Rabu, 15/10/2014

Pasar Perkantoran di CBD Jakarta Dapat Tambahan Pasok Baru

-jktproperty.com
Share on: 738 Views
Pasar Perkantoran di CBD Jakarta Dapat Tambahan Pasok Baru
Artist impressions: Lippo Kuningan
PASOK BARU: Pasar perkantoran di central business district (CBD) Jakarta pada kuartal III-2014 lalu memperoleh tambahan pasok baru dengan beroperasinya gedung perkantoran Lippo Kuningan, yakni sebesar 31.000 m2.

JAKARTA, jktproperty.com – Pasar perkantoran di central business district (CBD) Jakarta pada kuartal III-2014 lalu memperoleh tambahan pasok baru dengan beroperasinya gedung perkantoran Lippo Kuningan, yakni sebesar 31.000 m2.

Head of Research& Advisory Cushman & Wakefield Indonesia Arief Rahardjo pekan ini di Jakarta mengatakan pasar perkantoran Jakarta megalami kekosongan pasok selama dua kuartal berturut-turut, yakni kuartal I dan kuartal II-2014. “Dengan beroperasinya Lippo Kuningan maka pasok ruang perkantoran di Jakarta bertambah,” katanya pekan ini.

Secara kumulatif, demikian Arief, saat ini pasok ruang perkantoran di kawasan pusat bisnis Jakarta adalah sebesar 4,68 juta m2.

Lebih lanjut dia mengatakan Grand Rubina Tower 1 di area Kuningan, yang sebelumnya dilaporkan akan beroperasi pada Juli ini, mundur hingga awal Oktober ini. Namun pihaknya optimistis hingga akhir tahun akan ada tambahan pasokan baru sebesar 151.000 m2, termasuk dari Grand Rubina Tower 1 seluas 32.000 m2.

Sebelumnya, Colliers mengungkapkan subsektor perkantoran di kawasan pusat bisnis (central business district/CBD) Jakarta diketahui mengalami koreksi pada kuartal III-2014. Hal itu diperlihatkan dengan turunnya harga sewa perkantoran di CBD Jakarta 10%-40%. Sementara harga sewa perkantoran di koridor TB Simatupang, Jakarta Selatan, justru mengalami kenaikan meski tak signifikan.

Sutrisno R. Soetarmo, Senior Associate Director Office Services Colliers International Indonesia mengatakan, koreksi harga tersebut terjadi akibat rendahnya penyerapan ruang kantor yang ada sepanjang tahun ini. Dia mengatakan koreksi harga terjadi saat mulai Pemilu 2014 yang semakin membuat performa perkantoran menjadi rendah.

“Pada 2013 lalu performa perkantoran rendah dan kita berharap penyerapan pada 2014 bisa membaik. Kenyataannya tidak. Harapan kami 300.000 m2-400.000 m2 akan terserap pasar. Tapi sampai Oktober ini penyerapannya masih di angka 200.000 m2,” ujarnya kepada media kemarin.

Pelambatan kinerja pasar subsektor perkantoran itu membuat penurunan harga sewa ruang perkantoran yang cukup tinggi di CBD Jakarta 10%-40%. Namun dia enggan memerinci gedung perkantoran yang melakukan penurunan harga secara signifikan. Secara rata-rata gedung yang mengalami penurunan harga adalah gedung yang tingkat okupansinya di bawah 80%. (GUN)

kantor_cushman