Selasa, 04/09/2012

Permintaan Tinggi, Bisnis Lahan Kawasan Industri Sangat Prospektif

-jktproperty.com
Share on: 768 Views
Permintaan Tinggi, Bisnis Lahan Kawasan Industri Sangat Prospektif

JAKARTA: Sewaktu Indonesia terseret krisis Asia 1997 akhir, pasar kawasan industri di Indonesia sunguh sangat suram. Tak ada perusahaan baru yang menyewa atau membeli lahan KI. Boro-boro sewa atau beli, tenant di lahan KI seperti berlomba-lomba kabur dari Indonesia. Hal itu berlangsung hingga awal 2000-an dan wajar mengingat perekonomian Asia, termasuk Indonesia, memang sangat suram.

Dulu, pengembang lahan KI sangat sulit menaikkan harga jual atau harga sewa. Jangankan menaikkan tarif, didiskon pun tak ada yang berminat. Kondisi yang berbeda terjadi sekarang ini. Pengembang KI rata-rata telah melakukan ekspansi usaha dengan memperluas lahan KI-nya atau membuka lahan baru. Pengembang yang sebelumnya tak berminat masuk ke bisnis lahan KI, sekarang ini tengah ancang-ancang untuk masuk ke bisnis lahan KI. Mereka melihat bisnis lahan KI sangat prospektif.

PT Agung Podomoro Land Tbk misalnya, tengah mengembangkan 300 hektar lahan KI baru di kawasan Karawang, Jawa Barat. “Kami kira di Indonesia bisnis kawasan industri masih sangat prospektif. Mayoritas yang tertarik pemain Asia, seperti Jepang, Korea dan China, namun pemain dalam negeri juga tidak bisa dipandang sebelah mata,” kata Direktur Marketing Agung Podomoro Group Indra Widjaja Antono beberapa waktu lalu.

Dipilihnya Karawang sebagai lokasi lahan KI konglomerasi properti ini karena menurut rencana di Karawang akan dibangun bandar udara. “Di Karawang juga akan dibangun pelabuhan peti kemas, jadi infrastrukturnya sangat mendukung,” tambahnya.

Selain, Agung Podomoro, pengembang besar yang mulai memasuki pasar ini adalah PT Bakrieland Development Tbk. Anak usaha Bakrie Group ini membangun kawasan industri di Kalimantan Timur. Proyek yang disebut Trans Kalimantan Economic Zone, dikembangkan di bawah PT Bakrie Eco Investa.

Terus Meningkat

Surveri Bank Indonesia (BI) pada kuartal-II 2012 mengungkapkan permintaan lahan KI di dalam maupun luar Jakarta terus meningkat. Dominasi permintaan datang dari investor asing. Mayoritas permintaan berasal dari investor asal Jepang, Korea Selatan, Malaysia dan Singapura dengan permintaan untuk pergudangan mencapai 64,4% dan pabrik 35,6%. Di lain pihak, keterbatasan pasokan yang tak seimbang dengan pesatnya permintaan telah mendorong harga jual lahan industri meningkat signifikan, mencapai 34,38%. Bahkan, secara tahunan harga jual ini mencapai 99,62% menjadi Rp1,94 juta per m2. Lahan industri sewa pun mengalami hal serupa, naik 9,68% menjadi Rp40.947 per m2 per bulan.

Berdasarkan lokasinya, rata-rata harga sewa gedung pabrik dan gudang di Jakarta Rp52.300 per m2 per bulan, sedangkan di wilayah Bodebek sekira Rp33.676 per m2 per bulan. Untuk mendukung pengembangan kawasan industri, pemerintah saat ini sedang memusatkan pengembangan industri otomotif dan elektronik di wilayah Karawang dan Cibitung. Selain itu, wilayah Cilamaya, Jawa Barat, juga akan digodok menjadi lahan industri, karena dry port di kawasan Cikarang kapasitasnya sudah tidak mencukupi.

Pada kuartal ini, para pengembang KI mengemukakan besarnya permintaan yang datang dari investor dalam dan luar negeri yang ingin membuka pabrik baru. Hal ini didorong perekonomian Indonesia yang semakin membaik, diikuti dengan perbaikan infrastruktur yang mempermudah akses menuju wilayah industri. Tingginya permintaan lahan KI tak hanya terjadi di wilayah Jakarta, Bogor, Bekasi, Karawang, namun juga di wilayah seperti Palu, Balikpapan, Bangka Belitung dan Riau. (WED)