Selasa, 27/11/2012

Mengapa Indonesia Belum Diperhitungkan di Ajang FIABCI Prix d’Excellence?

-jktproperty.com
Share on: 481 Views
Mengapa Indonesia Belum Diperhitungkan di Ajang FIABCI Prix d’Excellence?

jktproperty.com | Ajang penghargaan Fédération Internationale des Administrateurs de Biens Conseils et Agents Immobiliers [Federasi Real Estate Dunia atau biasa disingkat FIABCI] Prix d’Excellence sangat diidam-idamkan banyak pengembang. Seperti Academy Award atau Piala Oscar di ajang kompetisi perfilman dunia, penghargaan di ajang FIABCI Prix d’Excellence punya gengsi tersendiri bagi pengembang. Tahun ini ajang kompetisi FIABCI Prix d’Excellence kembali digelar. Di Indonesia, seperti penyelenggaraan sebelumnya, FIABCI menggandeng Bank BNI (FIABCI Indonesia-BNI Prix d’Excellence Awards 2012), dimana di ajang ini properti pengembang akan diseleksi kemudian dipilih untuk direkomendasikan pada ajang internasional. Hasilnya akan diumumkan pada penyelenggaraan FIABCI World Congress di Taichung, Taiwan, Mei 2013.

Menurut Presiden FIABCI Indonesia Setyo Maharso yang juga Ketua Umum DPP Real Estate Indonesia (REI), ajang kompetisi produk proterti seperti ini diharapkan bisa meningkatkan motivasi di kalangan pengembang untuk menciptakan produk-produk properti berkualitas sesuai standar nasional maupun internasional. Ajang kompetisi seperti ini juga penting untuk mengangkat karya-karya realestat Indonesia ke level lebih tinggi.

“FIABCI Prix d’Excellence ini adalah kompetisi yang positif, terutama bagi anggota REI, sebab mereka bisa memamerkan sekaligus mempromosikan produk propertinya di luar negeri. Di negara-negara tetangga, seperti Malaysia dan Singapura, penghargaan ini jadi semacam iklan besar bagi pengembang atau arsitek di kancah internasional. Sementara di Indonesia, pengembang belum terbiasa menjadikan penghargaan sebagai sarana promosi,” katanya saat menjelaskan penyelenggaraan FIABCI Indonesia-BNI Prix d’Excellence Awards 2012 di Jakarta (26/11).

Seperti dijelaskan pihak penyelenggara, FIABCI Indonesia-BNI Prix d’Excellence Awards 2012 merupakan penghargaan untuk sejumlah proyek properti dengan penilaian yang menitikberatkan pada konsep bangunan dan lingkungan yang mampu memberikan solusi kebutuhan properti bagi masyarakat. Pada penyelenggaraan sebelumnya, 2010, dari sekian banyak pengembang di Indonesia, ajang ini hanya diikuti 40 peserta, sementara tahun ini meningkat menjadi 64 peserta. Masih tergolong jumlah yang minim untuk ukuran Indonesia.

Pada FIABCI Indonesia-BNI Prix d’Excellence Awards 2012 ada 14 kategori dan nominasi yang akan dilombakan a.l. heritage, sustainable development, hotel, industrial, masterplan, office, residential (high rise), residential (low rise), resort, retail, special project, rumah sederhana tapak dan rumah susun sederhana sehat.

Belum Diperhitungkan

Yang menarik dalam ajang FIABCI Prix d’Excellence, Indonesia sampai hari ini belum menjadi negara yang diperhitungkan. Di kawasan Asia Tenggara, Malaysia dan Singapura masih mendominasi kategori-kategori yang dilombakan. “Malaysia dan Singapura memang ‘langganan’ menjadi pemenang di ajang kompetisi produk properti paling bergengsi sedunia ini,” kata Ketua Penyelenggara FIABCI Indonesia-BNI Prix d’Excellence Awards 2012 Meiko Handoyo.

Indonesia pernah beberapa kali meraih penghargaan FIABCI Prix d’Excellence. Pada 1994 misalnya, Taman Impian Jaya Ancol meraih penghargaan untuk kategori resor/theme park. Kemudian 2006 Pondok Indah Mall untuk kategori ritel, sementara pada 2010 proyek apartemen Regatta di kawasan Pantai Mutiara, Jakarta, yang dirancang arsitek kelas dunia Tom Wright juga memperoleh penghargaan.

Proyek properti di Indonesia, demikian Meiko, sebenarnya tak kalah dibandingkan dengan Malaysia, Singapura atau Filipina. Pengembang di negara lain menganggap ajang ini penting dan punya nilai lebih dari sisi komersial. Selain itu, dari sisi banyaknya jumlah proyek yang diikutsertakan, mereka juga lebih siap.

“Pengembang di Indonesia rata-rata belum siap. Kelengkapan dokumentasi seringkali menjadi kendala. Proyek properti Indonesia bagus-bagus, tapi banyak yang dianulir, karena data-datanya tidak lengkap,” tuturnya.

Tak Ada Kebanggan

Selain persoalan administratif, belum diperhitungkannya Indonesia di ajang FIABCI Prix d’Excellence, bisa juga karena Indonesia belum dapat memunculkan satu produk properti dengan arsitektur yang mengangkat kekhasan Indonesia dan bisa diterima secara universal.

Belum lama ini pada acara Jakarta Architecture Triennale (JAT) yang digelar Ikatan Arsitek Indonesia (AIA) Jakarta, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Mari Elka Pangestu ‘menantang’ arsitek Indonesia membuat bangunan yang iconic, yang mampu mendatangkan wisatawan ke Indonesia. “Kita sangat berharap para arsitek Indonesia mampu menciptakan gedung atau bangunan yang iconic,” katanya.

Terkait dengan penyelenggaraan ajang FIABCI Prix d’Excellence 2012, pernyataan Mari Pangestu ini sangat menarik sekaligus menggugah kesadaran kita bersama bahwa Indonesia yang memiliki akar seni arsitektur tinggi, bahkan kelasnya adiluhung [terbukti dengan adanya bangunan candi-candi di abad lampau] seharusnya mampu merajai ajang FIABCI Prix d’Excellence, setidaknya di tingkat regional Asia Pasifik.

Persoalannya adalah, sampai sekarang kita selalu melihat sesuatu yang berbau kebarat-baratan dan yang ada di luar rumah kita sebagai sesuatu yang wah, sesuatu yang hebat dan ironisnya kita meniru dan mengadopsinya begitu saja. Berapa banyak pengembang yang mencontek bangunan atau produk properti dari negara lain pada proyek propertinya di Indonesia? Berapa banyak pengembang di Indonesia yang bangga bila menggunakan jasa arsitektur asing?

Sejujurnya kita belum bangga menjadi Indonesia. Itulah yang membuat Indonesia belum terlalu diperhitungkan dalam ajang kompetisi produk properti internasional seperti halnya dalam FIABCI Prix d’Excellence. (Deddy H. Pakpahan)