Rabu, 20/02/2013

Kenaikan Harga Rumah Diproyeksikan Bakal Lambat di 2013

-jktproperty.com
Share on: 475 Views
Kenaikan Harga Rumah Diproyeksikan Bakal Lambat di 2013

JAKARTA, jktproperty.com – Survei Harga Properti Residensial (SHPR) yang dilakukan Bank Indonesia memproyeksikan harga properti residensial (rumah) selama triwulan I-2013 akan menghadapi tekanan kenaikan dan melaju lamban.

Berdasarkan perkiraan responden, secara triwulanan (qtq), kenaikan indeks harga properti diperkirakan melambat, yakni sebesar 1,21%, dengan kenaikan harga tertinggi diperkirakan terjadi pada rumah tipe kecil (1,87%). Sementara itu, berdasarkan wilayah, kenaikan paling tinggi diperkirakan terjadi di wilayah Makasar (4,74%).

Secara tahunan (yoy), kenaikan harga properti residensial pada triwulan I-2013 diperkirakan mengalami peningkatan dibanding triwulan yang sama tahun sebelumnya yaitu sebesar 7,40%. Sementara berdasarkan wilayah, kenaikan harga paling tinggi diperkirakan terjadi di wilayah Makasar (15,60%). Kenaikan harga properti residensial yang meningkat juga diperkirakan terjadi di wilayah Palembang (10,57%).

Sementara itu, dari sisi permintaan dan penawaran, properti residensial pada triwulan I-2013 di 14 kota besar diperkirakan cenderung tetap. Sebagian besar responden menyatakan bahwa dibandingkan dengan triwulan sebelumnya, permintaan dan penawaran properti residensial di 14 kota cenderung tetap.

Sementara itu, sebagian besar responden berpendapat bahwa faktor utama yang dapat menghambat pertumbuhan bisnis properti adalah kenaikan harga bahan bangunan (19,39%), tingginya suku bunga KPR (18,40%), uang muka rumah (16,32%) serta perijiinan (15,63%). Berdasarkan lokasi proyek, suku bunga tertinggi KPR adalah Kalimantan Barat (12,40%) sedangkan suku bunga KPR terendah berada di Kepulauan Bangka Belitung (8,20%).

SHPR merupakan survei triwulanan yang dilaksanakan sejak triwulan I-1999 terhadap sampel pengembang proyek perumahan (developer) di 12 kota yaitu Medan, Padang, Palembang, Bandar Lampung, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, Denpasar, Banjarmasin, Manado, dan Makassar. Wilayah Jabotabek mulai disurvei dan sekaligus digabung dalam Indeks Harga Properti Residensial (IHPR) pada triwulan I-2002. Dan pada triwulan 1-2004 ditambah 1 kota lagi yaitu Pontianak sehingga seluruhnya ada 14 kota. Sejak tahun 2007, SHPR di wilayah Jabotabek diperluas dengan mencakup daerah Banten (Serang dan Cilegon).

Jumlah responden mencakup 45 pengembang utama di wilayah Jabodebek-Banten, dan sekitar 215 pengembang di 13 Kantor Bank Indonesia (KBI). Pengumpulan data dilakukan secara langsung (face to face) mencakup data harga jual rumah, jumlah unit rumah yang dibangun dan dijual pada triwulan bersangkutan serta prakiraan harga jual rumah dalam triwulan berikutnya. Pengolahan data dilakukan dengan metode rata-rata sederhana atas harga rumah pada tiap tipe bangunan rumah, yang terdiri dari tipe kecil (luas bangunan s.d 36m2) , tipe menengah (luas bangunan >36m2 s.d 70m2) dan tipe besar (luas bangunan > 70m2), selanjutnya Indeks Harga Properti Residensial (IHPR) dihitung dengan metode indeks berantai sederhana yang dibobot berdasarkan bobot kota. (LEO)