Selasa, 25/09/2012

Menguji Cakar Sang Naga di Kawasan Pegunungan

-jktproperty.com
Share on: Facebook 761 Views
Menguji Cakar Sang Naga di Kawasan Pegunungan

 

Oleh: Deddy H. Pakpahan

DALAM peta bisnis properti di Tanah Air, nama Agung Podomoro Land (APL) sudah tidak asing lagi. Boleh jadi, saat ini, dalam ‘peta kekuatan’ kelompok-kelompok usaha properti, APL berada di posisi paling terhormat. Pasca krisis Asia 1997-1998 yang juga mengguncang Indonesia, sebagian besar pengembang papan atas kolaps karena terbelit utang di bank-bank yang juga dilikuidasi pemerintah. Aset mereka disita Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) dan dilelang murah meriah kepada publik dan investor. Pengembang yang tricky mampu membeli kembali asetnya dengan harga murah, tapi toh mereka seperti harus berpikir sejenak untuk ekspansi.

Berbeda dengan APL. Di bawah nakhoda Trihatma K. Haliman, di saat pengembang lain trauma dengan property crash, APL langsung menggebrak industri properti nasional dengan membangun banyak proyek properti. Mulai dari skala menengah hingga skala besar. Intuisi bisnis properti Trihatma memang tak perlu diragukan lagi. Dalam perbincangan satu hari dengan saya, pria yang sangat santun dalam bertutur kata ini mengatakan, “Saya hafal setiap jengkal tanah di Jakarta ini.”

Sewaktu aset-aset properti milik pengembang dilego melalui BPPN, APL memang banyak membeli lahan yang kemudian dikembangkan pascra krisis Asia. Satu contoh lahan yang sekarang telah dibangun superblok Kuningan City, di Jl. Prof. DR Satrio. Selain itu, seperti diakui Trihatma, masih banyak lagi lahan yang dia akuisisi untuk kemudian dibangun properti-properti bergengsi yang selalu mendapat respon positif dari pasar.

Proyek APL mencakup perumahan, apartemen dan superblok. Beberapa proyek perumahan a.l. Bukit Mediterania Samarinda, Permata Mediterania, Gading Grande Residences, Bukit Golf Mediterania, Bukit Gading Mediterania, Telaga Gading Serpong, Villa Serpong dan masih banyak lainnya. Untuk apartemen, pengembang terdepan di Indonesia ini setidaknya telah membangun 20 apartemen a.l. Permata Hijau Residences, The Pakubuwono Residences, Jakarta Residences, Thamrin Residences, Mediterania Marina Residences, The Peak at Sudirman, Sudirman Park, Mediterania Boulevard Residences dan masih banyak lainnya. Sedangkan untuk superblok, APL sedikitnya telah membangun 15 superblok a.l. Podomoro City, Kelapa Gading Square, Braga City Walk, Thamrin City, Seasons City, Kuningan City dan Green Bay Pluit.

Hingga kini APL memiliki setidaknya 24 anak usaha di bidang properti di Jakarta, Karawang, Bandung, Bali, Balikpapan dan Makassar dan dalam waktu 10 tahun terakhir APL telah menyelesaikan lebih dari 50 proyek properti. Tak heran bila nama Trihatma K. Haliman sekarang ini sejajar dengan nama ‘naga-naga properti’ Indonesia seperti Eka Tjipta Widjaja (Sinar Mas Land), Mochtar Riady (Lippo Group), Ciputra (Ciputra Group) dan Sutjipto Nagaria (Summarecon). Tak heran pula bila namanya selalu masuk dalam daftar orang terkaya di Indonesia versi majalah Forbes.

Punya Konsep Jelas

Terlepas dari itu semua, ada hal menarik dari pengembang yang satu ini dalam mengemas proyek-proyek propertinya menjadi produk yang marketable di pasaran, yakni konsep. Artinya, APL bukanlah tipikal pengembang yang asal latah melihat tren perkembangan bisnis properti dalam menginvestasikan modalnya.

