Jumat, 23/11/2012

Perang ‘Theme Park’ di Indonesia Tak Mungkin Dihindari

-jktproperty.com
Share on: 1371 Views
Perang ‘Theme Park’ di Indonesia Tak Mungkin Dihindari

jktproperty.com | Tekanan hidup atau pekerjaan yang dirasakan masyarakat urban, seperti halnya orang-orang yang tinggal di Jakarta, membuat mereka membutuhkan apa yang disebut ‘pelepasan’, refreshing, relaksasi, atau hiburan.

Tak heran saat long weekend, akhir pekan, atau libur panjang hari raya keagamaan, tempat-tempat wisata seperti Taman Impian Jaya Ancol, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), dan Kebun Binatang Ragunan selalu padat dikunjungi ratusan ribu orang. Bahkan pada perayaan tahun baru, pengunjung yang datang jumlahnya bisa mencapai jutaan orang. Hanya dari tiket tanda masuk saja pengelola tempat wisata bisa meraup uang yang tak sedikit.

Pengembang kota-kota mandiri sekelas Bumi Serpong Damai (BSD), Lippo Cikarang, Lippo Karawaci, atau perumahan skala besar seperti Pantai Indah Kapuk dan Bogor Nirwana Residence juga melengkapi fasilitasnya dengan membangun theme park yang dari sisi revenue tak bisa dipandang sebelah mata. Sama halnya dengan yang dilakukan pengembang Grand Depok City yang membangun Depok Fantasy Water Park meski dalam skala yang lebih kecil.

Tak heran bila banyak investor berlomba membangun tempat rekreasi dengan mengambil model theme park, yakni taman hiburan yang di dalamnya terdapat beragam wahana atau atraksi hiburan yang bisa dinikmati banyak orang. Mungkin sedikit yang tahu kalau 2010 lalu Taman Impian Jaya Ancol dengan Dunia Fantasi-nya menjadi theme park terbaik di Asia dan terbesar kelima di dunia dilihat dari kategori jumlah pengunjung yang saat itu mencapai 14,5 juta orang. Kita boleh bangga lantaran urutan pertama hingga keempat ditempati theme park dengan label Disneyland.

Menengok sukses Ancol dengan Dufan-nya, wajar bila banyak investor melakukan ekspansi usaha dengan membangun theme park di berbagai kota. CT Corp., lokomotif bisnis yang dimasinisi Chairul Tanjung membangun Trans Studio Indoor Theme Park di Makassar dan Bandung. Kabarnya kelompok usaha ini juga akan membangun theme park serupa di kawasan Jatisari, Jakarta Timur. Sukses dengan The Jungle Land Adventure Theme Park, PT Bakrieland Development Tbk saat ini tengah membangun theme park di Bukit Jonggol setelah sebelumnya mengakuisisi 51% saham PT Bukit Jonggol Asri milik PT Sentul City Tbk pada 2010 lalu.

Rencananya, theme park di Jonggol itu akan menjadi fasilitas sekaligus pemikat agar orang mau tinggal di di kota mandiri township yang dibangun Bakrieland. Selain The Jungle, Bakrieland sebenarnya berencana membangun satu theme park lagi di kawasan Lido, Sukabumi, Jawa Barat. Persediaan tanah land banking kelompok bisnis Grup Bakrie di daerah ini mencapai sekira 1.000 hektar. Namun belum lama ini pengusaha Hary Tanoesoedibjo dengan Grup MNC-nya diketahui telah membeli tanah tersebut dari Bakrieland untuk dikembangkan menjadi theme park.

Dalam keterangannya MNC Group melalui anak perusahaannya di bidang properti PT MNC Land Tbk [sebelumnya bernama PT Global Land Development Tbk] awal 2013 akan segera membangun theme park yang terintegrasi dengan hotel dan resor dengan investasi diperkirakan mencapai Rp6 triliun dan dipromosikan tak kalah dengan Disneyland.

Perang Theme Park

Akan hadirnya theme park baru di Jakarta dan sekitarnya, tak bisa dipungkiri akan membuat persaingan bisnis taman hiburan di masa mendatang menjadi kian sengit. Pangsa pasar Taman hiburan yang sudah lama eksis seperti Taman Impinan Jaya Ancol atau katakanlah Water Boom di Cikarang, tentu akan tergerus oleh kehadiran taman-taman hiburan baru yang tentunya hadir dengan wahana atau atraksi yang jauh lebih menarik. Ini yang harus diantisipasi pengelola heme park lama, yakni dengan menambah wahana yang sudah ada dan bila perlu me-redesign konsepnya menjadi sesuatu yang baru. TMII sudah melakukan itu dengan menghadirkan SnowBay Watertainment dan menjadi ‘magnet’ agar orang tetap mau berkunjung ke TMII.

Perang theme park di Indonesia bukanlah isapan jempol. Ini pernah dialami Ocean Park di Hong Kong—dibuka pertama kali pada 1977—yang harus berjibaku melawan Disneyland yang hadir di Hong Kong pada 2005. Ya, tujuh tahun terakhir ini Ocean Park, mau tidak mau, suka atau tak senang, harus menghadapi genderang perang yang ditabuh Disneyland. Selama hampir tiga dekade pengelola Ocean Park berada dalam zona nyaman. Masyarakat Hong Kong dan wisatawan dari mancanegara selalu mengunjungi Ocean Park.

Kehadiran Disneyland jelas mengusik kenyamanan Ocean Park dan pengelola mengantisipasinya dengan menambah wahana baru enam bulan setelah Disneyland dibuka. Perang itu terjadi terus-menerus sampai sekarang. Disney menghadirkan Tomorrowland dan Toy Story Land. Ocean Park pun membalasnya dengan membuat wahan baru yang tak kalah spektakuler. Persaingan di kawasan ini dipastikan akan semakin ketat dengan akan hadirnya Disneyland di Shanghai pada 2015 mendatang.

‘Perang’ antara Ocean Park dan Disneyland di Hong Kong dipastikan juga akan terjadi di Indonesia dan tak mungkin bisa dihindari. Tak apa asalkan persaingan itu masih dalam tataran yang sehat seperti perang Ocean Park vs Disneyland Hong Kong. (Deddy H. Pakpahan)