Rabu, 01/06/2011

Penjualan Kondo Meroket, Bank Genjot Penyaluran KPA

-jktproperty.com
Share on: 425 Views
Penjualan Kondo Meroket, Bank Genjot Penyaluran KPA

JAKARTA: Penyaluran kredit properti bank umum sampai dengan kuartal I-2011 tercatat sebesar Rp248,6 triliun atau meningkat 2,88% dibandingkan kuartal yang sama 2010 lalu dan memberikan kontribusi sebesar 13,82% dari total outstanding kredit bank umum sebesar Rp1.799,2 triliun.

Kredit pemilikan rumah dan kredit pemilikan apartemen mencatat pertumbuhan tertinggi. Di pasar primer, penjualan kondominium menunjukkan tren positif dengan tingkat penjualan sebesar 97%. Hal itu diikuti dengan gencarnya bank menawarkan produk KPA-nya.

Survei Properti Komersial Bank Indonesia kuartal I-2011 menyebutkan sebagian besar jenis kredit properti pada triwulan I-2011 menunjukkan peningkatan. Peningkatan terbesar terjadi pada kredit KPR/KPA 4,40% (qtq), diikuti dengan kredit konstruksi yang masih mengalami ekspansi sebesar 2,37% (qtq) sedangkan pada kredit real estate menurun 1,89% (qtq).

Kredit properti tersebut mencakup kredit yang diberikan kepada kontraktor untuk pembangunan perkantoran, perhotelan, rumah dan pertokoan serta kredit kepada perorangan utuk kepemilikan serta pemugaran rumah KPR/KPA meliputi pemberian kredit untuk membeli atau memperbaiki/memugar rumah atau apartemen. Kredit konstruksi mencakup usaha yang dilakukan kontraktor untuk pembangunan dan perbaikan gedung, jalan, pasar, dan kegiatan konstruksi untuk fasiltias umum lainnya. Sementara kredit real estate mencakup usaha-usaha membangun gedung, flat, rumah tempat tinggal, pasar dan sebagainya, baik untuk disewakan maupun dijual.

Berdasarkan pangsa, kredit KPR/KPA masih memiliki pangsa terbesar yaitu 59,04% (meningkat dari 58,18%), diikuti kredit konstruksi sebesar 26,01% (turun dari 26,14%) serta kredit real estate sebesar 14,95% (turun dari 15,68%). Sementara itu di sektor riil properti penjualan kondominium di Jakarta saat ini tercatat berada di level yang cukup tinggi, yakni 97% dengan tingkat pertumbuhan permintaannya sebesar 13% pada kuartal I-2011.

Menurut data Procon Savills, dari total suplai kondominium di Jakarta pada triwulan I-2011 mencapai 76.827 unit, hanya 635 unit di antaranya yang merupakan pasok baru. Jumlah itu minim dibandingkan triwulan IV-2010 dimana pasok kondominium mencapai 2.900 unit. Pasokan baru unit kondominium di Jakarta diprediksi naik 5%-10% per tahun. Diperkirakan selama setahun ke depan [hingga akhir 2012] pasokan baru kondominium akan mencapai angka 10.600 unit. Dengan pertumbuhan pasok baru sebesar 5%-10% setiap tahun dan pertumbuhan permintaan berada di level 13%, bisa dikatakan suplai kondominium di Jakarta saat ini masih jauh dari ancaman over-supply.

Apalagi sekarang ini pengembang tidak memfokuskan pembangunan kondominiumnya di kawasan CBD Jakarta mengingat semakin sulitnya memperoleh lahan di areal pusat bisnis. Kalau pun ada, harganya sudah terlalu tinggi. Area pembangunan kondominium mulai bergeser ke wilayah non CBD, seperti Jl. MT Haryono, Jl. S. Parman, dan beberapa area sekunder lainnya.

Di Indonesia, menurut pengamatan Arif Rahardjo, Head of Research & Advisory Cushman & Wakefield Indonesia, kondominium belum dianggap sebagai tempat tinggal, melainkan baru sebatas alat investasi. Maka dari itu dia mengingatkan kepada masyarakat untuk memilih lokasi yang strategis. Lokasi menjadi penting. Pasalnya jika tidak terhuni, sang pemilik dapat menginvestasikan dengan sistem sewa. Dan dengan jumlah unit kondominium yang terus bertambah, tentu penyewa menginginkan lokasi strategis dan harga kompetitif. Relatif masih amannya perbandingan supply dan demand kondominium di Jakarta membuat bank gencar memberikan kredit pemilikan properti jenis ini kepada masyarakat.

Bahkan untuk kondominium mewah sekalipun yang dulu konsumen enggan memanfaatkan KPA perbankan dan lebih memilih mencicil pembayarannya secara hard cash, sekarang masyarakat memilih memanfaatkan KPA perbankan. Bahkan, untuk menarik minat konsumen, tak sedikit pengembang yang memberikan penundaan cicilan selama masa konstruksi atau dengan diskon. PT Bank Rakyat Indonesia Tbk misalnya, bekerjasama dengan PT Lippo Karawaci Tbk mem-back up dana kredit pembelian apartemen mewah di tower The Tiffany Kemang Village Residences, Kemang Village dengan target KPA yang tersalurkan sebesar Rp150 miliar. Untuk tower sebelumnya di Kemang Village [The Ritz KVR, The Cosmopolitan KVR, dan The Empire], BRI bahkan sudah menyalurkan KPA sekitar Rp500 miliar.

Tahun ini Lippo Karawaci berencana me-launch tiga tower barunya di Kemang Village dengan target penjualan Rp1 triliun dan tetap menggandeng BRI sebagai bank penyedia KPA-nya. Pondok Indah Group, untuk proyek kondominium The Windsor yang dibangun di kawasan Puri Indah, Jakarta Barat, bahkan menjalin kerjasama dengan lima bank untuk pembiayaan KPA-nya. Kelima bank itu masing-masing Bank Mandiri, Bank Internasional Indonesia, Bank Rakyat Indonesia, Bank UOB, Bank Buana dan Bank CIMB Niaga. Dari kerjasama penyaluran KPA di proyek The Windsor, diharapkan KPA yang tersalurkan sebesar Rp500 miliar-Rp600 miliar atau 40% dari total nilai penjualan.

Bahkan rencananya Pondok Indah Group akan memperluas dengan menambah 4-5 bank penyedia KPA untuk proyek kondominium mewah yang ditawarkan ke pasar dengan harga Rp2 miliar-Rp6 miliar per unit. Dari survei perbankan yang dilakukan Bank Indonesia dengan sampel 43 bank umum yang berkantor pusat di Jakarta dengan pangsa kredit 80% dari total kredit bank umum secara nasional, mayoritas bank sepakat bahwa pada 2011 akan terjadi peningkatan kredit properti sebesar 12,2% dibandingkan 2010. Realisasi penyaluran kredit properti sepanjang 2010 mencapai Rp249,7 triliun atau tumbuh sekitar 15,07% dibandingkan penyaluran kredit pada 2009 sebesar Rp217 triliun. (JR)