Minggu, 04/03/2012

Mengapa Bank Masih Enggan Beri KPA Kondotel?

-jktproperty.com
Share on: 639 Views
Mengapa Bank Masih Enggan Beri KPA Kondotel?

JAKARTA: Meski prospek investasi properti jenis kondotel atau kondominium hotel, terutama di Bali cukup cerah, sedikit sekali bank yang mau menyalurkan KPA proyek kondotel. Padahal permintaan KPA kondotel cukup tinggi. Mengapa bank terlihat masih enggan memberikan kredit pemilikan apartemen (KPA) untuk properti jenis kondotel?

Apa yang dilakukan BNI Cabang Surabaya pada medio pertengahan tahun lalu yang memberikan fasilitas kredit pemilikan apartemen (KPA) untuk pembeli proyek kondotel The Rich Prada yang dikembangkan PT Gala Bumi Perkasa di Bali, adalah sebuah terobosan brilian dalam hal memacu kredit konsumer bank plat merah tersebut. Mengapa disebut terobosan brilian? Karena sampai saat ini jarang ada bank yang mau membiayai KPA kondotel yang sebagian besar dibangun di Bali dengan prospek sangat menjanjikan. Bank hanya tertarik membiayai kredit konstruksi kondotel dan belum melirik KPA kondotel. Untuk KPA kondotel The Rich Prada, BNI memberikan bunga 8,75% fixed satu tahun dan 11% fixed lima tahun kemudian.

The Rich Prada adalah kondotel bintang lima dengan 911 unit kamar dan vila yang target market-nya menyasar pengusaha papan atas yang ingin memiliki aset mewah di Bali. The Rich Prada Bali yang menelan investasi tak kurang dari Rp1 triliun berlokasi di kawasan yang menjadi tujuan paling diminati di Bali pada masa mendatang, yaitu Pantai Dreamland, persisnya di kompleks Pecatu Graha.

Mengenai permintaan KPA kondotel, Tony Eddy, Chairman Tony Eddy & Associates (TEA), mengatakan demand KPA kondotel sangat tinggi. “Hampir 60%-70% calon pembeli kondotel selalu menanyakan kepada kami apakah ada fasilitas KPA-nya. Persoalannya sampai saat ini masih jarang bank yang mau memberikan KPA untuk proyek-proyek kondotel,” ujarnya.

Tony mengatakan bank mungkin masih khawatir dengan proyek kondotel yang biasanya melibatkan chain hotel dalam pengelolaannya. Kondotel, lanjut dia, memang punya persoalan yang sangat kompleks lantaran terkait pula dengan chain hotel. “Kalau chain hotel yang dipilih tidak bagus me-manage kondotelnya, maka bisa saja pembeli kondotel mangkir membayar cicilannya. Bila sudah demikian bank tidak mungkin menyita unit kondotel yang sudah beroperasi misalnya dengan menulis di pintu unit kondotel bahwa unit itu disita bank. Ini tidak mungkin dilakukan seperti halnya untuk KPR atau KPA,” lanjut lelaki yang saat ini dipercaya banyak memasarkan proyek kondotel di Bali.

Namun, lanjut Tony, hal itu bisa disiasati bank dengan mengambil hasil sewa yang semula menjadi hak pemilik unit kondotel. “Atau bisa juga ada agreement dengan pihak developer bila pembeli tidak membayar cicilan KPA kondotel-nya maka pengembang dapat membeli kembali (buy back) unit kondotel tersebut. Sebenarnya ada beberapa opsi yang dapat dipilih untuk menghindari kerugian yang akan ditanggung pihak bank. Saya kira bank harusnya jeli melihat kondotel sebagai proyek yang harus didanai sama dengan KPR atau KPA,” tuturnya.

Sementara itu Arief Rahardjo, Associate Director Research & Advisory Cushman & Wakefield Indonesia, mengatakan bahwa hampir sebagian besar proyek kondotel di Bali mencatat sukses dengan nilai penjualan yang cukup tinggi, yakni di kisaran harga Rp20 juta-Rp35 juta per m2. Hal itu dipicu terus membaiknya pasar perhotelan di Bali sebagai destinasi nomor wahid di Indonesia sehingga mendongkrak angka okupansi dan average room rate.

Sedangkan Hasan Pamudji, Senior Research Manager Knight Frank Indonesia mengungkapkan masa depan investasi kondotel di Bali masih cukup cerah dalam beberapa tahun ke depan. Dibandingkan dengan daerah lainnya di Bali, kondotel di Kuta punya prospek paling cerah dengan tingkat penjualan rata-rata 62%. Namun bukan berarti area lain seperti Sanur, Legian dan beberapa area lainnya tidak prospektif. “Kondotel yang berlokasi di dekat pantai, pusat perbelanjaan dan restoran dengan manajemen hotel yang mumpuni akan banyak diminati investor,” tambahnya. (DHP)