Sabtu, 01/09/2012

Pengembang Prediksi Booming Properti di 2013-2015

-jktproperty.com
Share on: 640 Views
Pengembang Prediksi Booming Properti di 2013-2015

JAKARTA: Pengembang memprediksi booming properti di Indonesia akan terjadi pada 2013 hingga 2015. Untuk mengantisipasi booming properti tersebut, pengembang meminta pemerintah segera membuka kran regulasi kepemilikan properti untuk orang asing.

Direktur Marketing Agung Podomoro Mathius Jusuf mengatakan pemerintah harus benar-benar tanggap terhadap persoalan industri properti sekarang ini. Tahun depan hingga 2015, kata dia, industri properti nasional akan mengalami booming.

“Menghadapi booming properti ini pemerintah tidak perlu khawatir untuk membuka kran regulasi kepemilikan properti untuk orang asing. Properti yang dibeli orang asing itu kan tetap berada di Indonesia dan tidak mungkin diboyong ke negaranya. Jadi pemerintah tak perlu khawatir dan perlu segera membuat deregulasi kepemilikan properti untuk orang asing di Indonesia,” ujarnya.

Dia mengatakan, dengan dibukanya kran tersebut, maka industri properti akan lebih bergairah dan lapangan pekerjaan baru akan tercipta. Apalagi, mengingat harga properti di Indonesia relatif lebih murah dibandingkan negara-negara lain dengan yield yang jauh lebih tinggi. “Hal itu tentu menjadi daya tarik tersendiri bagi asing untuk menanamkan investasinya di sektor properti di Indonesia.”

Di Malayasia atau Singapura, demikian Mathius, harga properti jenis kondominium bisa mencapai Rp400 juta, sementara di Indonesia dengan kisaran harga Rp10 juta-Rp20 juta per m2, pembeli sudah bisa mendapatkan kondominium dengan kualitas yang sangat mewah.

Sementara Tony Eddy, chairman Tony Eddy & Associates yang dihubungi jktproperty.com mengatakan aturan pembelian properti bagi orang asing di Indonesia perlu disederhanakan. “Jangan dibuat rumit seperti sekarang ini,” katanya.

Di negara lain seperti Singapura misalnya, kata dia, pemerintahnya memberi kemudahan bagi orang asing yang mau membeli properti di negaranya. “Prosesnya sangat mudah. Untuk membuka rekening tabungan di bank di sana untuk transaksi properti yang akan dilakukan misalnya, nggak sulit seperti di sini, kita tinggal menyerahkan paspor dan mereka bisa segera memproses,” kata Tony.

Sebenarnya, lanjut dia, dengan aturan pembelian properti yang ada sekarang ini, bukan hanya pengembang saja yang tertutup peluangnya, tetapi kerugian juga ada di tangan pemerintah. “Bayangkan berapa potensi devisa yang gagal masuk ke Indonsia akibat aturan properti di sini tidak pro terhadap pasar.” (WED)