Rabu, 12/12/2012

KPR BTN: 36 Tahun Berjasa Merumahkan Rakyat Indonesia

-jktproperty.com
Share on: 1238 Views
KPR BTN: 36 Tahun Berjasa Merumahkan Rakyat Indonesia

JAKARTA: Jutaan orang sudah terbantu memiliki rumah dengan skim KPR. Namun masih belasan juta lagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) yang belum mendapat kesempatan memiliki rumah. Tanpa disangka, KPR yang diluncurkan Bank BTN 36 tahun lalu, kini menjadi tulang punggung bisnis pembiayaan perumahan di Indonesia.

Industri properti telah menjadi lokomotif pertumbuhan ekonomi Indonesia. Namun, kinclongnya kinerja industri properti, terutama perumahan, hanya terjadi karena keberadaan Kredit Pemilikan Rumah (KPR). Sejak lahir 36 tahun silam, KPR BTN telah menjadi piranti konsumen untuk memudahkan sistem pembayaran untuk memiliki rumah layak yang terjangkau. Kehadiran Kredit Pemilikan Rumah tidak dapat dilepaskan dari sejarah keberadaan Bank Tabungan Negara (BTN).

Istilah KPR sudah sangat melekat dengan Bank BTN yang dikenal sebagai bank yang konsisten membantu masyarakat Indonesia untuk memiliki rumah. Bank BTN pertama kali didirikan dengan nama Postspaarbank pada tahun 1934 yang kemudian berganti nama menjadi Bank Tabungan Pos pada tahun 1950 dan pada tahun 1968 namanya berganti menjadi Bank Tabungan Negara.

Pada tahun 1974 Pemerintah mulai dengan rencana pembangunan perumahan nasional. Guna menunjang kebijakan tersebut, Bank BTN ditunjuk sebagai Lembaga Pembiayaan untuk menyiapkan fasilitas KPR untuk masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah. Berdasarkan Surat Menteri Keuangan No. B-49/MK/IV/I/1974 tanggal 29 Januari 1974, lahirlah Kredit Pemilikan Rumah (KPR). Pada 10 Desember 1976, Bank BTN merealisasikan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) untuk pertama kalinya di Indonesia.

Realisasi KPR BTN pertama tersebut terjadi di kota Semarang dengan 9 unit rumah, kemudian Surabaya dengan 8 unit rumah, dan menyusul kota-kota lainnya. Sejak saat itu KPR BTN terus berkembang ke seluruh pelosok tanah air. Hingga 30 September 2012 KPR BTN telah mewujudkan lebih dari 3 juta unit hunian keluarga Indonesia, dengan total kredit lebih dari Rp82 triliun. Bank BTN pun menjadi wadah penyaluran pembiayaan KPR terbesar di Indonesia dengan market share 24,82%.

Tingkatkan Taraf Hidup

Iqal Latanro, Direktur Utama Bank BTN menjelaskan KPR BTN telah memberikan peran dalam meningkatkan taraf hidup masyarakat Indonesia melalui terpenuhinya kebutuhan hunian bagi masyarakat. Ini sekaligus menjawab kebutuhan Pemerintah dalam program pembangunan perumahan nasional. KPR BTN juga ikut mendorong tumbuhnya ekonomi kerakyatan karena pembiayaan perumahan bersentuhan dengan 114 industri padat karya.

Imbas dari berkembangnya bisnis KPR tidak hanya berdampak positif bagi masyarakat sebagai konsumen. Kalangan pengembang juga mengakui bahwa KPR BTN telah menjadi “darah” yang mengalirkan kehidupan bagi bisnis perumahan di segmen menengah ke bawah.

Eddy Ganefo, Ketua Asosiasi Pengembang Perumahan dan Permukiman Seluruh Indonesia (Apersi) mengakui, pengembang kecil bisa berkembang menjadi besar tidak terlepas dari keberadaan KPR BTN. “KPR BTN sangat membantu pengembang dalam menjalankan bisnis, khususnya pengembang yang membangun rumah untuk MBR, karena 95% konsumen MBR membeli rumah dengan cara kredit,” jelas Eddy.

