Senin, 18/08/2014

Okupansi Mal di Jabodebek dan Banten Tumbuh Lambat

-jktproperty.com
Share on: 860 Views
Okupansi Mal di Jabodebek dan Banten Tumbuh Lambat
Ilustrasi.
OKUPANSI MAL TURUN: Survei Properti Komersial Bank Indonesia Kuartal II-2014 mengungkapkan terjadi penurtunan okupansi mal di Jabodebek. Penurunan okupansi itu disebabkan oleh tutupnya usaha beberapa tenant khususnya pada segmen food & beverage dan specialty store akibat sales turn over yang cepat dan tingginya harga sehingga mereka lebih memilih membuka toko di beberapa area ritel yang lebih ramai seperti perkantoran atau ruang ritel di standing alone store supermarket/hypermarket.

JAKARTA, jktproperty.com – Tingkat hunian (okupansi) pusat perbelanjaan di Jabodebek dan Banten selama kuartal II-2014 diketahui mengalami perlambatan. Bahkan di Jakara, Bogor, Depok dan Bekasi (Jabodebek) okupansi mal turun.

Survei Properti Komersial Bank Indonesia Kuartal II-2014 mengungkapkan penurunan okupansi itu disebabkan oleh tutupnya usaha beberapa tenant khususnya pada segmen food & beverage dan specialty store akibat sales turn over yang cepat dan tingginya harga sehingga mereka lebih memilih membuka toko di beberapa area ritel yang lebih ramai seperti perkantoran atau ruang ritel di standing alone store supermarket/hypermarket.

Di tengah kondisi pasokan yang tidak mengalami penambahan, tingkat hunian pusat perbelanjaan sewa di Jabodebek turun sebesar 0,93% (qtq) atau 0,79% (yoy). Kondisi ini Penurunan tingkat hunian juga terjadi di wilayah Banten sebesar 1,03% (qtq) atau 1,69% (yoy) yang disebabkan oleh pasokan baru belum mencapai tingkat okupansi sewa penuh (100%). Sementara di wilayah Bandung, tingkat hunian pusat ritel sewa meningkat tipis 0,66% dibandingkan periode sebelumnya sejalan dengan penyerapan beberapa pusat perbelanjaan besar seperti Paris Van Java dan Trans Studio Mall Bandung. Di wilayah Batam, tingkat hunian relatif stabil di level 67,5%.

Mengenai harga sewa, survei BI mengungkapkan harga sewa pusat perbelanjaan di wilayah Jabodebek meningkat sebesar 1,21% (qtq) atau 7,12%(yoy), terutama disebabkan oleh kenaikan service charge. Kondisi yang sama terjadi di wilayah Banten sebesar 1,28% (qtq) atau 0,63% (yoy). Sementara di wilayah Bandung, masuknya beberapa tenant baru dengan skala usaha cukup besar (sebagai semi anchor-tenant) telah berdampak pada kenaikan tarif sewa sebesar 8,14% (qtq) atau 28,42% (yoy). Di wilayah Batam, harga sewa pusat perbelanjaan tidak mengalami perubahan dari periode sebelumnya yaitu sebesar Rp 514,2 ribu/m2/bulan.

Pasokan pusat perbelanjaan sewa di Jabodebek pada kuartal II-2014 masih belum mengalami perubahan dari periode sebelumnya, tetap seluas 4,2 juta m2, meski secara tahunan meningkat 5,73% (yoy). Kondisi pasokan ritel sewa di wilayah Jabodebek yang mengalami stagnasi ini sebagian besar merupakan dampak dari kebijakan moratorium ditengah persaingan yang semakin ketat di antara pengembang pusat perbelanjaan.

Ke depan, tren pengembangan pusat belanja/ritel akan dilakukan dengan konsep mixed-use retail atau digabungkan dengan office tower yang sudah ada dan bukan dalam bentuk retail konvensional. Stabilnya tingkat pasokan ritel sewa juga terjadi di wilayah Bandung (713,0 ribu m2) dan Batam (292,6 ribu m2) sejalan belum adanya pusat perbelanjaan baru yang beroperasi di kedua wilayah tersebut. Sementara di wilayah Banten, pasokan ritel sewa tercatat seluas 652,5 ribu m2, meningkat 3,78%(qtq) atau 17,00%(yoy) yang disebabkan mulai beroperasinya 2 (dua) mall di wilayah Tangerang yaitu Transmart Carrefour dan Mall Cimone. Di wilayah Makassar, pasokan ritel sewa pada triwulan II-2014 tercatat seluas 273 ribu m2.

Jumlah pasokan ritel jual di wilayah Jabodebek cenderung stagnan selama 4 (empat) tahun terakhir sebesar 1,75 juta m2. Kondisi ini mengindikasikan pengembang sudah tidak tertarik lagi untuk melakukan pengembangan di sektor retail dikarenakan sulitnya menjalankan bisnis strata-title retail dibandingkan sektor ritel sewa dan lebih memilih strategi merubah menjadi mall sewa untuk menjaga performa usahanya. Meski demikian, permintaan terhadap strata-title retail masih tumbuh sebagaimana ditunjukkan oleh kenaikan tingkat penjualan sebesar 0,48% (qtq) atau 3,44% (yoy).

Kenaikan permintaan ditengah pasokan yang stagnan berdampak pada kenaikan harga jual sebesar 0,85%(qtq) atau 19,18%(yoy). Jika dibandingkan dengan kenaikan harga sewa, kenaikan harga jual strata-title retail pada kuartal II-2014 sebesar 0,85%, lebih rendah dari kenaikan tarif sewa (1,21%).

Stagnasi pasokan ritel strata title juga terjadi di wilayah Bandung dengan pasokan yang cenderung stabil seluas 190 ribu m2. Namun demikian, permintaan masih terindikasi meningkat sebesar 2,22%(qtq) atau 5,75%(yoy) yang pada akhirnya menaikan harga jual sebesar 8,90% (qtq) atau 34,46% (yoy). Di wilayah Banten, pasokan pusat strata ritel meningkat 1,62% (qtq) sejalan dengan dibukanya Mall Cimone. Penambahan pasokan berdampak pada tingkat penjulan yang turun 1,47% (qtq) meski meningkat 0,98% (yoy). Sementara harga jual tercatat masih mengalami peningkatan sebesar 1,50% (qtq) atau 11,82%(yoy). (GUN)