Senin, 13/04/2015

Kuartal I-2015 Kinerja Sektor Properti Masih Lamban

-jktproperty.com
Share on: 2125 Views
Kuartal I-2015 Kinerja Sektor Properti Masih Lamban
Foto: Istimewa
KINERJA PROPERTI: Pasar properti selama kuartal I-2015 masih mengalami perlambatan. Hal ini terjadi sebagai konsekuensi logis kinerja sektor properti selama 2014 yang mengalami perlambatan.

JAKARTA, jktproperty.com – Konsultan properti Colliers International Indonesia mengungkapkan pasar properti selama kuartal I-2015 masih mengalami perlambatan. Hal ini terjadi sebagai konsekuensi logis kinerja sektor properti selama 2014 yang mengalami perlambatan.

Associate Director Research Colliers International Indonesia Ferry Salanto mengatakan, tingkat hunian perkantoran di kawasan central business district (CBD) pada awal 2014 mencapai 96,5%. “Pencapaian itu turun menjadi 95,7% pada akhir 2014. Selanjutnya, pada kuartal I/2015 kembali turun menjadi 93,6%. Tren penurunan tingkat hunian menunjukkan bahwa penyewa sekarang mempertimbangkan relokasi ke luar CBD,” katanya saat menyampaikan 1st Quarter 2015 Jakarta Property Markets Report di Jakarta pekan lalu.

Menurut dia kondisi tersebut merupakan efek lanjutan dari perlambatan pada 2014. Tak hanya okupansi, harga sewa dasar di perkantoran premium dan grade A juga mempengaruhi tingkat hunian. Semakin mahal harga sewa dasar semakin besar pula pengaruhnya terhadap keterisian gedung. “Pengaruh tersebut bisa menurunkan tingkat hunian sebesar 3,7% menjadi 92,1%.”

Pertumbuhan suplai kumulatif ruang perkantoran hanya bertengger di angka 2,9% dengan total suplai sebesar 4,78 juta m2 pada kuartal I/2015. Suplai terbesar (43%) masih didominasi perkantoran di kawasan Jalan Sudirman, Jakarta Selatan. Di samping itu, suplai juga datang dari kawasan Jalan Gatot Subroto seluas 130.000 m2. Dari tambahan suplai sepanjang 2015 – 2019 seluas 2,9 juta m2, sebesar 75% telah memulai pekerjaan konstruksi. Dari persentase itu sebanyak 12 gedung seluas 816.500 m2 masih dalam tahap perencanaan pada kuartal I/2015.

Director Office Service Colliers International Indonesia Bagus Adikusumo menegaskan perlambatan pada kuartal I-2015 terlalu dini untuk diartikan bahwa properti perkantoran kurang cerah pada 2015. Pada kuartal II/2015 diharapkan penyerapannya lebih tinggi menyusul semakin masifnya proyek-proyek infrastruktur yang digulirkan pemerintah. “Namun, jika penyerapannya tetap rendah pada kuartal-kuartal berikutnya, maka akan terjadi koreksi harga yang cukup dalam,” katanya.

Subsektor Apartemen, Hotel dan KI

Sementara itu menyinggung subsektor apartemen, suplai sepanjang 2015 diproyeksikan mencapai 29.451 unit. Hanya saja, pasokan kumulatif tumbuh dengan kecepatan moderat. Pada kuartal pertama, pasar apartemen menerima 3.255 unit baru, yang berasal dari empat proyek baru dan tiga menara yang telah dibangun. Unit-unit yang merupakan 115 dari total proyeksi tersebut tersebar di seluruh wilayah Jakarta.

Menurut Ferry, perlambatan di sektor apartemen terjadi di pertumbuhan harga. Laju pertumbuhan harga apartemen pada 2014 melambat dibandingkan periode 2011-2013, dimana pertumbuhannya cenderung agresif. Tren ini diperkirakan terus berlanjut sepanjang 2015 terkait rencana pemerintah untuk lebih memperketat pasar real estat dengan menerapkan pajak lebih luas di segmen properti.

Sementara itu, menyinggung pasar retail, Ferry mengatakan, tingkat keterisiannya masih stabil pada kuartal I/2015. Sedangkan pertumbuhan suplainya masih didominasi oleh mal-mal di Tangerang dan Bekasi. Alasannya, jumlah populasi di wilayah tersebut lebih tinggi dibandingkan wilayah lain, seperti Bogor dan Depok.

Colliers International Indonesia mengungkapkan untuk perhotelan saat ini masih didominasi oleh hotel bintang empat. Penambahan kamar dari segmen tersebut diperkirakan mencapai 13.000 kamar. Jumlah ini lebih tinggi dibandingkan hotel bintang tiga dan lima. Pada 2015, penambahan kamar dari hotel bintang tiga sebesar 8.000 lebih, sedangkan bintang lima hampir 11.000 kamar. Penambahan kamar pada 2015 di ketiga segmen tersebut juga lebih besar dibandingkan periode 2014. Pada 2014, penambahan kamar di segmen bintang empat sebesar 11.000-an, bintang tiga 5.000-an, dan bintang lima sekitar 9.000-an.

Pada subsektor kawasan industri diketahui bahwa serapan pasar di kawasan industri masih dikuasai oleh sektor costumer goods, yakni sebesar 35,45% disusul food & beverage sebesar 17,22%. Senior Associate Director Industrial Services Colliers International Indonesia Rifan Munansa mengatakan, pertumbuhan kawasan industri masih terpusat di koridor timur Jakarta. Namun, tahun ini ada pengembang yang merupakan anak usaha sebuah perusahaan besar akan mengembangkan kawasan industri di koridor barat. Luas lahan yang akan dikembangkan mencapai 50 hektar.

Berdasarkan catatan jktproperty.com tak sedikit pengembang baru yang masuk ke bisnis lahan kawasan industri. Tahun lalu misalnya, PT Canggih Bersaudara dan PT Danasia [Artha Graha Group] melakukan ekspansi bisnis dengan membangun dan mengembangkan kawasan industri seluas 390 hektar di Karawang Barat. Kawasan industri yang diberi nama Artha Industrial Hills itu diperkirakan menelan investasi Rp1,5 triliun.

Menurut Ketua Umum Himpunan Kawasan Industri Indonesia (HKI) Sanny Iskandar, ekspansi Artha Graha itu akan menambah pasokan lahan kawasan industri tahun ini yang menunjukkan kecenderungan menurun sejak 2011 hinga 2013. Dalam kurun tiga tahun tersebut, pasokan lahan industri yang terserap sekitar 2.300 hektar. “Ada tren melambat karena pasokan terbatas,” katanya

Menurut dia, selama ini pasok lahan industri terserap maksimal oleh perusahaan-perusahaan manufaktur seperti otomotif sebagai penggerak utama kehadiran perusahaan-perusahaan vendor lainnya, barang-barang konsumsi dan elektronik. “Tahun ini kawasan industri yang terserap diperkirakan lebih rendah dibanding tahun lalu yakni sekitar 350 hektar,” tambahnya. (LEO)