Senin, 09/04/2012

Mungkinkah Mewajibkan Proyek Perumahan Gunakan Listrik Surya?

-jktproperty.com
Share on: 437 Views
Mungkinkah Mewajibkan Proyek Perumahan Gunakan Listrik Surya?

JAKARTA: Pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mulai Mei mendatang akan menjalankan program “Gerakan Penghematan Nasional”, termasuk di dalamnya penghematan energi listrik dan BBM. Jika penggunaan listrik dan BBM semakin tidak terkendali, negara harus mengeluarkan lebih banyak uang untuk menutup biaya subsidinya.

Menurut SBY, gerakan bersama di tingkat nasional ini merupakan gerakan penghematan energi secara total. “Saya akan mengeluarkan instruksi presiden yang baru, termasuk peraturan-peraturan presiden yang diperlukan,” ujarnya sambil meminta masyarakat, dunia usaha, dan lembaga-lembaga negara di pusat maupun daerah mendukung program ini. Tujuannya, apalagi kalau bukan menjaga perekonomian negara, APBN tetap sehat, dan harga BBM tak perlu dinaikkan.

Penghematan energi, listrik atau BBM, sebenarnya bukan barang baru dan isu ini sudah sangat mendunia. Apalagi saat ini dunia tengah diterjang krisis energi yang memang mengharuskan negara untuk ikut campur tangan dalam penanganan [baca: penghematan] energi di negaranya masing-masing.

“Gerakan Penghematan Nasional” ini juga akan menyentuh industri properti, dimana pemerintah kabarnya nanti akan mewajibkan proyek-proyek perumahan menggunakan listrik tenaga surya dan tidak lagi bergantung pada listrik yang selama ini dipasok PLN.

Menurut Ketua Umum Real Estate Indonesia (REI) Setyo Maharso, asosiasi yang dipimpinnya setuju saja bila memang penerapan teknologi listrik surya pada proyek perumahan itu bertujuan menghemat energi listrik. Tapi persoalannya, kata dia, energi surya (solar cell) memerlukan investasi yang cukup mahal. Apalagi, lanjut Setyo, bila investasinya dibebankan kepada pengembang. Tentu akan berdampak pada harga jual rumah kepada masyarakat yang mau tidak mau akan meningkat.

“REI setuju saja kalau tujuannya untuk penghematan. Tapi jangan tujuannya menghemat, yang terjadi malah sebaliknya,” tuturnya.

Memang, meskipun Indonesia merupakan negara tropis, menurut pakar Teknik Fisika ITB, Dr. Brian Yuliarto, energi surya tak bisa dikembangkan secara optimal karena investasinya sangat mahal dan sel suryanya masih harus diimpor.

Itulah mengapa dibandingkan dengan harga listrik PLN, demikian Brian, listrik dari sistem surya itu lebih mahal 30 kalinya. Jika pelanggan PLN harus membayar Rp100.000 untuk pemakaian listriknya per bulan, maka dengan listrik dari sel surya memerlukan investasi awal Rp3 juta. Meski untuk seterusnya tak perlu membayar, namun daya tahannya sudah habis sebelum investasi itu balik modal.

Artinya, dari sisi konsumen, menggunakan listrik PLN jauh lebih murah dibandingkan listrik tenaga surya yang mesti ditebus dengan investasi mahal.

Dalam konteks “Gerakan Penghematan Nasional”, khusus untuk listrik, tampaknya pemerintah tidak bisa memaksakan proyek-proyek perumahan menggunakan listrik tenaga surya, apalagi bila diterapkan secara pukul rata untuk seluruh segmen perumahan.

Adalah lebih bijak bila pemerintah melakukan kampanye menggunakan listrik sesuai dengan keperluan masing-masing rumah tangga. Sementara energi surya mungkin bisa diterapkan untuk gedung-gedung perkantoran, pusat perbelanjaan atau properti komersial lainnya yang memang lebih leluasa secara finansial. (PIT)