Rabu, 18/04/2012

Pasar Kondominium Jakarta, Moncer atau Berisiko Bubble?

-jktproperty.com
Share on: 437 Views
Pasar Kondominium Jakarta, Moncer atau Berisiko Bubble?

JAKARTA: Konsultan properti Cushman & Wakefield Indonesia mengungkapkan stagnasi permintaan dan tingginya suplai kondominium di Jakarta bisa menjerumuskan subsektor properti ini pada market bubble. Sementara konsultan properti lainnya, Jones Lang LaSalle mengungkapkan pasar kondominium di Jakarta masih cukup menjanjikan, mengingat tingginya transaksi pembelian kondominium yang dipicu tren menurunnya suku bunga kredit perbankan.

Head of Research & Advisory Cushman & Wakefield Indonesia Arif Rahardjo mengatakan dibandingkan subsektor properti lainnya, kondominium adalah subsektor yang paling berisiko terkena market bubble. Hal itu disebabkan karena suplai kondominium jauh lebih tinggi daripada permintaan. “Periode 2012-2013 pasok kondominium di Jakarta akan meningkat pesat, sementara demand-nya masih stagnan,” ujarnya di Jakarta.

Arif mengatakan stagnasi demand di pasar kondominium di Jakarta terjadi karena orang sekarang ini mulai beralih menginvestasikan dananya di deposito lantaran bunganya lebih menarik dibandingkan rental yield dari penyewaan kondominium yang diperoleh investor properti.

“Sampai akhir tahun ini saja diperkirakan akan ada pasokan baru kondominium sebanyak 20.302 unit dan jumlah pasok itu akan meningkat menjadi hingga 20.447 pada 2013,” tutur Arif.

Riset Cushman & Wakefield mengungkapkan hingga Maret 2012 tingkat penjualan kondominium terbangun di wilayah Jakarta dan sekitarnya sebesar 95,1% atau hanya naik 0,04% dibanding kuartal I-2011. Sementara, tingkat keterisian tercatat turun 1,4% menjadi 64,4%. Di akhir 2011 total keseluruhan kondominium mencapai 44.829 unit.

Sepanjang Januari-Maret 2012, terdapat tujuh proyek baru yang masuk ke pasar dengan total 3.013 unit kondominium. Dengan demikian, total pasokan kumulatif sebanyak 89.777 unit atau lebih banyak 4,7% dibanding kuartal sebelumnya. Namun, tingkat penjualan pre-sales tercatat turun 5,4% menjadi 61,7% dari kuartal sebelumnya. Sisa yang belum terjual mencapai 18.165 unit.

Sementara itu Managing Director Cushman & Wakefield Indonesia David Cheadle mengatakan karakteristik pembeli kondominium di Jakarta adalah mereka yang ingin menginvestasikan dananya dengan harapan memperoleh pendapatan dari penyewaaan kondominiumnya. “Kalau rental yield-nya lebih rendah dibandingkan bunga deposito perbankan, mereka tentu akan menunda membeli kondominium dan memilih menginvestasikan dananya dalam bentuk deposito,” kata David.

Mengenai hal itu, Direktur Eksekutif Cushman & Wakefield Indonesia Handa Sulaiman melihat bahwa fundamental pasar kondominium di Jakarta tidaklah sekuat pasar perkantoran, ritel atau industri. Hampir 60% kondominium yang telah terjual di pasar primer, kata dia, dibeli untuk disewakan kembali.

Penurunan Bunga Kredit

Berbeda dengan Cushman & Wakefield, Jones Lang LaSalle Indonesia mengungkapkan hal sebaliknya. Luke Rowe, Residential Project Marketing Group Head JLL Indonesia mengatakan tingkat suku bunga pinjaman yang rendah terus mendorong pembelian kondominium baik oleh end-user maupun juga investor.

Dia mengatakan sepanjang triwulan ini, total penjualan kondominium baru di Jakarta mencapai sekitar 2,000 unit. Makin maraknya minat konsumen membeli properti residential di dalam kota mendorong sejumlah pengembang untuk meluncurkan proyek-proyek baru mereka.

“Tercatat lebih dari 1.000 unit yang berasal dari 4 proyek kondominim baru mulai dijual ke pasar selama periode ini,” kata Luke. (JR)