Jumat, 20/05/2016

Permintaan Turun, Indeks Harga Properti Komersial Tumbuh Negatif

-jktproperty.com
Share on: 2862 Views
Permintaan Turun, Indeks Harga Properti Komersial Tumbuh Negatif
Foto: Ilustrasi
INDEKS HARGA PROPERTI KOMERSIAL: Akibat turunnya permintaan selama kuartal I-2016, indeks harga properti komersial di semua sektor tercatat tumbuh negatif, demikian hasil survei yang dilakukan Bank Indonesia yang dipublikasikan baru-baru ini.

JAKARTA, jktproperty.com – Akibat turunnya permintaan selama kuartal I-2016, indeks harga properti komersial di semua sektor tercatat tumbuh negatif, demikian hasil survei yang dilakukan Bank Indonesia yang dipublikasikan baru-baru ini.

Hasil survei itu menunjukkan indeks harga properti komersial sepanjang kuartal pertama tahun ini tumbuh negatif akibat turunnya permintaan yang terjadi hampir di semua sektor. Indeks harga properti komersial pada kuartal I/2016 tumbuh -0,01%, padahal di kuartal sebelumnya masih bisa bertumbuh 0,39%.

Kontraksi tersebut terjadi akibat penurunan permintaan, khususnya pada kamar hotel, dan strategi manajemen maupun pengembang untuk menjaga okupansi perkantoran serta apartemen sewa agar tidak turun. Turunnya permintaan kamar hotel di kuartal pertama tahun ini mencapai -4,57% dibandingkan kuartal sebelumnya akibat faktor musiman yang menyebabkan turunya harga sewa. Sementara itu, turunnya harga apartemen sewa disebabkan karena meningkatnya pasokan ke pasar.

Penurunan harga segmen perkantoran terjadi baik pada perkantoran sewa maupun strata. Penurunan harga perkantoran sewa terjadi pada seluruh tipe, khususnya yang berlokasi di Jakarta Pusat, Jakarta Utara, Jakarta Selatan dan Surabaya.

Sedangkan penurunan harga jual perkantoran strata terjadi pada perkantoran yang berlokasi di luar wilayah pusat bisnis atau central business district (CBD) baik di Jakarta maupun Surabaya. Secara tahunan, harga properti komersial memang masih meningkat, tetapi sangat rendah, yakni hanya 2,13%. Bandingkan dengan pertumbuhan tahunan kuartal sebelumnya yang mencapai 20,05%.

Pertumbuhan pasokan properti komersial di kuartal I-2016 masih menunjukkan peningkatan, yakni 0,74% secara triwulanan. Meski demikian, tingkat pertumbuhan ini masih lebih rendah dibandingkan kuartal sebelumnya yang mencapai 0,77%.

Sedangkan pertambahan pasokan properti komersial tertinggi pada triwulan I-2016 terutama terjadi pada segmen apartemen (6,11%, qtq), hotel (2,90%, qtq) dan convention hall (2,34%, qtq),” tulis laporan bank sentral yang dikutip Jumat (20/5/2016).

Di sisi lain, permintaan terhadap properti komersial di kuartal I-2016 tumbuh melambat. Indeks permintaan properti komersial kuartal I/2016 hanya meningkat 0,38% secara triwulanan, melambat jika dibandingkan pertumbuhan triwulanan kuartal sebelumnya yang mencapai 0,53%.

Namun, meskipun indeks properti komersial mengalami pertumbuhan negatif, bukan berarti pasar properti secara keseluruhan tidak memiliki prospek untuk segera rebond. Walaupun kondisi ekonomi masih belum stabil, seperti terlihat dari rilis PDB di triwulan I 2016, akan tetapi optimisme akan pertumbuhan ekonomi yang lebih baik semakin bertambah. Seiring target pertumbuhan PDB tahun ini sebesar 5,3%, sektor properti khususnya di Jakarta juga diperkirakan akan meningkat secara perlahan mulai tahun ini.

Jeffrey Hong, yang menjabat sebagai Presiden Direktur di konsultan Savills Indonesia tersebut mengatakan bahwa pasar properti Indonesia khususnya Jakarta masih memiliki prospek pertumbuhan yang menarik di berbagai sektor. Hal ini terus menarik minat, tidak hanya pengembang dan investor lokal, namun juga investor dari berbagai negara asing yang melihat potensi permintaan produk properti khususnya yang menyasar kelas menengah dan atas di Ibukota.

Menurutnya, walaupun pada tahun lalu pertumbuhan ekonomi melambat, pasar properti di Jakarta masih dipandang sebagai salah satu tujuan investasi yang paling menarik di kawasan Asia. “Hal ini ditopang oleh berbagai hal antara lain potensi pembeli dan investor dalam negeri yang masih memiliki daya beli relatif kuat, kebijakan pemerintah yang positif untuk mendorong sektor bisnis dan konsumen, harga dan biaya yang relatif masih lebih murah dibanding di negara lain dan pembangunan infrastruktur yang pesat dan berpeluang mendorong pertumbuhan investasi properti dalam negeri,” kata Jeffrey.

Terkait pasar pusat perbelanjaan di Jakarta, Rosaline Lie, Direktur untuk Departemen Ritel di konsultan Savills mengatakan bahwa walaupun hasil survey di awal tahun 2016 menunjukan tingkat permintaan masih relatif terbatas, namun secara keseluruhan pasar ritel masih terbilang stabil.

Lebih lanjut lagi, Rosaline mengatakan bahwa pasar ritel bahkan berpeluang menjadi sektor properti yang pertama bangkit dari kondisi perlambatan yang terjadi dalam beberapa tahun belakangan ini. Faktor yang bisa menjadi pendorong peningkatan pasar ritel, kata dia adalah kondisi pertumbuhan pasok yang relatif minim (akibat pembatasan pembangunan pusat perbelanjaan baru di wilayah DKI Jakarta), sehingga kompetisi yang ada tidak seketat dibanding sektor lainnya. (EKA)