Selasa, 03/04/2012

Land Banking Memadai, Intiland Fokus pada Proyek Baru

-jktproperty.com
Share on: 647 Views
Land Banking Memadai, Intiland Fokus pada Proyek Baru

JAKARTA: Hingga akhir 2011 lalu PT Intiland Development Tbk masih memiliki persediaan lahan (land banking) yang memadai, yakni 20.256.086 m2 yang tersebar di Jakarta, Banten, Surabaya dan beberapa lokasi lainnya. Land banking yang memadai ini membuat Intiland akan fokus pada pembangunan dan pemasaran proyek-proyek baru.

Berdasarkan laporan akhir tahun yang dikeluarkan perseroan, Intiland masih memiliki stok tanah yang siap dikembangkan di Tangerang, Banten seluas 3,3 juta m2; Lebak, Banten (10,9 juta m2), Graha Famili, Surabaya (80.925 m2); Kebon Melati, Jakarta (41.802 m2); Gandaria, Jakarta (79.301 m2); dan di beberapa lokasi lainnya dengan total nilai mencapai Rp2,45 triliun. Nilai aset perusahaan berupa tanah ini meningkat dibandingkan 2010 sebesar Rp1,75 triliun.

Menurut Direktur Pengelolaan Modal dan Investasi Intiland Archied Notopradon, arah pertumbuhan usaha Intiland ke depan akan semakin pesat dan substansial. Hal itu disebabkan karena beberapa proyek baru memiliki skala pembangunan yang cukup besar sehingga akan memberikan dampak signifikan bagi pertumbuhan kinerja operasional maupun keuangan. “Ke depan kami akan banyak meluncurkan proyek baru yang akan memperkuat fondasi usaha dan pertumbuhan pendapatan perusahaan secara berkelanjutan,” katanya.

Selain dari penjualan unit properti, demikian Archied, Intiland akan terus memperbesar porsi recurring income lewat perluasan jaringan Whiz Hotel dan pembangunan kawasan bisnis South Quarter di Jakarta Selatan. Untuk subsektor perumahan, Intiland akhir tahun lalu meluncurkan dua proyek baru yakni Serenia Hills seluas 10 hektar di Lebak Bulus, Jakarta Selatan dan Graha Natura di Surabaya. Graha Natura merupakan perumahan baru yang akan menggantikan proyek Graha Famili yang sisa lahannya semakin terbatas. Diluncurkan sejak awal 2012, pengembangan tahap pertama meliputi lahan seluas 25 hektar dari total lahan 80 hektar.

Di sektor perhotelan Intiland tahun ini mulai membangun sedikitnya delapan hotel, antara lain dua hotel di Jakarta, Bogor, Palangkaraya, Manado, Bali, Malang, dan Makasar. Sementara untuk pembukaan hotel baru, ditargetkan sebanyak lima, yakni tiga hotel di Jakarta, Balikpapan, dan Bali. Kemudian di segmen mixed-use development dan highrise building, Intiland tahun ini telah menyiapkan lima proyek baru di Jakarta dan Surabaya. Proyek-proyek tersebut masing-masing adalah kawasan bisnis South Quarter di Jakarta Selatan, 1 Park Residences tahap II, Aeropolis Residence di Cengkareng Tangerang, Spazio, dan apartemen Sumatra 36 di Surabaya.

Keunggulan Intiland

Boleh dibilang saat ini Intiland adalah pengembang yang punya portofolio produk terlengkap, yakni sebagai pengembangan kawasan perumahan, mixed-use development dan highrise building, perhotelan, dan kawasan industri.

Yang menjadi pertanyaan pada segmen apa keunggulan Intiland? Kalau melihat laporan akhir tahun perusahaan, pendapatan terbesar diperoleh dari penjualan apartemen, dimana pada 2011 lalu nilainya mencapai lebih dari Rp415 miliar atau meningkat signifikan dibandingkan akhir 2010 yang hanya sebesar Rp159 miliar.

