Senin, 04/02/2008

Penjualan Rumah di Bogor Tinggi, Tapi Okupansi Rendah

-jktproperty.com
Share on: 1057 Views
Penjualan Rumah di Bogor Tinggi, Tapi Okupansi Rendah

JAKARTA: Bogor mencatat tingkat penjualan rumah tertinggi selama 2007, yakni sebesar 91,5 persen, disusul Bekasi (87,9 persen), Jakarta (83,3 persen), dan Tangerang (72,4 persen). Meskipun mencatat penjualan tertinggi, tingkat hunian di Bogor terendah dibandingkan Jakarta, Tangerang, dan Bekasi. Pasalnya, sebagian besar pembeli bukanlah end user, melainkan investor yang mengharapkan memetik keuntungan atau menjadikan rumahnya sebagai rumah kedua. Riset perumahan yang dikemas dalam Jakarta Quarterly Property Market Review – 4th Quarter 2007 dan dipublikasikan Procon Indah association with Savills awal Februari ini mengungkapkan bahwa selama kurun waktu 2002-2007 tingkat penjualan rumah di Jakarta, Bogor, Tangerang, dan Bekasi (Jabotabek) mengalami peningkatan rata-rata 1,4 persen per tahun.

Pada semester II-2007 tingkat penjualan mengalami peningkatan 5,2 persen atau dari dari 77 persen di semester I-2007 menjadi 81 persen, dimana tingkat penjualan tertinggi dibukukan Bogor sebesar 91,5 persen disusul Bekasi, Jakarta, dan Tangerang masing-masing dengan pertumbuhan Tingginya minat konsumen membeli rumah di Bogor—tepatnya di kawasan Cibubur—disebabkan karena terbukanya akses jalan tol lingkar luar Jakarta (Jakarta Outer Ring Road/JORR) yang menghubungkan Cibubur dengan Jakarta Selatan maupun Bekasi. Selain itu, harga rumah tinggal di daerah Cibubur dinilai masih terjangkau untuk kalangan menengah. “Namun dari tingkat hunian, Bogor adalah yang terendah dibandingkan Bekasi, Jakarta, dan Tangerang,” ujar Utami Prastiana, Head of Research and Consultancy Procon Indah-Savills.

Procon mencatat tingkat hunian tertinggi terdapat di Bekasi, yakni 90,6 persen, kemudian Jakarta (85,9 persen), Tangerang (73,2 persen), dan Bogor (57 persen). Bekasi mengalami tingkat hunian tertinggi akibat semakin matangnya daerah ini sebagai kota satelit dengan dukungan infrastruktur yang tidak jauh berbeda dengan Tangerang dan harganya relatif masih lebih murah dibandingkan Tangerang. Selain itu, okupansi yang tinggi di Bekasi disebabkan karena pasokan perumahan baru di Bekasi terbilang minim dibandingkan pasokan baru di Tangerang atau Bogor.

Akibatnya, perumahan baru di Bekasi sebagian besar sudah terbangun dan ditinggali pemiliknya. Ceruk pasar inilah yang mungkin dilihat jeli oleh pengembang seperti PT Summarecon Agung Tbk yang setelah sukses memasarkan perumahan Gading Serpong dalam waktu dekat merencanakan membangun proyek perumahan baru di Bekasi Barat di atas lahan seluas 180 hektar.

Mengenai pasok baru, dari 43 proyek perumahan yang disurvei Procon-Savills—tidak termasuk perumahan sederhana atau low-cost housing—diketahui terjadi penambahan area perumahan sebesar 1.244 hektar sehigga total kumulatif area proyek perumahan menjadi 15.244 hektar atau baru 37 persen dari total area yang direncanakan untuk dibangun. Per Desember 2007 Tangerang tercatat memiliki total pasokan tertinggi sebesar 42,9 persen atau 139.346 unit, diikuti Bekasi (27,5 persen), Jakarta (17,1 persen), dan Bogor (12,5 persen).

Aktivitas penjualan rumah selama semester II-2007, demikian Procon-Savills juga mengalami peningkatan cukup tajam, yakni 148 persen dibandingkan semester sebelumnya dengan jumlah rumah terjual sebanyak 14.958 unit. Proyek-proyek perumahan di Tangerang menjaring pembeli terbanyak (46,9 persen) diiukuti Bekasi, Bogor, dan Jakarta masing-masing sebesar 25,7 persen, 19,2 persen, dan 8,1 persen. Meningkatnya penjualan rumah dipicu turunnya suku bunga kredit pemilikan rumah (KPR) menjadi rata-rata di bawah 10 persen.

Bahkan beberapa pengembang melakukan terobosan dengan menjalin kerja sama dengan pihak bank untuk mematok KPR dengan bunga 3,3 persen selama satu tahun. Mengenai tipe rumah yang paling diminati konsumen di Jabotabek, Procon-Savills mengungkapkan bahwa untuk pasar Jakarta, rumah dengan kisaran harga Rp800 juta-Rp1,8 miliar per unit masih diminati, terutama dari pembeli kalangan atas. Sedangkan untuk Bogor, Tangerang, dan Bekasi, rumah yang paling laku adalah rumah dengan harga di bawah Rp400 juta per unit dan biasanya dibeli kalangan menengah. Meski demikian, di Bogor, Tangerang, dan Bekasi juga banyak terdapat perumahan yang mematok harga di atas Rp1 miliar per unit, terutama di lokasi yang strategis yang memiliki kelengkapan fasilitas. (SH)