Rabu, 20/02/2013

‘Mahalnya’ Perizinan Pengaruhi Kenaikan Harga Rumah

-jktproperty.com
Share on: 495 Views
‘Mahalnya’ Perizinan Pengaruhi Kenaikan Harga Rumah

JAKARTA, jktproperty.com – Harga bangunan disebut-sebut menjadi faktor dominan naiknya harga properti residensial selama triwulan IV-2012. Survei Harga Properti Residensial (SHRP) Bank Indonesia yang dipublikasikan belum lama ini mengungkapkan kenaikan harga bahan bangunan memberikan kontribusi 34,33% terhadap kenaikan harga properti residensial. Selain itu, ‘mahalnya’ biaya perizinan juga punya korelasi yang cukup erat dengan kenaikan harga rumah.

SHRP Bank Indonesia pada triwulan IV-2012 mengungkapkan harga properti residensial untuk semua tipe rumah pada triwulan IV-2012 mengalami kenaikan. Survei yang dilakukan di 14 kota besar mengindikasikan indeks harga properti residensial pada triwulan IV-2012 berada pada level 153,58 atau naik 3,81% (qtq). Kenaikan ini lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya (1,04%).

Faktor utama penyebab kenaikan harga properti residensial berasal dari kenaikan harga bahan bangunan (34,33%), kenaikan upah pekerja (23,80%), serta masih mahalnya biaya perizinan (17,11%).

Survei BI itu juga mengungkapkan harga properti residensial triwulan IV-2012 meningkat baik secara triwulanan maupun tahunan. Secara triwulanan dan tahunan, kenaikan harga properti residensial tertinggi terjadi pada rumah tipe kecil.

Tingkat penjualan properti residensial pada triwulan IV-2012 meningkat. Hasil survei menunjukkan terjadi peningkatan penjualan sebesar 26,68% (qtq). Peningkatan penjualan terutama terjadi pada rumah tipe kecil yaitu sebesar 41,02% (qtq). Berdasarkan lokasi, penjualan unit rumah tipe kecil tertinggi terjadi di Jabodebek dan Banten. Penjualan rumah naik terutama pada tipe rumah kecil.

Secara triwulanan (qtq), kenaikan harga paling tinggi terjadi pada rumah tipe kecil. Dibandingkan dengan periode sebelumnya, hasil survei mengindikasikan peningkatan harga terjadi pada seluruh tipe bangunan dengan peningkatan tertinggi terjadi pada rumah tipe kecil (4,95%, qtq).

Sementara berdasarkan wilayah, Makasar mengalami kenaikan harga paling tinggi (5,28%), terutama pada rumah tipe kecil (7,92%). Peningkatan harga yang cukup tinggi juga terjadi di wilayah Padang, dengan kenaikan harga tertinggi terjadi pada rumah tipe kecil (11,44%).

Secara tahunan (yoy), harga properti residensial pada triwulan IV-2012 meningkat lebih tinggi dari periode yang sama tahun sebelumnya. Indeks harga properti residensial secara tahunan tercatat mengalami peningkatan sebesar 6,98%, lebih tinggi dibandingkan kenaikan harga pada periode yang sama tahun sebelumnya (4,25%).

Bila dilihat berdasarkan tipe rumah, kenaikan harga terjadi pada semua tipe rumah, dengan kenaikan tertinggi terjadi pada rumah tipe kecil (8,24%). Berdasarkan wilayah, kenaikan harga paling tinggi terjadi di wilayah Makasar, terutama pada rumah tipe kecil (18,90%).

Kenaikan harga juga terjadi di wilayah Denpasar, sebesar 9,97%, dengan peningkatan paling tinggi terjadi pada rumah tipe besar (15,07%). Kenaikan indeks harga properti residensial mengindikasikan pergerakan yang searah dengan kenaikan indeks harga sub kelompok biaya tempat tinggal. Indeks harga sub kelompok biaya tempat tinggal IHK-BPS pada Triwulan IV-2012 (Desember 2012) tercatat meningkat sebesar 1,15%, lebih tinggi daripada kenaikan pada periode sebelumnya (0,83%). Demikian juga dengan IHPR pada Triwulan IV-2012 yang mengalami peningkatan sebesar 3,81%. IHPR pada triwulan IV-2012 tumbuh searah dengan kenaikan IHK sub kelompok biaya tempat tinggal. (LEO)