Sedangkan untuk perumahan dan penjualan kavling, pendapatan Intiland selama 2011 hanya sekitar Rp395 miliar atau drop dibandingkan pendapatan dari penjualan properti serupa selama 2010 sebesar Rp570 miliar. Inilah yang coba dkejar Intiland dengan membangun proyek perumahan baru selama 2012 ini.

Bagaimana pula halnya dengan pendapatan sewa dari gedung-gedung perkantoran yang dibangun Intiland? Untuk gedung perkantoran, Intiland memiliki Intiland Tower di Jakarta dan Surabaya, kemudian Wisma Manulife (Jakarta) dan Graha Pratama (Jakarta).

Selama 2010 perseroan memperoleh dana dari pendapatan sewa properti investasinya sebesar Rp32,5 miliar dan meningkat menjadi Rp37,7 miliar selama 2011. Pasar perkantoran di Jakarta dan Surabaya yang cukup bergairah sepanjang 2011 agaknya menjadi pendorong kuat meningkatnya pendapatan sewa properti investasi Intiland.

Lirik Residensial dan Ritel

Terus menguatnya tren pasar perkantoran Jakarta ini juga diantisipasi Intiland dengan membangun South Square, kawasan binsis baru di koridor Jl. TB Simatupang, Jakarta Selatan. South Square berdiri di atas lahan seluas 7,1 hektare di bilangan Cilandak, Jakarta Selatan dengan total luas bangunan 220.000 m2. Selain perkantoran, akan terdapat kondominium dan serviced apartment.

Tak tanggung-tanggung, dana yang digelontorkan Intiland untuk South Square mencapai Rp3 triliun, dimana pada awal pembangunan akan dibangun tiga tower perkantoran. Seperti diakui Presdir PT Intiland Development Hendro S. Gondokusumo, pengembangan mega proyek tersebut mempertimbangkan potret pasar perkantoran yang tumbuh semakin pesat, khususnya di Jakarta Selatan.

Hendro mengatakan dengan maraknya investasi asing, maka kebutuhan perkantoran akan semakin meningkat di masa mendatang. Hal tersebut, sambungnya, juga disebabkan dengan membaiknya kondisi ekonomi makro di Indonesia. Hendro mengatakan pihaknya akan membangun tiga menara perkantoran yang masing-masing terdiri dari 20 lantai serta fasilitas ritel pendukung. Nilai investasi untuk tahap awal tersebut adalah Rp1,8 triliun dan akan berdiri di atas lahan seluas 120.000 m2 untuk perkantoran, sedangkan 9.000 m2 untuk properti ritel. Dengan investasi yang tak main-main, bisa dipastikan South Quarter akan menjadi proyek yang diunggulkan Intiland dan menjadi paling prestisius di koridor TB Simatupang.

Sayangnya, masuknya Intiland ke sektor perkantoran di koridor TB Simatupang terkesan agak telat dan akan menghadapi kompetisi yang cukup ketat dengan proyek perkantoran yang sekarang sedang dibangun maupun yang sudah existing. Kalau mau mengutip riset yang dilakukan Knight Frank Indonesia bahwa pada 2014 perkantoran di kawasan non-CBD Jakarta akan menggelembung dengan derasnya pasok properti perkantoran, fokus pada properti residensial dan ritel di koridor TB Simatupang agaknya lebih menjanjikan ketimbang berkompetisi memperebutkan pasar perkantoran yang mungkin saja akan jenuh di kawasan ini dalam 2-3 tahun mendatang.

Ritel dan residensial lebih menjanjikan? Ya, karena saat ini di sepanjang koridor TB Simatupang properti ritel yang benar-benar bisa diperhitungkan hanya Cilandak Town Square. Sedangkan untuk apartemen, nyaris tidak ada yang bisa diunggulkan karena apartemen yang ada rata-rata berusia tua sedangkan demand-nya di daerah ini cukup tinggi. (Deddy H. Pakpahan)