Rabu, 31/10/2007

Pengembang Perumahan Serpong Batasi Spekulator

-jktproperty.com
Share on: 1177 Views
Pengembang Perumahan Serpong Batasi Spekulator

JAKARTA: Dulu, 15-20 tahun silam, orang mungkin enggan tinggal di kawasan Serpong, Tangerang. Sebuah kawasan yang acapkali dijuluki “tempat jin buang anak” karena letaknya jauh dari Jakarta. Tapi kini, ketika infrastruktur jalan tol sudah dibangun sementara pengembang kota mandiri menawarkan properti hunian dengan fasilitas modern yang cukup menggiurkan, kawasan Serpong berubah menjadi alternatif hunian yang paling diminati.

Alasan itu pula yang membuat PT Summarecon Agung Tbk. kembali menggarap perumahan Gading Serpong yang selama bertahun-tahun seakan terabaikan. Sebelumnya, Summarecon menggandeng Batik Keris Group untuk mengembangkan Gading Serpong dengan perusahaan joint venture PT Jakarta Baru Cosmopolitan. Tapi hasilnya kurang maksimal, pada 2004 pihak Summarecon memutuskan mengakhiri kerja sama dengan Batik Keris Group dan solo karir mengembangkan Gading Serpong. “Serpong adalah daerah yang propertinya paling hot di luar Jakarta,” ujar Presdir PT Summarecon Agung Tbk. Johanes Mardjuki.

Lantas, kalau memang hot, kenapa selama kerja sama dengan Grup Keris perumahan Gading Serpong tak terlihat atraktif dibandingkan perumahan lainnya? Menurut Johanes, rumah yang sudah dijual di Gading Serpong dengan pola kerja sama itu memang cukup banyak, jumlahnya ribuan unit. Tapi itu tidak bisa mengubah image Gading Serpong yang bak ‘ghost town’. “Sebab yang beli hampir semuanya investor dan spekulator. Tidak ada orang yang mau tinggal di perumahan ini. Tapi setelah proyek ini kami ambil alih sendiri, sebagian besar pembeli adalah end user yang benar-benar terseleksi. Dari seluruh cluster yang sudah kami pasarkan, 90% telah dihuni,” katanya.

Selaku pengembang Summarecon mematok masing-masing pembeli hanya boleh membeli maksimal 2 unit. Selain itu, cluster yang ditawarkan juga sudah selesai dibangun. Di dalam satu cluster yang luasnya rata-rata 5-6 hektar, Summarecon membaginya dalam 2 sub-cluster yang dibangun sekaligus. Pembeli tidak hanya mendapatkan gambar rumah, tetapi rumahnya memang sudah jadi dan siap huni. Semua unit rumah dibangun serempak dengan mempertimbangkan faktor kenyamanan penghuninya. Pihak Summarecon juga menutup pintu rapat-rapat untuk investor dan spekulator.

Buktinya, kalau Anda membeli rumah di Gading Serpong lalau beberapa bulan kemudian dijual dan dipindahtangankan, jangan kaget bila pengembang mengenakan charge 6% dari harga rumah kepada Anda. Terkesan melawan arus, tapi toh kenyataannya strategi ini sangat jitu. Bahkan untuk rumah toko (ruko), pengembang memberikan insentif dengan mengembalikan sebagian dari uang pembelian ruko bila pembeli langsung mengoperasikan rukonya.

Demikian pula halnya dengan kavling. Setiap pembelian kavling, pihak pengembang mematok charge biaya bangunan yang jumlahnya bervariasi. Bila pembeli membangun sendiri kavlingnya dalam waktu kurangdari satu tahun, maka pengembang mengembalikan dana yang sudah disetorkan. Tapi kalau tidak dibangun dalam waktu tersebut, pengembang akan membangun dengan dana yang sudah disetor pembeli.

Dengan strategi semacam itu, Summarecon menargetkan rata-rata mampu membangun 25 ha setiap tahunnya. Saat ini total lahan yang masih dimiliki Summarecon di Gading Serpong seluas 450 hektar. Nilai properti di perumahan ini juga bisa meningkat dengan berlalunya julukan ‘ghost town’. Untuk tanah, saat ini harganya bergerak antara Rp2 juta-Rp2,5 juta per m2. Malah di cluster yang dibangun di sebelah padang golf, harga per meter2 dipatok Rp4 juta.

Kebijakan mengerem sepak terjang spekulator seperti yang dilakukan Summarecon tentu sangat menguntungkan penghuni perumahan. Bayangkan bila Gading Serpong tetap menjadi ‘ghost town’. Sementara Gading Serpong berkonsentrasi dengan properti residensial dan melengkapinya dengan properti komersial dengan membangun Summarecon Mal Serpong, BSD City tahun ini lebih berkonsentrasi mengembangkan properti komersial dan industri.

Namun tahun depan pengembang BSD City mulai mengembangkan tahap dua dengan luas kawasan 800 hektar di sebelah barat Sungai Cisadane. Sebelumnya pihak pengembang telah menuntaskan pembangunan BSD City tahap 1 di sebelah timur Sungai Cisadane seluas 1.500 hektar. “Kami akan mengembangkan properti residensial dan komersial di BSD City tahap dua,” ujar Humas BSD City Donny Rahajoe.

Hingga saat ini dari 6.000 hektar lahan yang dimiliki BSD City, 25% di antaranya telah dibangun. Total rumah yang sudah dibangun di BSD City mencapai 25.000 unit, dimana 21.000 di antaranya telah dihuni. Mengenai harga tanah dan bangunan, Donny mengatakan untuk produk tertentu kenaikannya bisa mencapai 30% alias lebih menguntungkan dibandingkan bunga deposito. (JR)