Dalam setiap perencanaan proyek properti, APL terlihat mengusung konsep yang jelas dan jujur harus diakui hampir semua proyeknya cocok dengan selera pasar dan memang ada market needs di situ. Sebagai catatan saja, perusahaan yang didirikan Anton Haliman di penghujung 1960-an dan tongkat estafet kepemimpinan diberikan kepada Trihatma pada 1986, membuat konsep konsep pemukiman lengkap dan terpadu di kawasan Sunter, Jakarta Utara. Dan tampaknya membangun proyek properti dengan konsep yang jelas sudah dijadikan semacam tradisi perusahaan yang tak bisa ditawar lagi.

Seperti halnya proyek terbaru APL yang diberi nama Vimala Hills Villa & Resort. Nama Vimala diambil dari bahasa Sanskerta yang artinya ‘murni’. Proyek di atas lahan seluas 100 hektar yang digarap PT Putra Adhi Prima dan berlokadi di kawasan Gadog, Ciawi, Bogor ini menawarkan konsep resor strata-title dimana penghuninya dapat menyatu dengan kemurnian alam pegunungan. Dari 100 hektar lahan yang ada, 80% lahan merupakan ruang terbuka hijau dan bangunan hanya 20%. APL membenanmkan sedikitnya Rp1,75 triliun di proyek ini.

Udara yang masih bersih, sumber air yang masih murni, pemandangan pegunungan [Gunung Salak, Gunung Pangrango dan Gunung Geulis] yang menyejukkan hati, sungguh sangat kontras dengan apa yang bisa ditawarkan kota metropolitan seperti Jakarta yang tingkat polusi dan kemacetan lalu-lintasnya sudah jauh di atas ambang batas. Jaraknya yang tak jauh dari Jakarta (sekitar 45 menit ditempuh dengan mobil), juga membuat Vimala Hills Villa & Resort cocok dibeli oleh mereka yang ingin tinggal di Bogor dan bekerja di Jakarta. Selain tentunya para eksekutif yang tengah mempersiapkan diri memasuki masa pensiun, rasanya ideal sekali memilih Vimala Hills Villa & Resort.

Tiga Alasan Utama

Ya. Setidaknya memang ada tiga alasan utama kenapa Vimala Hills Villa & Resort perlu diperrtimbangkan sebagai hunian yang ideal. Pertama karena resor ini mampu memenuhi kebutuhan akan kesehatan jasmani dan kesejahteraan (health and wealth reason) dengan kualitas lingkungan yang tenang dan sehat. Kedua, alasan masa depan (future reason), dimana resor ini bisa menjadi tempat berkumpul anak dan cucu sambil menikmati suasana pensiun premium dan berkualitas.

Di kawasan sekitar Jakarta seperti Depok, Tangerang dan Bekasi hingga kini belum ada satu kawasan hunian yang rasanya cocok dibeli oleh eksekutif untuk menikmati masa pensiunnya. Bahkan kalau mau jujur, di kawasan itu kurang cocok bila dijadikan kawasan hunian bagi orang-orang tua yang ingin menikmati masa pensiunnya.

Alasan ketiga adalah alasan investasi (investment reason). Di Vimala Hills Villa & Resort nantinya juga akan dibangun fasilitas lengkap dengan standar internasional seperti hotel berbintang lima Pullman, F&B retail, Sun Flower Garden, taman rusa, children play land, tea house, strawberry house dan milk house, fishing village dengan danau buatan dan fasilitas olahraga air, jogging track dan bicycle track, padang golf, retirement village yang mampu mengakomodir aktivitas orang-orang tua, outbound retreat dan club house. Semua fasilitas yang dibangun dengan standar internasional itu tentu akan meningkatkan nilai dari properti yang dibeli para konsumen. Untuk menhadirkan suasana nyaman di tengah alam pegunungan, pihak pengembang menggandeng desainer dan arsitek berkelas internasional seperti Olsa Design, Peridian Asia, dan Wallerby, Allison, Tang & Go (WATG).

