Rabu, 14/11/2012

Pemerintah Akan Bangun 22 Menara Rusunawa di Ciliwung

-jktproperty.com
Share on: 542 Views
Pemerintah Akan Bangun 22 Menara Rusunawa di Ciliwung

JAKARTA: Pemerintah Provinsi DKI, Kementerian Pekerjaan Umum dan Kementerian Perumahan Rakyat sepakat akan membangun 22 menara rumah susun sederhana sewa (rusunawa) di bantaran dan di atas Sungai Ciliwung sebagai bagian dalam program normalisasi sungai tersebut. Rencananya, dengan berdirinya rusunawa tersebut maka warga yang tinggal di bantaran Sungai Ciliwung yang jumlahnya mencapai sekira 34.000 orang akan direlokasi ke rusunawa tersebut.

Kesepakatan pembangunan rusunawa itu diperoleh setelah Gubernur DKI Jakarta Jokowi, Menteri Pekerjaan Umum (PU) Djoko Kirmanto dan Menteri Perumahan Rakyat (Menpera) Djan Faridz melakukan pertemuan di kantor Kementerian PU di Jakarta hari ini. Mereka membahas persoalan permukiman kumuh, terutama di bantaran Sungai Ciliwung.

“Kami bagi-bagi tugas, saya memberi izin pembangunan, konstruksinya di tangan Menpera dan soal pembebasan lahannya urusan Pak Jokowi,” kata Djoko Kirmanto.

Dalam pertemuan tersebut juga dibahas relokasi masyarakat bataran sungai ke rusunawa yang akan dibangun. “Nantinya, setelah warga direlokasi ke rusunawa, Sungai Ciliwung akan dinormalisasi ukurannya agar maksimal dalam menampung hujan. Rusunawa akan dibangun tak jauh dari sungai,” tambah Djoko.

Sementara Gubernur DKI Jokowi mengatakan sumber dana untuk merealisasikan rusunawa dan normalisasi Sungai Ciliwung bersumber dari APBD dan APBN. “Intinya pemerintah sudah sepakat. Dananya akan diambil dari APBN dan APBD. Kalau nilainya saya nggak hafal,” kata Jokowi.

Sebelumnya Pemprov DKI mengungkapkan membutuhkan dana sedikitnya Rp5 triliun untuk program normalisasi Sungai Ciliwung yang dilakukan periode 2010-2014. Dari 13 sungai yang mengalir di Jakarta, Ciliwung memiliki dampak yang paling luas ketika musim hujan karena ia mengalir melalui tengah kota Jakarta dan melintasi banyak perkampungan, perumahan padat, dan pemukiman-pemukiman kumuh. Ciliwung juga dianggap sungai yang paling parah mengalami perusakan dibandingkan sungai-sungai lain yang mengalir di Jakarta.

Selain karena daerah aliran sungai (DAS) di bagian hulu di Puncak dan Bogor yang rusak, DAS di Jakarta juga banyak mengalami penyempitan dan pendangkalan yang mengakibatkan potensi penyebab banjir di Jakarta menjadi besar. Sistem pengendalian banjir sungai ini mencakup pembuatan sejumlah pintu air dan pos pengamatan banjir, yaitu di Katulampa (Bogor), Depok, Manggarai, serta Pintu Air Istiqlal; serta dengan membagi aliran Ci Liwung melalui kanal-kanal banjir seperti yang diuraikan di atas. Pemerintah pernah merencanakan untuk membangun Waduk Ciawi di Gadog, Megamendung, Bogor sebagai cara untuk mengendalikan aliran sejak dari bagian hulu. (LEO)