Selasa, 04/12/2007

Pasar Ritel Asia Masih Sangat Atraktif

-jktproperty.com
Share on: 521 Views
Pasar Ritel Asia Masih Sangat Atraktif

JAKARTA: Selama 2007 permintaan ruang ritel premium di kawasan Asia terus mengalami pertumbuhan signifikan, terutama di China, Vietnam, dan India yang menjadi sasaran pasar pemilik-pemilik merek internasional (international luxury brands) untuk membuka outlet-nya. Bahkan di Jepang, selama kuartal I hingga kuartal III 2007 lalu pertumbuhannya sangat luar biasa, termasuk pula pertumbuhan yang terjadi di Hong Kong.

Di Hong Kong selama 2007 terdapat beberapa pusat perbelanjaan baru yang dibuka. Salah satu yang terbesar yang dibuka Juni lalu adalah MegaBox di Kowloon Bay. Sementara itu di Beijing, sejak awal 2007, peritel asing berlomba-lomba masuk pada mal-mal di kawasan premium sebagai antisipasi diselenggarakannya Olimpiade Beijing 2008 mendatang.

 

Mal yang cukup besar yang telah dioperasikan April lalu di Beijing adalah Shin Kong Place dengan total pasok 180.000 m2 yang dibangun dan dioperasikan Shin Kong Mitsukoshi. Total pasok ruang ritel di Beijing pada 2007 diperkirakan mencapai 2.068.101 m2, dimana 367.000 m2 merupakan suplai baru. CB Richard Ellis Hong Kong mengungkapkan sentimen positif para peritel lokal dan internasional telah mendongkrak harga sewa ruang ritel, terutama di kawasan premium. Bahkan di Shanghai dan Guangzhou beberapa pusat perbelanjaan baru dibuka seperti Hongyi Plaza, Tianhe City, dan Zhengjia Square. Pasar properti ritel di Shanghai mengalami pertumbuhan sangat pesat selama 2007.

Jones Lang LaSalle mengungkapkan peridoe Januari- Mei 2007 nilai penjualan ritel mencapai US$4,3 miliar atau meningkat 16,4% dibandingkan periode yang sama 2006. Ini adalah rekor tertinggi dalam sejarah pasar properti ritel di Shanghai. Satu-satunya kota di Asia yang pasar properti ritelnya mengalami kemunduran cukup tajam adalah Bangkok.

Tidak kondusifnya kondisi perekonomian negeri ini ditambah lagi dengan amat fragile-nya situasi politik dan keamanan dalam negeri membuat peritel asing dan lokal perimistis. Satu-satunya cara untuk menarik peritel masuk ke pusat-pusat perbelanjaan adalah dengan mendiskon tarif ruang sewa mal dan promosi besar-besaran, rata-rata 15 kali promosi dalam sebulan.

Seperti yang dialami Central Pattana Plc—pengembang CentralWorld—yang mendiskon harga sewa ruang pusat perbelanjaan secara besar-besaran. Bahkan Big C Supercenter mengaku menghabiskan dana 300 juta bath untuk promosi menarik konsumen datang ke mal itu. Dana promosi itu merupakan dana promosi terbesar dalam sejarah perusahaan.

Lantas bagaimana halnya dengan Jakarta? Secara keseluruhan pasar properti di Jakarta mengalami pertumbuhan signifikan hingga kuartal III-2007, dimana kontribusi terbesar disumbangkan pasar kondominium dan perkantoran. Sementara untuk retail, Indah Utami, Senior Manager Strategic Advisory PT Procon Indah [akhir November lalu Procon Indah menggandeng Savills] mengatakan masuknya pusat perbelanjaan Grand Indonesia Shopping Town di kuartal III-2007 telah menambah pasok kumulatif ruang ritel di Jakarta menjadi 2,68 juta m2, dimana 144.000 m2 merupakan pasok baru atau dua kali lipat dibandingkan kuartal sebelumnya.

Di penghujung kuartal III-2007 Pacific Place juga dioperasikan dan banyak menjaring peritel food and beverages seperti No Signboard Seafood Restaurant (7.530 m2), Gyukaku Restaurant (5.380 m2), dan Pasta Matrix Restaurant (3.230 m2). Hingga akhir 2008 diperkirakan akan ada 500.000 m2 pasok baru ruang ritel di Jakarta. Selama 2007-2008 pemain properti papan atas seperti Agung Podomoro Group, Ciputra Group, Pakuwon Group, Summarecon Group, atau Duta Anggada Group dipastikan akan membanjiri Jakarta dengan suplai baru ruang ritel.

Agung Podomoro Group akan memberikan kontribusi properti ritel dari proyek Podomoro City di kawasan Tanjung Duren, Jakarta Barat, Kuningan City di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, dan Kelapa Gading Square di Jakarta Utara. Tak jauh dari proyek Kuningan City, Pakuwon Group juga akan membangun superblok Kota Kasablanka dan Gandaria City di Kebayoran Lama serta Ciputra Group dengan Ciputra World-nya berdekatan dengan Kuningan City.

Tak ketinggalan Summarecon yang akan memperluas Mal Kepala Gading dengan pembangunan tahap kelima. A. Stefanus Ridwan, Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Seluruh Indonesia, kepada Asian Property Investment mengungkapkan kemungkinan over-supply di pasar properti ritel bisa saja terjadi meskipun okupansi ruang ritel di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek) saat ini berada di kisaran 80%.

Apalagi kalau masing-masing pengembang tidak mau duduk sama-sama untuk merumuskan diferensiasi mal yang akan menjadi selling point masing-masing mal. “Di sisi lain, pemerintah mutlak harus men-support masuknya retailer asing ke Indonesia dengan memberikan insentif dan bukan malah memperumit. Properti ritel dunia sudah mengalami evolusi luar biasa. Bukan hanya pengembang yang perlu beradaptasi, melainkan juga pemerintah. Sebab kuncinya ada di mereka [pemerintah],” ujarnya.

Belum lagi soal pajak. Barang-barang bermerek yang dijual di mal-mal di Jakarta lebih mahal dibandingkan barang serupa yang dijual di mal-mal di Singapura, Malaysia, atau Hong Kong. “Makanya jangan heran kalau ada mal baru buka di Singapura atau Hong Kong banyak orang Indonesia terbang ke sana, karena mereka bisa mendapatkan barang yang mereka inginkan dengan harga lebih murah,” tambah Ridwan.

Sedangkan Jones Lang LaSalle mengungkapkan kepercayaan peritel asing terhadap pasar Indonesia masih tetap tinggi. Hal itu terlihat dengan masuknya peritel dengan brand yang mendunia seperti Kidzania, Seibu, Blitz Megaplex, dan Harvey Nichols di ruang ritel premium Jakarta yang rata-rata di penghujung 2007 sewanya mencapai Rp4,4 juta per m2 per tahun.

Secara keseluruhan pasar properti ritel di kawasan Asia memang masih sangat atraktif dalam beberapa tahun ke depan. Hanya saja, gejolak politik masih tetap akan menjadi isyu penting yang akan membayang-bayangi kinerja pasar properti ritel di kawasan ini, sama halnya seperti yang dialamai pasar properti ritel di Bangkok, Thailand. (DHP)