Rabu, 09/10/2013

Kinerja Subsektor Perkantoran Kuartal III-2013 Menurun

-jktproperty.com
Share on: 406 Views
Kinerja Subsektor Perkantoran Kuartal III-2013 Menurun

JAKARTA, jktproperty.com – Colliers International Indonesia mencatat terjadinya penurunan kinerja subsektor perkantoran, terutama dari sisi supply selama kuartal III-2013. Dalam publikasinya yang diberi tajuk Jakarta Property Overview Sector Quartal 3rd 2013, Colliers Indonesia mencatat pasok ruang perkantoran hanya 130.000 m2 dengan permintaan mencapai  80.000 m2. Padahal, tahun sebelumnya pasok ruang perkantoran bisa mencapai 400.000 m2.

Menurut Director Office Services Colliers International Indonesia Bagus Adikusumo, tren yang terjadi pada 2013 memang berbeda dengan yang terjadi 1-2 tahun ke belakang. Hingga September 2013 lalu, ruang perkantoran yang terserap hanya seluas 111.000 meter persegi. penurunan permintaan terjadi pada perkantoran di area central business district (CBD) Jakarta. “Penyebabnya tak lain karena harga sewa dan jual sudah terlalu tinggi,” tuturnya.

Untuk perkantoran grade A dan premium, harga sewanya sudah mencapai US$40 (Rp 460.520) hingga US$50 (Rp 575.650) per m2 per bulan di luar biaya perawatan. Sementara perkantoran grade B sekitar US$25 (Rp 287.825)-US$ 35 (Rp 402.955) per m2 per bulan di luar biaya perawatan. “Di luar CBD, dengan harga sebesar itu tenant bisa bisa mendapatkan ruang lebih luas dan gedung yang baru. Sehingga banyak perusahaan yang beralih dan merelokasikan operasionalnya ke perkantoran di koridor TB Simatupang, Pondok Indah atau di luar wilayah keduanya,” katanya.

Namunb, kata dia, perusahaan dengan profil eksposur tinggi seperti finansial, perbankan, jasa konsultasi, asuransi, dan telekomunikasi, serta IT, berkantor di kawasan CBD memang sebuah keharusan. Berbeda dengan perusahaan manufaktur dan sektor riil seperti consumer good dan otomotif. Mereka tidak harus bertahan, dan mulai bertahap pindah ke luar CBD. “Perusahaan perbankan pun hanya kantor pusatnya yang berada di CBD sementara untuk back office justru mulai bertahap menyasar area-area perkantoran baru di ketiga koridor itu. Fenomena relokasi akibat harga sewa tinggi ini sebetulnya sudah terjadi sejak akhir 2011,” katanya.

Sementara itu untuk tren perkantoran ke depan, Associate Director Reasearch Colliers International Indonesia Ferry Salanto mengatakan akan terjadi perlambatan pada 2014-2016. Tantangan lebih berat, tidak saja karena perlambatan pertumbuhan ekonomi makro, dan depreasiasi Rupiah, juga tren politik Pemilihan Umum presiden dan legislatif. “Pada 2014-2016 pasok yang akan masuk pasar juga melebihi pasok 2013. Di CBD saja, akan masuk 1,80 juta m2 pasok baru dalam tiga tahun ke depan. Kondisi aktual, 88% di antaranya sudah dalam tahap konstruksi struktur. Sementara di luar CBD, kami proyeksikan akan bertambah ruang kantor baru seluas 1,18 juta m2 hingga 2016 mendatang,” kata Ferry. (PIT)