Sukses Saat Pemasaran Perdana

Vimala Hills Villa & Resort menawarkan vila mulai dari 1 kamar tidur (180 m2-220 m2), 2 kamar tidur (270 m2), 3 kamar tidur (300 m2-360 m2), 4 kamar tidur (450 m2-550 m2), dan 5 kamar tidur (1.000 m2-1.600 m2) dengan harga mulai dari Rp1,2 miliar hingga Rp10 miliar per unit vila. Total vila yang ditawarkan dalam beberapa kluster mencapai 690 unit dan proyek ini diperkirakan akan rampung pada awal 2017 mendatang.

Tak sedikit pelaku di bisnis properti kompetitor sangsi dengan proyek ini. Mereka bertanya-tanya apakah vila-vila premium itu laku dipasarkan di kawasan Gadog? Kalau harganya sampai Rp10 miliar per unit, apakah tidak lebih bagus mereka menanamkan investasinya dengan membeli properti di Jakarta atau Bali? Begitu mereka bertanya-tanya.

Di sini ‘cakar sang naga’ diuji. Tapi saya yakin, APL dengan nakhkoda Trihatma K. Haliman punya intuisi bisnis yang sangat baik. Sikapnya yang berani melawan arus, tentu diimbangi dengan konsep yang jelas dan riset pasar yang mumpuni, sebenarnya proyek Vimala Hills Villa & Resort tak perlu diragukan lagi.

Semua itu terbukti dari suksesnya pemasaran kluster Bromo dan Pangrango, dimana 90% vila yang dipasarkan sudah terserap pasar. Sementara kluster Semeru dan Argopuro yang baru dipasarkan beberapa minggu sudah terjual 15%. Tahap pertama pembangunan proyek ini mencakup 6 kluster vila, yakni Bromo, Pangrango, Semeru, Rinjani, Argopuro, dan Krakatau. Tahap kedua dimulai 2013, dengan membangun Hotel Pullman. Tahap ketiga akan dibangun lagi tiga kluster vila. Tentu segmen pasar yang disasar Vimala Hills Villa & Resort adalah orang-orang berduit dan di sini saya kira APL jeli melihat data pertumbuhan jumlah orang kaya di Indonesia—utamanya berdomisili di Jakarta—yang setiap tahun terus bertumbuh.

Menurut perhitungan MaeSa Consulting Indonesia yang didasarkan pada kepemilikan deposito minimal Rp10 miliar per deposan, pada 2011 lalu jumlah orang kaya di Indonesia mencapai 22.000 orang dengan total dana kelolaan perbankan sebesar Rp1.600 triliun. Sementara potensi orang kaya di Indonesia ada 2 juta lebih dan mereka mempunyai kesempatan untuk menjadi orang kaya berikutnya. Investasi yang dilakukan orang kaya tersebut, lanjutnya, sebagian besar ke pasar modal, yakni 33%-nya. Pasalnya, pasar modal memberikan return yang tinggi sehingga meningkatkan jumlah kekayaan mereka secara signifikan. Sementara sisanya menginvestasikan dalam bentuk deposito, properti dan fixed income.

So, dengan konsep yang baik dan ceruk pasar premium yang masih sangat potensial di-grap, Vimala Hills Villa & Resort dipastikan bisa mendulang sukses seperti kebanyakan proyek-proyek APL lainnya. Selain itu, track record APL selama ini dipastikan juga akan mampu mendongkrak sisi pemasaran karena bagaimana pun dalam bisnis properti nama baik developer sangat memainkan peranan dan itu dimiliki Agung Podomoro Land. (Penulis adalah editor-in-chief jktproperty.com)