Jumat, 21/12/2012

Pertimbangkan 4C Sebelum Anda Membeli Kondotel (Bagian 5)

-jktproperty.com
Share on: 629 Views
Pertimbangkan 4C Sebelum Anda Membeli Kondotel (Bagian 5)

Oleh Deddy H. Pakpahan

jktproperty.com | Banyaknya penawaran kondotel tentu membuat investor bingung dalam memilih proyek kondotel yang mana yang layak, menarik dan menguntungkan dijadikan investasi. Sebenarnya, untuk memutuskan memilih kondotel mana yang layak dijadikan investasi, investor perlu mempertimbangkan 4C, yakni Character, Capability, Concept, dan Condition. Karakter (character) ini erat kaitannya dengan pengembang yang membangun kondotel. Karakter perusahaan yang sudah go public atau public listed company tentu sangat berbeda dengan perusahaan yang bukan atau belum menjadi perusahaan publik. Ini harus benar-benar diperhatikan calon investor kondotel.

Bagi sebuah perusahaan publik yang membangun kondotel dengan investasi ratusan miliar rupiah, tidak ada alasan bagi mereka untuk ‘bermain-main’ di proyek ini, mengingat reputasi sebagai perusahaan publik menjadi taruhannya. Hal itu juga berlaku juga bagi perusahaan publik yang core business-nya bukan di sektor properti.

Ada beberapa pemain di sektor properti di Indonesia yang core business-nya bukanlah properti namun cukup baik dalam hal reputasi. Sebut saja misalnya PT AKR Corporindo Tbk—perusahaan publik yang bisnis utamanya adalah kimia—yang pada 2005 lalu melakukan ekspansi ke sektor properti dengan membangun kondotel prestisius di Bali, Novotel Nusa Dua Golf Resort.

Melalui PT Metafora International sebagai anak perusahaan, AKR sama sekali tidak memiliki track record dalam bisnis properti. Namun, dengan menggaet konsultan yang expert di bidangnya masing-masing yang mencakup kontraktor, arsitektur, lanskap, pemasaran serta manajemen hotel yang mumpuni, merealisasikan sebuah proyek kondotel bukan satu hal yang mustahil. Artinya, dari sisi kapabilitas (capability), perusahaan ini tak perlu diragukan lagi.

AKR tentu tidak akan merusak reputasinya sebagai perusahaan publik hanya dengan misalnya menelantarkan proyek kondotelnya di Bali. Kapitalisasi bisnis mereka di sektor kimia yang cukup besar tak sebanding dengan nilai investasi mereka di bisnis properti. Artinya apa, mereka tidak mau mengorbankan reputasinya dengan membangun kondotel secara asal-asalan.

Bagi investor, sebenarnya itu sudah merupakan jaminan bahwa proyek kondotel yang mereka bangun akan berjalan on schedule. Tinggal mereka menghitung sisi keuntungan investasinya.

Meskipun ada, sedikit sekali pengembang go public yang mau mempertaruhkan reputasinya dengan membangun kondotel asal-asalan.

Meskipun ada, sedikit sekali pengembang go public yang mau mempertaruhkan reputasinya dengan membangun kondotel asal-asalan.

Lalu mengenai konsep (concept). Sebuah proyek properti apapun jenisnya harus memiliki konsep yang jelas. Demikian pula halnya dengan kondotel. Kondotel yang dibangun hanya bermodal ‘ikut-ikutan’ alias latah, hampir bisa dipastikan tidak akan sukses di pasaran.

Ambil contoh misalnya Novotel Nusa Dua Golf Resort yang mengusung konsep unik dengan penonjolan desain tropical modern Bali resort. Untuk mewujudkan konsep ini AKR menggandeng desain arsitektur Ground Kent Architect asal Australia yang sudah terkenal di mancanegara. Sedangkan untuk landscaping proyek ini dipercayakan pada PT Wijaya Lanscape yang reputasinya sudah diakui secara internasional. Konsep sebuah kondotel mencakup soal ukuran, desain dan harganya. Investor bisa menghitung ukuran kondotel yang akan dibelinya apakah make sense dengan harga yang ditawarkan pengembang.

Kondisi (condition) juga menjadi hal utama yang harus dipertimbangkan calon investor sebelum membeli kondotel untuk tujuan investasi. Kondisi yang dimaksud di sini tentunya adalah kondisi pasar properti saat kondotel tersebut dipasarkan.

Calon investor harus membekali diri dengan informasi yang cukup mengenai pasar properti di lokasi di mana kondotel tersebut dibangun. Hal ini bisa dilakukan dengan mencari informasi yang bisa diperoleh di Internet, mengikuti berita-berita properti atau menanyakan langsung ke konsultan properti atau tenaga marketing yang memasarkan kondotel secara lebih detail. (DHP)