Kamis, 12/04/2012

Pasar Perumahan China Terpuruk, Ciputra Tetap Garap Grand Shenyang

-jktproperty.com
Share on: 543 Views
Pasar Perumahan China Terpuruk, Ciputra Tetap Garap Grand Shenyang

JAKARTA: Meskipun pasar perumahan di China masih terpuruk yang tercermin dari jatuhnya harga rumah sebagai akibat kebijakan pemerintah yang memperketat dan mengatur harga perumahan seiring ancaman bubble, Grup Ciputra pekan ini memastikan akan melanjutkan pembangunan Grand Shenyang International City, sebuah township di Shenyang, ibukota Provinsi Liaoning yang merupakan kota industri terpenting kedua di China.

PT Ciputra Development Tbk bekerjasama dengan pengembang lokal di China menginvestasikan sedikitnya US$60 juta di tahun pertama untuk mengembangkan sebuah township di Shenyang, China.

Menurut Tulus Santoso, corporate secretary PT Ciputra Development Tbk mengatakan, Grand Shenyang International City akan dibangun mirip dengan kawasan Citraland Surabaya. “Ini adalah ekspansi Grup Ciputra yang ketiga kalinya di mancanegara setelah di Hanoi, Vietnam, dan Phom Penh, Kamboja,” ujarnya.

Dia mengatakan modal kerja yang disiapkan untuk membangun Grand Shenyang sekitar US$60 juta. Grand Shenyang international City memiliki konsep mirip dengan Citraland Surabaya, dimana terdapat kawasan perumahan, apartemen, pendidikan, komersial, hingga lapangan golf dalam satu kawasan seluas 310 hektar. Proyek prestisius Grup Ciputra ini akan diluncurkan pada pertengahan 2012 dan secara keseluruhan akan selesai dibangun selama 10 tahun ke depan.

Ciputra Group tahun ini menargetkan penjualan propertinya sebesar Rp10 triliun. Jumlah itu naik 80% dibandingkan penjualan tahun sebelumnya. Kenaikan target penjualan itu disumbang oleh proyek-proyek yang sudah existing dan 10 proyek baru termasuk residensial, hotel, dan rumah sakit.

Grand Shenyang International City sebenarnya proyek yang sudah direncanakan Grup Ciputra pada 2009 dan rencananya semula mulai digarap pada 2010 dengan estimasi pendapatan dalam 12 tahun ke depan sebesar US$1,3 miliar. Di proyek ini semula direncanakan akan dibangun sekitar 20.000 unit rumah mewah.

Langkah Berani

Boleh dibilang langkah Grup Ciputra masuk ke pasar properti perumahan di China saat ini adalah langkah berani. Mengapa? Sebab saat ini sektor perumahan di China berada dalam tekanan akibat pemerintahnya melarang warganya membeli rumah di pasar sekunder dan hanya memprioritaskan pembelian rumah pertama bagi warganya di pasar primer. Keputusan pemerintah tersebut dikeluarkan untuk menekan kekhawatiran pecahnya bubble di sektor properti.

Para pengembang di China pun saat ini menghadapi kendala dari sisi permodalan pasca kebijakan pemerintah menaikan suku bunga acuan dan membatasi bank untuk mengeluarkan kredit pinjaman bagi sektor properti. Keputusan tersebut ditempuh pemerintah untuk mengendalikan laju inflasi, tetapi yang terjadi justri sebaliknya harga properti kian terpuruk. Bahkan menurut satu laporan yang dipublikasikan Home Link China, pada akhir 2011 sebanyak 177 pengembang di China dikabarkan gulung tikar setelah tidak mampu mencetak angka penjualan.

