiliki lebih dari 20 jaringan hotel skala menengah yang sedang dibangun di India, dimana tiga di antaranya akan diluncurkan akhir tahun ini. Louvre Hotel, yang dimiliki Starwood Capital Group, saat ini sedang melakukan negosiasi dengan pengembang lokal Indonesia untuk membangun 20 hotel kelas menengah atas.

Premier Inn owner Whitbread, operator perhotelan terbesar Inggris telah memiliki 2 hotel di India dan akan bertambah menjadi 5 hotel pada 2014. Selain itu juga mempertimbangkan untuk investasi di Indonesia. Tauzia , perusahaan jasa perhotelan milik investor Prancis yang berbasis di Indonesia, telah memiliki dua hotel. Sebanyak 30 hotel lainnya sedang dikembangkan di Indonesia. Sedangkan Aston International, menyiapkan anggaran untuk membangun 29 hotel di seluruh Indonesia.

Hotel Bujet Jadi Tren

Di dalam negeri, PT Intiland Development Tbk, berencana membangun hotel sedikitnya di 12 kota di Indonesia. Pengembang seperti Metland bahkan mengeluarkan strategi membangun banyak hotel bujet di Indonesia.

Hotel bujet alias hotel ramah anggaran bagaikan magnet di industri perhotelan. Kecenderungan investor membangun hotel bujet pada tahun-tahun mendatang memang sangat tinggi, terutama di kota-kota besar di Indonesia. Pengembang properti ini mengusung merek Whiz Hotel sebagai merek hotel budget. Saat ini, perseroan sudah menghadirkan Whiz Hotel di Yogyakarta dan Semarang dan satu hotel lagi di Bali. Untuk tahap selanjutnya, Intiland akan membangun Whiz hotel di Bogor dan Cikini (Jakarta) yang diprediksi selesai 2013 mendatang.

Pengembang papan atas PT Ciputra Property Tbk juga tak mau kalah. Tahun ini saja mereka menyisihkan modal Rp115 miliar untuk membangun enam hotel bujet dengan memanfaatkan lahan yang mereka miliki di Bandung, Yogyakarta, Semarang dan Cirebon. Ciputra juga tengah menjajaki akuisisi lahan di Bengkulu dan Banjarmasin untuk rencana pembangunan proyek hotelnya. Target Ciputra dalam dua tahun ke depan adalah membangun 20 hotel bujet di seluruh Indonesia.

PT Agung Podomoro Land Tbk juga ikut meramaikan bisnis hotel bujet di Indonesia. Melalu anak usahanya PT Sentral Agung Indah (SAI), perusahaan yang dinakhodai Trihatma K. Haliman ini membangun hotel bujet 200 kamar di kawasan  Kelapa Gading, Jakarta Utara.

Magnet hotel bujet pun telah menarik Badan Usaha Milik Negara (BUMN) untuk ikut masuk ke dalamnya. Uniknya, BUMN yang tertarik di bisnis hotel bujet itu bukanlah BUMN yang sudah memiliki latar belakang bisnis hotel, seperti PT Hotel Indonesia Natour, tetapi perusahaan operator bandara, yaitu PT Angkasa Pura I.

Perusahaan yang biasa mengurus bandar udara ini berani menggelontorkan investasi Rp68 miliar guna membangun dua hotel berkonsep sederhana alias hotel bujet, di Bandara Internasional Juanda, Surabaya dan Sultan Hasanuddin, Makassar. Angkasa Pura I menggandeng operator hotel Accor Asia Pacific Indonesia untuk me-manage hotel-hotelnya. Angkasa Pura Hotels bahkan berani mematok target miliki 2.022 unit kamar hotel bujet sampai 2016.

PT Pos Indonesia kini juga disibukkan dengan sederet rencana pembangunan hotel. Perusahaan pelat merah yang memiliki jaringan bisnis sampai ke pelosok desa ini juga tertarik membangun hotel bujet dengan investasi ratusan miliar rupiah. PT Pos bahkan mengungkapkan 200 titik asetnya telah diverifikasi untuk dimanfaatkan menjadi hotel.

Tahap pertama, Pos Indonesia membangun dua hotel bujet di Bandung dan menggandeng Amaris Hotel, anak perusahaan dari Kompas Gramedia untuk mengoperasikannya. Peruri, BUMN yang selama ini tugasnya mencetak uang, dipastikan juga akan masuk ke bisnis perhotelan dengan rencana pembangunan Peruri 88, sebuah mixed use development yang terdiri dari perkantoran, apartemen dan hotel.

Tren pembangunan hotel, utamanya hotel bujet, pada 2013 dan tahun-tahun mendatang dipastikan akan terus terjadi tak hanya di Jakarta melainkan juga di kota-kota besar. Bersamaan dengan percepatan pembangunan infrastruktur di Indonesia yang dilakukan pemerintah sekarang ini, bisa dipastikan bisnis sektor perhotelan akan terus cemerlang. Persoalannya tinggal bagaimana investor jeli melihat peluang dan tangkas menangkapnya. (Deddy H. Pakpahan)