Jumat, 15/08/2014

Lamban, Kinerja Pertumbuhan Properti Komersial Kuartal II-2014

-jktproperty.com
Share on: 754 Views
Lamban, Kinerja Pertumbuhan Properti Komersial Kuartal II-2014
Foto: Apartemen Menteng Square/Deddy H. Pakpahan
KINERJA MELAMBAN: pertumbuhan properti komersial secara nasional selama kuartal II terlihat lamban. Pasok perkantoran terlihat paling terlihat mengalami perlambatan, sementera pasok ritel, hotel dan lahan industri stagnan. Hanya pasok apartemen saja yang mengalami peningkatan, terutama di wilayah Jakarta, Bogor, Depok dan Bekasi (Jabodebek) serta Provinsi Banten.

JAKARTA, jktproperty.com – Survei Properti Komersial Bank Indonesia (BI) mengungkapkan pertumbuhan properti komersial secara nasional selama kuartal II terlihat lamban. Pasok perkantoran terlihat paling terlihat mengalami perlambatan, sementera pasok ritel, hotel dan lahan industri stagnan. Hanya pasok apartemen saja yang mengalami peningkatan, terutama di wilayah Jakarta, Bogor, Depok dan Bekasi (Jabodebek) serta Provinsi Banten.

Untuk perkantoran di wilayah Jabodebek, demikian survei BI, selama kuartal II-2014 pertumbuhannya melambat, yakni 1,56% (yoy) dibandingkan periode sebelumnya sebesar 2,86% (yoy). Hal ini terjadi sejalan dengan perlambatan permintaan pelaku usaha yang memilih untuk wait and see dalam melakukan ekspansi usaha. Sejalan dengan perlambatan permintaan, kenaikan harga jual/sewa perkantoran sebesar 26,46% (yoy), lebih rendah dibandingkan periode sebelumnya sebesar 27,89% (yoy).

Namun BI memprediksi pasok ruang perkantoran meningkat dalam 2-3 tahun mendatang, terutama di kawasan CBD yang didorong oleh proyek pembangunan Mass Rapid Transit (MRT).

Sementara itu untuk ritel (pusat perbelanjaan), Bank Indonesia melihat pasok di Jabodebek dan Bandung cenderung stagnan dari periode sebelumnya sebagai dampak kebijakan moratorium di tengah persaingan yang semakin ketat di antara pengembang pusat perbelanjaan. Pasokan masih terindikasi meningkat di wilayah Banten antara lain dengan dibukanya 2 pusat perbelanjaan baru di wilayah Tangerang. Sejalan dengan perlambatan permintaan, kenaikan harga jual/sewa juga melambat dibandingkan periode sebelumnya menjadi 19,18% (yoy) dari 25,53% (yoy).

Tren pengembangan pusat perbelanjaan ke depan akan dilakukan dengan konsep mixed-use retail atau digabungkan dengan office tower yang sudah ada dan bukan dalam bentuk ritel konvensional.

Untuk hotel, survei BI mengungkapkan pasok kamar hotel di wilayah Jabodebek cenderung tetap, sementara di wilayah Banten dan Bandung meningkat dibandingkan periode sebelumnya. Faktor musiman libur tahun ajaran baru dan masa kampanye menjelang pelaksanaan Pemilu Presiden (Pilpres) telah menyebabkan tingkat hunian hotel diketiga wilayah mengalami peningkatan dengan pertumbuhan occupancy rate masing-masing sebesar 8,13% (yoy), 9,54%(yoy) dan 6,19% (yoy). Sejalan dengan kondisi ini, tarif kamar hotel mengalami peningkatan.

Pasokan lahan industri di Jabobeka dan Banten cenderung stagnan, namun kebutuhan masih cukup besar dengan meningkatnya tingkat penjualan sebesar 2,32% (yoy) dan tingkat hunian sebesar 1,61% (yoy), meskipun melambat dibandingkan periode sebelumnya.

Satu-satunya sektor yang mengalami peningkatan adalah apartemen. Pasokan apartemen jual (kondominium) di Jabodebek dan Banten terus meningkat sejalan dengan semakin diminatinya kondominium strata title sebagai instrumen investasi. Hal ini terindikasi dari penjualan yang meningkat (0,69%;yoy), meskipun lebih lambat dibandingkan periode sebelumnya (2,92%;yoy). Masih meningkatnya permintaan telah mendorong harga jual kondominium menjadi rata-rata sebesar Rp23,8 juta/m2. Demikian halnya tarif sewa apartemen yang terindikasi meningkat signifikan sebesar 43,57% (yoy) sebagai dampak pergerakan nilai tukar rupiah khususnya terhadap komponen service charge. (GUN)