Tak bisa dipungkiri, KPR BTN sangat membantu masyarakat untuk memiliki hunian yang layak, khususnya Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR). Pada dasarnya MBR memang masyarakat yang kurang kemampuannya untuk membeli rumah secara tunai. Bahkan masyarakat menengah dan atas pun banyak yang membeli rumah atau hunian mewah menggunakan KPR.

“Jika KPR tidak ada, dapat dipastikan pertumbuhan bisnis perumahan tidak akan berjalan baik seperti saat ini. Karena walau kebutuhan terhadap rumah besar, namun mereka tidak memiliki uang yang cukup untuk membeli secara tunai,” terang Eddy lagi.

Hanya saja, Eddy menilai Skim KPR perlu terus dikembangkan sehingga bisa dimanfaatkan oleh semua lapisan masyarakat dari berbagai sektor pekerjaan mereka. Sebagai contoh, sambung Eddy, KPR perlu dikembangkan hingga bisa menjangkau masyarakat yang bekerja di sektor non formal.

Selain itu, Eddy mengusulkan, perlu ada skim khusus KPR untuk pekerja tetap yang telah memiliki skim Penambahan Uang Muka (UM), sehingga mereka tidak perlu lagi mengeluarkan UM tambahan. “Dan khusus untuk rumah bersubsidi, sebaiknya tanpa UM atau paling tidak UM-nya diperkecil,” tandas pengembang asal Sumatera Selatan ini.

Demi membantu pekerja informal, sudah saatnya Bank Indonesia (BI) mengeluarkan regulasi yang bisa mengakomodir mereka. Pasalnya, secara de facto, mereka sebenarnya memiliki kemampuan membayar UM dan membayar cicilan KPR. Infrastruktur KPR Besarnya peran KPR dalam membantu masyarakat memiliki hunian kian terasa setelah banyak perbankan lain juga mulai meluncurkan skim kredit di sektor perumahan.

Tidak Khawatir dengan Persaingan

Kendati demikian, Direktur BTN Irman Alvian Zahiruddin menyebut, Bank BTN tak merasa khawatir dengan fenomena banyaknya perbankan yang terjun ke bisnis KPR ini. Masyarakat sebagai konsumen sangat diuntungkan dengan kondisi ini. Demikian juga tentang program perumahan nasional akan menjadi lebih baik jika banyak bank yang terjun pada bisnis KPR.

Pemerintah dapat mengajak perbankan untuk mendukung program tersebut dan itu sangat positif untuk tujuan terpenuhinya backlog kebutuhan rumah selama ini. Irman menambahkan Bank BTN memiliki pangsa pasar sendiri, yang tidak dapat dimasuki oleh bank-bank lain. Dengan kekuatan infrastruktur bisnis yang dimiliki oleh Bank BTN, tidak mustahil jika bank ini akan tetap menjadi penguasa di bisnis pembiayaan perumahan, terutama KPR bersubsidi.

Mahalnya biaya infrastruktur penyaluran KPR menjadi alasan bank lain tak mampu menyamai kiprah BTN di bisnis ini. Salah satu kelebihan BTN dalam bisnis KPR, baik komersial maupun bersubsidi yang ditopang oleh Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP), boleh dibilang sejak awal kiprahnya, seluruh infrastruktur bisnis dan sumber daya manusia di Bank BTN ini dirancang untuk menyalurkan KPR. Oleh karena itu sangat wajar jika Bank BTN mendominasi penyaluran KPR melalui skim FLPP, walaupun pola tersebut sebenarnya juga ditawarkan dengan perlakukan yang sama kepada bank-bank lainnya.

Bank BTN masih tetap menjadi market leader. Ke depan Bank BTN akan terus mencari solusi untuk meningkatkan pelayanan KPR. Sudah ada beberapa opsi akan dilakukan dengan inovasi produk dan dukungan sistem yang ada, yang tujuannya semua itu menjawab persaingan sekaligus untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat.

Di samping itu kami harus tetap mempertahankan posisi sebagai market leader dalam pembiayaan perumahan di Indonesia, tegas Irman mantap. Akhirnya kembali lagi kita dingatkan seperti kata orang tua kita jaman dulu, kalau beli rumah tidak usah muluk-muluk. Tidak usah jauh-jauh. Ingat saja BTN sudah memberikan bukti selama ini telah “merumahkan” jutaan masyarakat Indonesia. (PIT)