Yang lebih memprihatinkan lagi, seperti dikutip Beijing News, hingga akhir 2011 lalu lebih dari 120.000 properti di China terbengkalai karena tidak laku. Jumlah tersebut merupakan yang tertinggi dalam 2,5 tahun terakhir. Para agen real estate juga kini menghadapi kesulitan karena para pembeli potensial mengambil sikap menunggu hingga harga properti turun. Bahkan mereka mengiming-imingi calon pembeli dengan BMW seri terbaru sebagai hadiah kepada 150 pembeli rumah terbaru di satu komplek perumahan mewah.

Lembaga pemeringkat utang dunia, Standard & Poor’s (S&P) juga memprediksi bahwa tahun ini harga properti di China akan turun 10%. Prediksi itu tentu lebih moderat dibandingkan prediksi para analis di China yang memperkirakan harga properti bisa turun hingga 15%.

Lebih parahnya lagi penurunan harga properti ini bisa berlangsung lebih lama dibandingkan penurunan yang terjadi pada 2008-2009. Pasalnya, pemerintah China menyatakan tidak akan mencairkan stimulus sebesar 4 triliun yuan untuk sektor propoerti. Ini berbeda dengan kebijakan yang ditempuh pemerintah China ketika terjadi resesi global 2008 lalu, dimana pemerintah mengucurkan paket stimulus sebesar US$635 miliar untuk kredit properti sehingga harga properti bisa terdongkrak.

Namun dipastikan sektor properti di China akan tetap survive mengingat demand dari dalam negeri masih sangat tinggi dan pesatnya urbanisasi dan modernisasi. Apalagi PBOC, bank sentral China, telah menjanjikan akan menjamin tersedianya kredit bagi para pembeli rumah pertama di China.

Pemerintah China bahkan saat ini lebih memprioritaskan proyek-proyek perumahan yang lebih terjangkau untuk masyarakat. Hingga 2015 kabarnya pemerintah China menargetkan pembangunan 36 juta rumah khusus bagi rakyat miskin.

Perumahan Mewah

Rumah-rumah yang akan dibangun di Grand Shenyang International City tentulah bukan rumah yang diperuntukkan bagi warga kurang mampu di China. Sebaliknya, perumahan itu dipersiapkan bagi kalangan mampu di China.

Lantas yang menjadi pertanyaan bagaimana kondisi pasar perumahan mewah di China saat ini?

Akhir tahun lalu riset Jones Lang LaSalle mengungkapkan bahwa rata-rata harga perumahan mewah di pasar Asia mengalami kemerosotan. Di antara delapan pasar rumah mewah di Asia, hanya terdapat dua kota di Asia yang masih mengalami kenaikan harga di pasar perumahan mewah, yakni Jakarta dan Mumbai.

Laporan itu juga mengungkapkan, selain Jakarta dan Mumbai yang mengalami kenaikan capital value perumahan mewah, harga rumah mewah yang tetap stabil terjadi di Singapura, Bangkok, dan Kuala Lumpur. Sementara itu, penurunan harga rumah mewah terjadi di Hong Kong, Beijing, dan Shanghai.

JLL yakin harga rumah mewah di China dan Singapura saat ini telah mencapai puncaknya. Harga rumah mewah di China diperkirakan melemah dalam 12 bulan mendatang [baca tahun ini] seiring langkah pengembang yang mengenalkan harga baru yang dikenai diskon. Selain itu, pengembang China akan mengurangi jumlah unit rumah mewah yang ditawarkan dalam jangka pendek.

Dari riset itu sebenarnya terlihat jelas bahwa saat ini pasar perumahan di China masih belum kondusif untuk dimasuki investor asing. Bahkan kementerian perdagangan China belum lama ini mengakui soal suramnya investasi asing di negeri tersebut yang cenderung terus menurun.

Lantas pertanyaan pamungkasnya adalah apa yang diharapkan Grup Ciputra dengan proyek prestisiusnya di Shenyang, China, bila pasar perumahan di negeri ‘Tirai Bambu’ itu kini tengah terpuruk? Mungkin Ciputra sendiri sebagai ‘begawan properti’ yang tahu kalkulasi bisnisnya. (Deddy H. Pakpahan)