Jumat, 06/02/2015

Program Sejuta Rumah, BTN Siap Menjadi Integrator

-jktproperty.com
Share on: 536 Views
Program Sejuta Rumah, BTN Siap Menjadi Integrator
Foto: Istimewa
PROGAM SEJUTA RUMAH: Direktur Utama BTN Maryono (tengah), Pengamat Ekonomi Yanuar Rizky (kiri), Ketua Umum AAEI, Haryajid Ramelan (kanan), menjadi pembicara dalam diskusi dengan tema “Emiten Bicara Industri, Gurihnya Program Sejuta Rumah BTN dalam Kacamata Investor”, di Jakarta, Jumat 6 Februari 2015. Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) siap mendukung program Presiden Jokowi Widodo-JK yang menargetkan pembangunan rumah mencapai 1 juta unit per tahun.

JAKARTA, jktproperty.com – PT Bank Tabungan Negara (BTN) menargetkan pertumbuhan kredit sekitar 19% tahun ini atau sebesar Rp125 triliun. Sementara non performing loan (NPL) ditargetkan bisa di bawah 3%. BTN juga menegaskan akan menjdi integrator dalam program pembangunan sejuta rumah.

Direktur Utama BTN Maryono mengatakan pihaknya membukukan oustanding kredit sebesar Rp115 triliun per akhir 2014. Perolehan tersebut, kata Maryono, tumbuh sekitar 15%-16% dibandingkan dengan tahun sebelumnya. “Tahun ini ditargetkan tumbuh 18%-19% atau berada di kisaran Rp125 triliun,” katanya.

Dia mengatakan hal itu dalam diskusi dengan tema Emiten Bicara Industri: Gurihnya Program Sejuta Rumah BTN dalam Kacamata Investor yang diselenggarakan wartawan bursa di Jakarta.

Menurut dia pada 2014 kredit macet BTN masih berada di bawah 4%. “Meskipun outstanding kredit kami ditargetkan meningkat tahun ini, namun NPL akan kami tekan di bawah 3%. NPL gross BTN per September 2014 mencapai 4,85%, sedangkan NPL net 3,63%,” katanya.

Mengenai rencana pemerintah yang akan menurunkan suku bunga fasilitas likuiditas pembiayaan perumahan (FLPP) hingga 5%, Maryono menyatakan margin bunga BTN masih bisa terbantu melalui kredit pemilikan rumah (KPR) non subsidi yang saat ini porsinya mencapai 57% dari portofolio KPR BTN. “Program sejuta rumah bisa menambah omzet pendapatan bunga kami. Ditambah lagi pendapatan bunga dari KPR non subsidi yang bunganya mengikuti pasar.”

Sejuta Rumah

Sementara itu mengenai program Presiden Joko Widodo yang menargetkan pembangunan satu juta rumah Maryono mengatakan hal itu adalah langkah besar yang diambil pemerintahan Jokowi. Pasalnya, pembangunan rumah di Indonesia per tahun rata-rata mencapai 300-400 ribu unit.

“Selama ini tidak bisa memenuhi rumah 1 juta, paling bisa 300.000-400.000 unit per tahun, kenapa tidak bisa dipenuhi 1 juta. BTN siap menjadi integrator dalam hal pembangunan satu juta rumah,” katanya.

Maryono mengatakan kekurangan rumah atau housing backlog di Indonesia masih cukup tinggi dengan permasalahan yang masih sama yaitu keterbatasan lahan. Selain lahan terbatas, permasalahan lain karena peningkatan harga yang cepat, kemudian perizinan yang berbelit menjadi hambatan dalam penyediaan rumah.

“Ada 28 izin untuk pembangunan dan waktu cukup panjang, infrastruktur juga demikian seperti PLN, air, sulit dipenuhi, kemudian pembiayaan, salah satunya bank, mudah-mudahan ini bisa diselesaikan,” katanya.

Menguntungkan Investor

Di tempat yang sama Ketua Umum Asosiasi Analis Efek Indonesia (AAEI) Haryajid Ramelan menegaskan, program satu juta rumah ini akan sangat menguntungkan bagi investor di sektor riil maupun investor saham. Selain, saham-saham properti dan konstruksi yang bisa dilirik dengan program ini, sahamperbankanyangikutandil dalam pembiayaan juga tak luput dari incaran investor.

“Nah, bank yang sudah pengalaman dalam penyaluran pembiayaan perumahan yakni BTN. Jadi saya kira sangat layak BTN diberi kepercayaandalamprogramsatu juta rumah ini,” katanya.

Menurut Haryajid, jika program satu juta rumah ini sukses, maka akan mendorong kinerja BTN lebih baik lagi, sehingga ini akan terefleksi dengan kenaikan saham perseroan. “Bukan tidak mungkin saham BTN akan naik lagi ke Rp1.300-Rp1.400,” katanya.

Pada akhir pekan lalu, saham BBTN melonjak 8,54% dari Rp995 ke Rp1.080. Sementara itu, pengamat ekonomi Yanuar Rizky dalam program satu juta rumah ini pemerintah ingin memperlihatkan kepeduliannya terhadap kebutuhan papan masyarakat kelas menengah bawah. Untuk itu perlu disinergikan antara BUMN yang terkait dengan program tersebut seperti Perumnas dalam penyediaan lahan dan BTN dalam hal pembiayaan perumahannya. (DHP)