Senin, 19/03/2012

Kenaikan DP KPR untuk Cegah Bubble Properti

-jktproperty.com
Share on: 497 Views
Kenaikan DP KPR untuk Cegah Bubble Properti

JAKARTA: Keputusan Bank Indonesia menetapkan Kredit Kepemilikan Rumah (KPR) dengan loan to value (LTV) 70%, semata-mata untuk langkah mengantisipasi bubble di sektor properti. “Gelembung [bubble] di sektor properti memang belum terjadi, tapi kami melihat perlu dilakukan antisipasi terjadinya bubble dengan menetapkan LTV dan DP supaya bank bisa lebih berhati-hati dalam memberikan kredit di kedua sektor itu,” kata Filianingsih, Kepala Biro Penelitian dan Pengaturan Perbankan BI.

Di negara lain, demikian Filianingsih, penetapan LTV bukan barang baru.Dia mencontohkan Singapura yang menurunkan LTV dari 90% menjadi 70% akibat kenaikan harga rumah sebesar 5,4% hanya dalam satu kuartal. Kemudian Hong Kong, pada 2009 juga menerapkan kebijakan serupa karena pembelian rumah mewah meningkat, dan terjadi penurunan suku bunga. Pemerintah Hong Kong saat itu mengeluarkan keputusan untuk menurunkan LTV untuk apartemen menengah atas menjadi 50%.

“Ini tindakan antisipasi supaya tidak terjadi bubble. BI mengharapkan masyarakat yang mau kredit rumah melalui fasilitas KPR jangan hanya mampu membayar DP-nya, tetapi harus dipikirkan untuk membayar cicilan per bulannya.”

Dia mengatakan sekarang ini terjadi tren peningkatan harga properti. Pertumbuhan harga tertinggi, yakni hampir 20% terjadi pada 2002, 2003, 2006 dan kuartal III-2007. Dari historical trend terlihat bahwa terdapat keterkaitan yang erat antara kenaikan kredit dengan kenaikan harga properti. Sedangkan pada 2011, angka kredit bermasalah di sektor perumahan menunjukkan penurunan cukup berarti, yakni hanya 1,8%. Tapi pada Januari 2012 NPL perbankan untuk kredit perumahan mengalami peningkatan hingga menjadi 2,12%.

Lebih lanjut Filianingsih mengatakan pertumbuhan KPR saat ini sudah berada di atas rata-rata kredit nasional. Berdasarkan data BI per Januari 2012 KPR tumbuh sebesar 43,04%, sementara pertumbuhan kredit nasional secara keseluruhan sebesar 23,72%.

BI sebelumnya memang telah menetapkan LTV bank dalam memberikan kredit sebesar 70% untuk rumah tipe 70 ke atas. Dengan penetapan itu, nasabah yang mengajukan KPR untuk rumah tipe 70 ke atas harus menyediakan uang muka sebesar 30%. Penetapan itu ditempuh BI karena berdasarkan tipe, mayoritas kredit properti ditujukan untuk KPR rumah tipe 22 hingga tipe 70 yang pangsa pasarnya tahun 2011 mencapai 43,87% atau senilai Rp88,8 triliun. Kemudian diikuti rumah tipe di atas 70 dengan pangsa pasar 31% atau dengan KPR senilai Rp62,7 triliun. Sementara kredit kepemilikan apartemen (KPA) dan ruko secara keseluruhan kurang lebih mencapai 10% dari total kredit properti.

Sebelumnya Gubernur BI Darmin Nasution menilai pertumbuhan kredit, khususnya di sektor properti tumbuh terlalu cepat. Jika diimbangi dengan pertumbuhan ekonomi yang cepat maka berpotensi mennyebabkan bubble di sektor properti. Dengan kondisi perekonomian Indonesia saat ini, di mana kapasitas pertumbuhan ekonomi masih berada di 6,5% sehingga inflasi dapat berkembang dengan cepat maka ada potensi bubble di sektor tersebut. “Di sisi lain, kalau infrastruktur meningkat juga belum tentu terjadi bubble. Namun kita harus waspada, apakah sektor tertentu tidak akan tumbuh terlalu cepat,” ujar Darmin di awal tahun. (SIN)