Sabtu, 14/04/2012

Orang Asing Masih Merasa ‘Asing’ dengan Properti Indonesia

-jktproperty.com
Share on: 568 Views
Orang Asing Masih Merasa ‘Asing’ dengan Properti Indonesia

JAKARTA: Bulan lalu jagad properti Tanah Air sedikit dikejutkan dengan pemberitaan mengenai Richard Branson [nama lengkapnya Sir Richard Charles Nicholas Branson], industrialis asal Inggris yang juga pemilik 360 perusahaan di bawah bendera Virgin Group. Pasalnya orang terkaya ke-4 di Inggris versi majalah Forbes tahun 2011 dengan kekayaan US$4,2 miliar itu membeli satu properti eksklusif di Bali, persisnya di perbukitan Nyuh Kuning di kawasan Ubud. Properti benama Panchoran Retreat yang dibeli Branson itu semula dimiliki seorang desainer dan pecinta lingkungan asal Irlandia, Linda Garland yang kerap menyewakannya sebagai holiday resort. Resor mewah ini memiliki tujuh rumah, sebuah paviliun untuk yoga, jembatan bambu yang membentang di atas sungai, sejumlah gubuk-gubuk kayu, dan kolam renang seluas 26 m2 yang airnya berasal dari mata air alam.

Berapa persisnya Branson membeli Panchoran Retreat tak jelas, yang pasti selama ini properti mewah itu disewakan mulai dari harga US$275-US$750 per malam lengkap dengan fasilitas helikopter bagi mereka yang berminat melakukan tur udara.

Investasi Orang Superkaya

Aksi Branson membeli properti di Bali itu agaknya bagian dari sepak terjang orang-orang superkaya di jagad ini yang sekarang mencari properti mewah di belahan dunia untuk investasi.

Dari survei bertajuk The Wealth Report 2012 yang dilakukan Knight Frank dan Citi Private Banking dan dipublikasikan baru-baru ini, jumlah permintaan dari orang-orang superkaya dunia atas properti komersial terus tumbuh. Tahun ini transaksinya diperkirakan mencapai US$74,1 miliar atau meningkat 5% dibandingkan 2011 lalu.

Tren memburu properti mewah oleh orang-orang superkaya ini terjadi bukan sekarang saja. Sejak empat tahun lalu saya kerapkali menerima email dari beberapa klub orang superkaya di Eropa, AS dan Asia—terutama dari orang-orang superkaya di India—yang menanyakan langsung mengenai properti jenis vila dan resort hotel di Indonesia yang menurut saya recomended untuk mereka beli. Dari beberapa properti yang coba saya sodorkan, tak satu pun yang mereka minati. Ada 1-2 properti yang mereka cukup tertarik, tapi ketika bicara soal infrastruktur yang minim dan peraturan yang ribet, mereka pun mengurungkan niat.

Memang, menurut laporan The Wealth Report 2012, Indonesia tidak mampu bersaing dengan Hong Kong, China, maupun Singapura sebagai lokasi rumah kedua bagi orang superkaya di Asia Pasifik dengan aset minimal US$100 juta yang menjadi subyek riset itu. Sederhananya mereka masih belum ‘memandang’ Indonesia sebagai destinasi investasi properti.

Hal itu, seperti diakui Hasan Pamudji, Senior Research Manager Knight Frank Indonesia dalam wawancaranya dengan harian Bisnis Indonesia, disebabkan pembatasan kepemilikan properti bagi warga asing, walaupun rerata harga tanah di Indonesia lebih murah dibandingkan dengan Singapura maupun Malaysia.

Dalam laporan itu , rerata harga properti di dua daerah di Indonesia per kuartal IV-2011, yakni Jakarta dan Bali, berada di urutan ke-60 dan 61, jauh di belakang Singapura yang berada di urutan ke-13 atau Bangkok yang meraih urutan ke 51.

“Sebenarnya dengan harga properti yang relatif lebih murah, Indonesia potensial untuk menarik investor global, sebab peluang kenaikan harganya juga lebih besar,” katanya.

Hasan memprediksi, tiap tahunnya, rerata harga properti tersebut naik sekitar 5%-10%, dengan catatan kondisi ekonomi dan politik masih relatif sama seperti saat ini. Walaupun terkendala pembatasan kepemilikan properti, lanjut dia, sebenarnya pihak asing masih bisa mendapatkan hak guna bangunan di Indonesia yang berarti sama seperti hak milik atau freehold, selama menjalin kerjasama atau joint venture dengan pihak lokal. “Dengan demikian, pada umumnya pihak asing masih memiliki 30% properti di Indonesia, sisanya, yakni 70% merupakan milik lokal,” demikian Hasan.

‘Asing’ di Mata Orang Asing

Orang asing tampaknya memang masih ‘asing’ melihat properti Indonesia. Itulah fakta yang harus kita terima, terlepas dari belum baiknya bangunan hukum mengenai kepemilikan properti oleh asing di Indonesia atau soal kendala infrastruktur yang dianggap menghambat asing membeli properti di Indonesia.

Pengalaman pahit baru-baru ini dirasakan seorang konsultan properti asal Jakarta yang memiliki beberapa proyek properti di Bali. Akhir bulan lalu dia membawa beberapa brosur dan maket empat proyek properti yang tengah di pasarkan di Bali ke pameran di Moskow, ibukota Rusia selama beberapa hari.

Hasilnya apa? Nol besar. Tak satu pun pengunjung pameran properti itu yang membeli proyek-proyek yang ditawarkan. “Mereka belum tertarik membeli dan masih mencari informasi mengenai Bali,” kata sang konsultan properti itu.

Padahal kalau melihat statistik kunjungan wisatawan asing yang datang ke Bali, grafik kunjungan turis asal Rusia terus menanjak selama setahun belakangan ini. Januari-Februari 2012 misalnya, jumlahnya menurut Biro Pusat Statistik (BPS) Bali mencapai 19.347 orang atau naik tipis hanya 0,72% dibandingkan periode yang sama 2011 sebanyak 19.209 orang.

Mungkin karena tergiur melihat data kunjungan turis Rusia ke Bali itu konsultan properti yang saya ceritakan di atas begitu optimisnya proyek yang dia pasarkan di Moskow bakal laku bak kacang goreng. Apalagi dari sisi harga terbilang sangat terjangkau untuk kalangan kaya di Rusia.

Dari pengalaman itu rasanya kita memang perlu menggaris tebal bahwa properti kita masih ‘asing’ di mata orang asing dan Indonesia masih perlu proses lumayan panjang untuk bisa menempatkan propertinya sejajar dengan properti Singapura, Malaysia, India atau Hong Kong. Itu tentu tak bisa hanya dilakoni pebisnis properti, tetapi juga oleh pemerintah. (Deddy H. Pakpahan)