Jumat, 13/03/2015

Kenaikan Harga Rumah Mewah di Bali Tertinggi Ketiga di Dunia

-jktproperty.com
Share on: 1710 Views
Kenaikan Harga Rumah Mewah di Bali Tertinggi Ketiga di Dunia
Ilustrasi
RUMAH MEWAH: Dalam Prime International Residential Index (PIRI) 2015 Knight Frank memeringkat 100 lokasi hunian mewah dan pasar sekunder. Kota New York di AS berada di posisi pertama dengan kenaikan harga rumah mewah mencapai 18,8% disusul Aspen (16,0%) dan Bali di posisi ketiga dengan persentase kenaikan 15,0%.

JAKARTA, jktproperty.com – Konsultan properti Knight Frank dalam The Wealth Report 2015 yang dipublikasikan belum lama ini menempatkan Bali dalam peringkat ketiga sebagai lokasi yang kenaikan harga rumah mewahnya tertinggi di dunia.

Dalam Prime International Residential Index (PIRI) 2015 Knight Frank memeringkat 100 lokasi hunian mewah dan pasar sekunder. Kota New York di AS berada di posisi pertama dengan kenaikan harga rumah mewah mencapai 18,8% disusul Aspen (16,0%) dan Bali di posisi ketiga dengan persentase kenaikan 15,0%. Sementara itu, Jakarta yang selama dua tahun terakhir berada di puncak, kali ini turun ke posisi ke-12 dengan kenaikan rata-rata 11,2%.

Setelah Bali berturut-turut adalah Istambul (15,0%), Abu Dhabi (14,7%), San Francisco (14,3%), Dublin (13,4%), Cape Town (13,2%), Muscat (13,2%) dan Los Angeles (13,0%). Amerika Serikat yang diwakili empat kota, mendominasi 10 peringkat teratas pertumbuhan harga hunian mewah tahun ini. Sementara Asia yang tahun lalu diwakili empat lokasi di 10 besar, kini hanya diwakili Bali.

Tahun ini Beijing dan Guangzhou, yang sebelumnya berada di 10 besar, merosot ke peringkat tengah di 100 besar. Sementara, Singapura ambruk hampir ke dasar peringkat PIRI (urutan 98). Menurut Nicholas Holt, Kepala Riset Knight Frank Asia Pasifik, pertumbuhan Asia melambat karena berbagai alasan. Kebijakan makro terkait pembatasan pasar perumahan telah memberi dampak.

“Hal ini terlihat terutama di Hong Kong dan Singapura, dimana pertumbuhan pasar terus melemah. Kebijakan pemerintah yang bertujuan untuk membatasi kenaikan harga melalui pajak yang tinggi dan intervensi pasar kredit perumahan,” katanya. (LEO)

thepiri_100