Minggu, 04/03/2012

Orang Kaya Jakarta Pilih Tinggal di Kondominium

-jktproperty.com
Share on: Facebook 688 Views
Orang Kaya Jakarta Pilih Tinggal di Kondominium

JAKARTA: Kemacetan lalu-lintas di Jakarta yang semakin hari makin tak bisa ditolerir lagi menjadi alasan orang Jakarta membeli kondominium. Turunnya bunga kredit serta tawaran kredit apartemen bekas dari bank, dipastikan semakin mendongkrak minat warga ibukota membeli kondominium. Memang, kemacetan lalu-lintas bukan satu-satunya faktor yang mendorong warga Jakarta membeli apartemen strata-title (kondominium) untuk tempat tinggal. Namun, menurut Arief Rahardjo, Associate Director Cushman & Wakefield, parahnya kemacetan lalu-lintas di Jakarta menjadi alasan utama warga Jakarta membeli kondominium. “Selain untuk investasi, kemacetan lalu-lintas di Jakarta yang sudah tidak bisa ditolerir lagi menjadi alasan utama warga Jakarta membeli kondominium,” katanya.

Fenomena menarik lainnya, pembeli kondominium di Jakarta tak lagi didominasi warga negara asing. Persentasenya saat ini berimbang, 50:50 antara pembeli warga negara asing dan lokal. Pasar domestik memang sudah bergerak ke apartemen.

Hal itu juga diakui Zaldy Wihardja, Senior Marketing Manager PT Arah Sejahtera Abadi—anak perusahaan Agung Podomoro Land yang membangun superblok Kuningan City. Menurut dia sukses penjualan apartemen di Kuningan City didorong tingginya minat orang lokal memiliki apartemen di dalam kota. “Sebagian besar pembeli apartemen di Kuningan City memang orang lokal. Konsep back to the city tampaknya memang tengah menjadi tren kaum urban di Jakarta. Sebagian besar atau 70% pembeli adalah end user,” tuturnya.

Tak berlebihan rasanya bila grup Agung Podomoro Land disebut-sebut sebagai salah satu pengembang di Jakarta yang memetik keuntungan dari parahnya kemacetan lalu-lintas. Bayangkan, dari 960 unit kondominium yang dipasarkan, saat ini semuanya sudah ludes terjual. Sukses yang sama juga diraih kelompok usaha properti ini di proyek superblok lainnya di Jakarta, seperti Central Park, Kalibata City atau Green Bay Pluit. Pengembang apartemen Verde, PT Farpoint Realty [anak usaha Grup Gunung Sewu] juga menuai sukses.

Menurut Christian Wendey, Head of Marketing Department Farpoint, dari 2 tower yang existing dengan 137 unit kondominium, sebagian besar di antaranya sudah ludes terjual. “Tinggal unit-unit premium saja,” katanya. Bahkan, menurut Christian, sebagian besar atau 70% konsumen Verde membeli dengan cara cash dan sisanya menggunakan fasilitas KPA. “Februari 2012 kami akan launching tower Verde terbaru,” tuturnya.

Bak Kacang Goreng

Berdasarkan riset konsultan properti Cushman & Wakefield, angka penjualan kondominium sepanjang 2011 mencapai 95%. Pasok kondominium baru sepanjang 2011 mencapai 8.088 unit, sementara penambahan pasok baru 2012 mencapai 18.140 unit, dimana kawasan selatan Jakarta masih menjadi kawasan pilihan pengembang membangun kondotel atau 28,1% dari keseluruhan pasok.

Ya. Penjualan kondominium di Jakarta bak kacang goreng saja. Padahal, dari sisi harga, tidaklah murah. Sekarang ini harga rata-rata kondominium di Jakarta adalah Rp20 juta per m2, dimana untuk area pusat kota (central business district/CBD) harga rata-ratanya Rp 19,9 juta per m2. Sedangkan untuk area non-CBD harganya rata-rata Rp18,7 juta per m2. “Tahun depan terdapat potensi kenaikan harga kondominium dari rata-rata Rp21,8 juta per m2 di kawasan CBD dan Rp 20,1 juta di kawasan non-CBD,” kata Arief.

Untuk permintaan pre sale apartemen strata title selama 2011 mencapai 69,1%, naik dari periode sebelumnya 53,4%. Seiring dengan permintaan yang naik, penjualan pre sale selama 2012 diprediksi mencapai 94%. Bagi Anda yang tidak mau membeli apartemen baru di primary market karena satu alasan, misalnya karena lokasi yang ditawarkan kurang cocok atau karena faktor harga, jangan khawatir. Pasalnya secondary market juga menawarkan banyak pilihan. Bahkan, berdasarkan pemantauan, di harga apartemen second di beberapa lokasi malah mengalami penurunan.

Apartemen Bekas

Soal pembiayaan, bila tak ada dana cash, bank juga siap meng-cover kredit pemilikan apartemen (KPA) yang diajukan masyarakat untuk membeli apartemen second hand. Salah satunya adalah KPA apartemen bekas yang ditawarkan Bank Mandiri. Menurut Executive Vice President Consumer Loans Bank Mandiri, Sarastri Baskoro, produk kredit ini baru bagi perbankan nasional. “Saat ini investasi melalui pemilikan apartemen merupakan salah satu investasi yang menguntungkan sehingga kebutuhan akan unit apartemen cenderung meningkat,” ujarnya.

Produk kredit apartemen bekas yang diberi nama KPA Secondary ini, ujar Sarastri, ditawarkan dengan tingkat suku bunga yang kompetitif dan baru berlaku di beberapa lokasi. Sayangnya, fasilitas KPA Secondary baru bisa dimanfaatkan masyarakat untuk apartemen yang ada di Kemang Village Residence. Kontribusi kredit pemilikan rumah (KPR) dan KPA memang mendominasi penyaluran kredit properti sepanjang tahun lalu.

Dari total kredit sebesar Rp285,292 triliun per September, KPR/KPA mencapai Rp169,21 triliun atau setara dengan 59,31% dari seluruh kredit properti per September 2011. Jumlah penyaluran kredit KPR/KPA tersebut tumbuh 24,38% dibandingkan pencapaian pada periode yang sama tahun lalu yakni sebesar Rp136,03 triliun. (DHP)