Sabtu, 23/02/2013

Kenaikan UMP Turunkan Proyeksi Demand Lahan Industri 2013

-jktproperty.com
Share on: 566 Views
Kenaikan UMP Turunkan Proyeksi Demand Lahan Industri 2013

JAKARTA, jktproperty.com – Meski akan terjadi penambahan pasok lahan kawasan industri (KI) di Jakarta, Bogor, Bekasi dan Karawang (Jabobeka) selama 2013, namun permintaan lahan KI diproyeksikan akan turun seiring dengan kebijakan pemerintah menaikkan upah minimum provinsi (UMP) sebesar 44%.

Survei Properti Komersial Bank Indonesia Triwulan IV-2012 yang dipublikasikan belum lama ini mengungkapkan kenaikan UMP sebesar 44% itu dinilai sangat memberatkan pengusaha yang punya bisnis di KI. “Sebab, sebagian besar pekerja mereka adalah buruh,” demikian diungkapkan survei tersebut.

Maka dari itu, survei BI mengkhawatirkan terjadinya penurunan permintaan lahan KI di kawasan Jabobeka. Padahal, menurut catatan jktproperty.com, sejak awal tahun lalu pengembang lahan KI melakukan ekspansi perluasan lahan KI-nya mengingat tingginya permintaan lahan KI seiring dengan membaiknya kondisi makro perekonomian Indonesia.

Sementara itu, mengenai perkembangan lahan KI selama triwulan IV-2012, BI mencatat ternjadinya penambahan permintaan sewa lahan industri di kawasan Jabobeka sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan penambahan pasokannya. Secara rata-rata, excess demand terhadap lahan industri secara tahunan selama 2012 adalah sekitar 194 hektar.

Jumlah pasokan lahan industri tidak mengalami pergerakan dibandingkan triwulan sebelumnya, yaitu masih tetap 6.771 hektar, yang terdiri dari 5.518 hektar lahan jual dan 1.253 hektar lahan sewa. Sementara itu, tingkat penjualansecara triwulanan mengalami kenaikan dari sebelumnya 75,03% menjadi 77,50%. Penyerapan ini lebih didominasi oleh pembangunan pabrik (plantation) yang membutuhkan lahan besar dibandingkan dengan pembangunan pergudangan yang umumnya hanya membutuhkan sedikit lahan.

Berdasarkan jenis industri, penyerapan pada triwulan IV-2012 didominasi perusahaan yang bergerak di bidang farmasi, otomotif, elektronik, bahan bangunan, kertas dan baja.

Harga jual lahan industri terus mengalami peningkatan pada triwulan IV-2012 dengan rata-rata kenaikan harga jual mencapai 7,26% (qtq). Rata-rata harga jual lahan industri di wilayah Jabobeka mencapai Rp2.164.952/m2. Untuk wilayah Jakarta, harga lahan industri rata-rata sebesar Rp3.804.000/m2, sedangkan untuk wilayah Bogor, Bekasi dan Karawang harga jual rata-rata sebesar Rp1.838.199/m2.

Harga Sewa Pabrik Naik

Harga sewa gedung pabrik standar dan gudang di Jabobeka pada triwulan IV-2012 juga mengalami kenaikan hingga 6,34% (qtq), dimana rata-rata hargasewa mencapai Rp45.046/m2/bulan, atau Rp46.123/m2/bulan secara gross. Kenaikan harga sewa yang terjadi di kawasan industri Jakarta rata-rata mencapai 3,26%. Sementara kenaikan yang terjadi pada lahan industri di Bogor, Bekasi dan Karawang lebih signifikan, yaitu mencapai 7,14%.

Masih ingginya permintaan dan harga lahan industri di Jabobeka menjadi faktor penyebab meningkatnya harga sewa lahan industri. Kesediaan lahan yang terbatas untuk menampung tingginya permintaan dari para calon penyewa membuat para pengelola serta pemilik lahan industri di kawasan Bogor, Bekasi dan Karawang menaikkan harga sewanya.

Selain tingginya tingkat permintaan, harga lahan yang tinggi juga turut menjadi salah satu faktor yang menyebabkan peningkatan harga sewa lahan dan gedung/gudang.

Lahan KI Banten

Survei Properti Komersial Bank Indonesia juga menyoroti perkembangan yang terjadi pada kawasan industri di Banten. Di Banten jumlah pasokan lahan industri terlihat belum mengalami perubahan dibandingkan triwulan sebelumnya, yaitu tetap seluas 5.418 hektar.

Namun yang patut dicatat adalah tingkat penjualan yang naik dari 73,46% menjadi 75,67%, diikuti dengan kenaikan harga jual sebesar 19,05% (qtq) menjadi sebesar Rp1.095.692/m2.

Profil perusahaan yang menyerap lahan industri di Banten umumnya adalah industri bahan bangunan, consumer goods, bahan kimia dan bahan baja. (GUN)