Jumat, 17/10/2014

Mohan Sawhney: “BTN Sangat Fokus Biayai Perumahan di Indonesia”

-jktproperty.com
Share on: 1104 Views
Mohan Sawhney: “BTN Sangat Fokus Biayai Perumahan di Indonesia”
Mohan Sawhney

JAKARTA, jktproperty.com – Bank BTN kemarin meluncurkan “BTN Housing Finance Center” sebagai salah satu terobosan dalam mengatasi masalah perumahan di Indonesia, khususnya yang menyangkut pembiayaan perumahan (housing finance). BTN HFC diharapkan bisa menjadi motor penggerak dan pusat referensi properti di Indonesia.

BTN HFC akan menjadi pengelola pusat pembelajaraan perbankan dan riset perumahan yang profesional dan terkemuka di Indonesia. BTN HFC akan menjadi sumber inspirasi para pelaku bisnis di bidang pembiayaan perumahan. Menjawab kebutuhan bisnis pembiayaan perumahan apakah itu dari dunia perbankan ataupun para pelaku pembangunan perumahan, BTN HFC adalah tempatnya. Ini akan menjadi pusat menjawab kebutuhan masalah perumahan di Indonesia.

Menurut Prof. Mohan Sawhney, pakar ekonomi asal India yang juga Director of Center for Research in Technology & Innovation – Kellogg School of Management, AS, apa yang dilakukan BTN dengan menghadirkan HFC merupakan langkah yang semakin membuat bank ini fokus semakin pada pembiayaan perumahan di Indonesia. “BTN HFC ini merupakan satu terobosan besar yang dilakukan Bank BTN sebagai salah satu solusi permasalahan perumahan di Indonesia,” katanya.

Dia mengatakan hal itu pada acara Business Leaders Forum yang diselenggarakan MarkPlus Inc. bekerja sama dengan Bank BTN di Jakarta, kemarin. Selain Mohan, pada sesi diskusi mengenai Housing Finance Center pada forum ini juga dihadirkan Deputi Bidang Pembiayaan Kementerian Perumahan Rakyat Sri Hartoyo dan Ketua Realestat Indonesia (REI) Eddy Hussy dengan moderator Hermawan Kartajaya.

Lebih lanjut Mohan yang merupakan salah satu dari 25 orang paling berpengaruh dalam e-Business menurut versi majalah BusinessWeek mengatakan menjadi perusahaan raksasa, penguasaan pangsa pasar besar dan merek yang dikenal luas tentu menjadi ambisi semua perusahaan. Namun hal ini tidak dapat dicapai dengan mudah karena situasi persaingan bisnis semakin sengit.

Nah, untuk menyiasatinya banyak perusahaan melakukan begitu banyak upaya melalui berbagai kebijakan seperti menambah produk, sumber daya, dan memperluas pasar. Banyak juga perusahaan yang kemudian mengambil langkah strategis seperti merger dan akusisi. “Ironisnya, banyak perusahaan begitu berambisi sehingga melupakan sustainability dan profitable growth. Seakan tidak mau tertinggal dari pesaing, semakin banyak perusahaan yang berfokus mengejar pencapaian jangka pendek,” katanya.

Langkah ekspansi yang dilakukan, kata dia, tidak dipertimbangkan dengan baik. “Akibatnya, begitu banyak perusahaan yang meskipun ‘berhasil’ menjadi besar namun tidak ‘sehat’ secara bisnis,” katanya. (DHP)