Rabu, 26/12/2012

Optimisme Ekonomi Indonesia Perkokoh Pasar Perkantoran 2013

-jktproperty.com
Share on: 425 Views
Optimisme Ekonomi Indonesia Perkokoh Pasar Perkantoran 2013

JAKARTA: Optimisme terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia dipastikan akan memberikan sentimen positif terhadap kinerja pasar perkantoran selama 2013 dan bahkan hingga 2014 mendatang. Indonesia yang digadang-gadang akan menjadi leader negara ekonomi berkembang (emerging market) semakin memperkokoh pasar perkantoran di Jakarta. Menurut Arief Rahardjo, Head of Research Cushman & Wakefield Indonesia, permintaan ruang kantor pada 2013 sangat tinggi, sementara supply masih tergolong cukup hingga akhir 2013. Permintaan ruang perkantoran di CBD Jakarta baik sewa maupun strata title diprediksi akan terus mengalami pertumbuhan positif selama 2013. “Hal ini seiring dengan meningkatnya kinerja perekonomian Indonesia dan makin derasnya arus investasi asing,” katanya.

Berdasarkan data yang ada, tahun ini investasi asing ke sektor riil atau Foreign Direct Investment (FDI) diperkirakan mencapai lebih dari Rp321 triliun. Angka Rp321 triliun bisa tercapai mengingat pada semester I-2012 FDI sudah mencapai Rp150 triliun. Sedangkan pada 2013 target FDI diperkirakan akan menembus angka Rp270 triliun.

Berdasarkan riset Cushman & Wakefield, dalam enam bulan ke depan atau semester pertama 2013, okupansi ruang perkantoran di Jakarta akan terus meningkat sebagai konsekuensi dari 50% pasok baru ruang perkantoran yang baru akan masuk ke pasar pada semester II-2013. Tambahan pasok baru ruang perkantoran 2013 ada sebanyak 340.000 m2 dan 88% di antaranya baru akan masuk pasar di paruh kedua 2013.

Mengenai tarif sewa ruang perkantoran, Glenn Rufrano, President dan CEO Cushman & Wakefield International mengatakan Jakarta bersama Sao Paulo dan San Fransisco diprediksi akan memimpin pertumbuhan tarif sewa ruang perkantoran hingga 2014 mendatang.

Memang, kata Glenn, kondisi pasar properti dunia khususnya segmen perkantoran global akan stabil hingga satu tahun ke depan. Namun, kata dia, hal tiu tidak berlaku bagi kota-kota seperti Jakarta, Sao Paulo dan San Fransisco yang merupakan tiga kota peringkat tertinggi untuk pasar perkantoran di dunia.

Cushman & Wakefield mengelompokan 10 kota yang termasuk dalam daftar kota dengan pertumbuhan tarif sewa ruang perkantoran tertinggi hingga 2014. Di peringkat pertama, ada Jakarta di Indonesia (792%), diikuti Sao Paulo di Brazil dan San Fransisco di Amerika Serikat dengan pertumbuhan 58,6% dan 32,9%. Di tempat keempat ada Shenzhen di China dengan pertumbuhan 32,6%, diikuti Manila dengan pertumbuhan 30,6%. Bangalore di India dan Calgary di Kanada menempati peringkat keenam dan ketujuh dengan pertumbuhan masing-masing 29,5% dan 27,6%. Tiga peringkat terakhir ditempati oleh Istambul di Turki, Shanghai di China dan London di Inggris dengan tingkat pertumbuhan masing-masing sebesar 23,7%, 22,5% dan 21%.

Kenaikan harga, seperti yang disinyalir Glenn dibenarkan oleh Arief. Menurutnya harga sewa gross diperkirakan akan terjadi pada permulaan 2013. Kenaikan terjadi pada service charge dan base rental bagi calon tenant yang akan menempati gedung maupun para penyewa lama yang akan memperpanjang kontrak sewanya.

“Kenaikan sewa akan bergerak antara10%-15% selama 2013. Sementara sektor perbankan, asuransi, keuangan, perminyakan dan gas, barang-barang konsumerisme dan perdagangan diproyeksikan sebagai enam sektor teratas yang menjadi sumber utama permintaan ruang perkantoran selama tahun 2013,” tuturnya.

Selama kuartal-IV 2012 tarif sewa perkantoran rata-rata telah mengalami kenaikan sebesar 4,7% atau mencapai Rp.215.900 per m2 per bulan. Sementara pada pasar perkantoran strata-title, saat ini harga jual rata-rata ruang kantor di area CBD berada di kisaran Rp31 juta per m2 atau naik cukup tinggi sebesar 37,3% dibandingkan harga tahun lalu. Pasar perkantoran strata-title akan mengalami persaingan yang lebih ketat setelah diluncurkannya beberapa proyek baru ke pasar. Meski demikian harga jualnya masih akan mengalami kenaikan namun dalam tingkat pertumbuhan yang lebih rendah dibandingkan yang pernah terjadi periode 2011-2012.

Pertumbuhan Ekonomi Nasional

Bertambahnya jumlah kelas menengah di Indonesia dinilai memunculkan gelombang permintaan baru, sehingga memungkinkan perekonomian Indonesia untuk tetap tumbuh. Bahkan kalangan ekonom memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2013 bisa menembus angka 7%.

Ekonom Senior Cyrillus Harinowo menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia masih bisa tumbuh sampai dengan 7% pada 2013 mendatang atau lebih tinggi dari target pemerintah di kisaran 6,3-6,7%, dan prediksi Bank Indonesia sebesar 6,5%, maupun IMF yang memprediksi sebesar 6,3%. Menurut dia salah satu yang menjadi pendorong pertumbuhan perekonomian di Tanah Air adalah meningkatnya jumlah masyarakat menengah sehingga mendongkrak konsumsi domestik, dengan indikator naiknya GDP per kapita menjadi US$3.000.

Bahkan menurut Vikram Nehr, Bakrie Chairperson for The Southeast Asian Studies di Carnegie Endowment for International Peace (CEIP) yang juga mantan direktur Bank Dunia, emerging market seperti Indonesia, akan terus tumbuh dan menjadi fenomena luar biasa di perekonomian dunia.

Dia mengatakan, bahkan dengan pertumbuhan ekonomi yang katakanlah hanya 6% pada 2013, Indonesia dipastikan akan memimpin negara emerging market diikuti negara tetangga, Malaysia. Menurut Vikram, juga menunjukkan performa yang amat baik dengan tumbuh rata-rata sebesar 5%.

Ciamiknya ekonomi nasional memang telah memicu perbaikan kinerja pasar perkantoran selama 2012. Pada kuartal II-2012 misalnya, pasar perkantoran Jakarta membukukan pertumbuhan sebesar 9% dibandingkan kuartla I-2012 dengan penyerapan besrih mencapai 28.000 m2. “Pertumbuhan ini membuat pasar perkantoran Jakarta tercatat tertinggi se-Asia Pasifik bersama Beijing,” ujar Todd Lauchlan, Country Head Jones Lang LaSalle Indonesia. (LEO)